Dua Larangan dalam Pemanfaatan Hasil Kurban, Apa Saja?

Rifky Maulana Husain, Jurnalis · Selasa 28 Juli 2020 14:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 28 330 2253324 dua-larangan-dalam-pemanfaatan-hasil-kurban-apa-saja-gWMyKZYLcy.jpg Ilustrasi (Okezone)

HARI Raya Idul Adha adalah jadi momentum membuktikan ketakwaan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW tiap Idul Adha menyembelih hingga puluhan ekor kambingnya sebagai kurban, lalu dagingnya dibagikan ke fakir miskin dan sebagian dimakan sendiri.

Nah, Idul Adha 1441 Hijriah jadi waktu yang tepat bagi kamu mengikuti apa yang dilakukan Nabi yakni berkurban. Tapi, pahami juga larangan-larangan dalam pemanfaatan hasil sembelihan hewan kurban, setidaknya ada dua sebagaimana dikutip dari Muslim.or.id:

1. Larangan untuk menjual hewan kurban.

Dilarang untuk menjual kulit, wol, rambut, daging, tulang dan bagian lainnya dari hasil sembelih hewan kurban.

Dalil terlarangnya hal ini adalah hadits Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْىِ وَالأَضَاحِىِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا

“Janganlah menjual hewan hasil sembelihan hadyu dan sembelian udh-hiyah (kurban).Tetapi makanlah, bersedekahlah, dan gunakanlah kulitnya untuk bersenang-senang, namun jangan kamu menjualnya.” Hadits ini adalah hadits yang dha’if (lemah).

Di dalam tradisi penyembelihan hewan kurban sering sekali yang namanya menjual kulit daripada hewan hasil penyembelihan hewan kurban.

Baca juga: Berkurban, Pengobat Rindu ke Baitullah yang Tertunda

Adapun hadits Rasulullah yang melarang menjual kulit dari hewan hasil sembelihan adalah:

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan kurban, maka tidak ada kurban baginya.” Maksudnya, ibadah qurbannya tidak ada nilainya.

2. Larangan memberikan upah kepada penjagal hewan kurban

Dalil dari hal ini adalah riwayat yang disebutkan oleh ‘Ali bin Abi Thalib,

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا 

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta kurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”

Dari hadits ini, An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan kurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, juga menjadi pendapat Atha’, An Nakha’i, Imam Malik, Imam Ahmad dan Ishaq.”

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini