Terkadang Kemiskinan Itu adalah Nikmat, Ini Penjelasannya

Riyadi Akmal, Jurnalis · Senin 20 Juli 2020 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 20 330 2249256 terkadang-kemiskinan-itu-adalah-nikmat-ini-penjelasannya-2q7UXeA99f.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SETIAP manusia selalu mengidamkan kehidupan yang serba-berkecukupan. Segala yang diinginkan dapat terpenuhi, memimpikan hidup bergelimbang harta. Saking banyaknya harta, mereka tidak tahu cara menghabiskannya. Namun banyak juga orang yang miskin, tidak memiliki apa pun, sampai-sampai untuk makan sehari-hari tidak bisa.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira bagi kaum Muslimin agar selalu bersabar dengan kondisi saat ini. Bahwasanya terkadang kemiskinan itu ternyata adalah nikmat. Zahirnya memang musibah, tapi bisa menjadi nikmat.

Baca juga: Fatimah Azzahra dan Nasihat Rumah Tangga dari Rasulullah 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Artinya: "Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun." (HR Ibnu Majah Nomor 4122 dan Tirmidzi Nomor 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)

"Dijelaskan, yang miskin bisa lebih dulu masuk surga daripada si kaya karena si miskin tidak memiliki harta apa-apa. Apa yang hendak dihisab dari hartanya, karena ia tak memiliki harta? Beda dengan si kaya, rumahnya makin banyak, mobilnya makin banyak, kemudian emas dan peraknya banyak, bangunannya banyak, sehingga hisabnya pun panjang yang membuat si kaya tertunda untuk segera masuk surga," ungkap Ustadz Dr Firanda Andirja Abidin, ulama lulusan Universitas Islam Madinah, dikutip dari akun resmi Instagram-nya @firanda_andirja_official, Senin (20/7/2020).

Ia melanjutkan, adapun si miskin dengan kehidupan yang pas-pasan, tidak ada yang bisa dihisab. Bukan berarti orang kaya tidak boleh dihisab lebih dulu. Meskipun bisa, mungkin pahala mereka sama dengan si miskin. Nanti derajatnya sama di surga atau si kaya ternyata pahalanya lebih banyak karena sering bersedekah dan selanjutnya membantu yang orang miskin, dan yang lainnya mungkin derajatnya lebih tinggi. Tetapi dari sisi mana pun yang lebih dulu masuk surga adalah si miskin lebih dulu, dan inilah rahmat Allah Subhanahu wa ta'ala.

"Kata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatwa menjelaskan, kenapa harus si miskin dulu yang dihisab? Karena si miskin ini harus lebih dahulu untuk merasakan kenikmatan. Si kaya sudah merasakan kenikmatan di dunia, sudah lama dia menikmatinya, puluhan tahun dalam kenikmatan dunia. Tapi si miskin hidup susah, maka orang ini mendapatkan kelebihan dengan rahmat Allah Subhanahu wa ta'ala lebih dahulu untuk merasakan kenikmatan di surga," jelas Ustadz Firanda.

Ia juga menerangkan bahwa orang yang pertama kali mendatangi telaga Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah kalangan fuqara muhajirin. Mereka itu adalah orang-orang yang penampilannya semrawut karena saking miskinnya.

"Tapi ternyata mereka adalah orang-orang yang pertama kali minum dari telaga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kenapa mereka? Karena mereka harus segera diberikan kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala di hari kiamat," tegasnya.

Baca juga: 6 Tips agar Olahraga Bersepeda Jadi Berpahala 

Ustadz Firanda melanjutkan, oleh karena itu jika ditakdirkan dengan kondisi yang mungkin kurang disukai, hidup pas-pasan atau kekurangan, hendaknya senantiasa husnuzan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Allah Ta'ala lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Manusia boleh berusaha, tapi yang lebih paham dan tahu yang terbaik bagi manusia adalah hanyalah Allah Subhanahu wa ta'ala.

Allah Subhanahu wa ta'ala lebih mengetahui tentang kemaslahatan sang hamba daripada hamba itu sendiri. Lalu mesti diingat, kehidupan ini sementara.

Ilustrasi sedekah. (Foto: Istimewa)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ustadz Firanda juga menceritakan, ketika Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam melihat para sahabat menggali khondak dalam kondisi kelaparan, ketika itu musim dingin, dikatakanlah kepada mereka:

"Sesungguhnya tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat. Kehidupan di dunia yang seperti ini mungkin penuh dengan kesengsaraan, maka ini hanyalah sementara, sebentar, dan segera menghilang, makanya dikatakan dalam bahasa Arab dunia yaitu dunub artinya 'dekat'. Kalau kita punya kenikmatan, nikmat tersebut akan segera dekat. Hilangnya kalau kita dalam kehidupan sulit, kesulitan tersebut akan hilang dengan cepat, dan kita akan masuk kehidupan yang baru yang abadi yang tiada pengujungnya yaitu kehidupan akhirat," papar Ustadz Firanda.

Wallahu a'lam.

Baca juga: Yuk Simak Hukum dan Waktu yang Tepat dalam Berkurban 

Ilustrasi sedekah. (Foto: Freepik)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya