Ini Lho Romantis yang Benar dalam Islam, Pastinya Halal

Riyadi Akmal, Jurnalis · Senin 10 Agustus 2020 15:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 10 330 2259849 ini-lho-romantis-yang-benar-dalam-islam-pastinya-halal-LM9wgdOoPS.jpg Ilustrasi pernikahan yang membuat romantis menjadi halal. (Foto: Freepik)

MENIKAH adalah menjalankan ibadah yang diperintahkan Allah Subhanahu wa ta'ala. Dalam Islam, menikah merupakan cara untuk menyempurnakan ibadah seorang Muslim.

Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

"Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya." (HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Disahihkan oleh Syekh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah nomor 625)

Baca juga: Tinggalkan Debat meski Benar, Merendahlah karena Allah Ta'ala 

"Orang yang sudah menikah dibebaskan untuk melakukan apa pun dengan pasangannya, karena mereka sudah menjadi pasangan yang sah dan halal. Misalnya seorang suami mencintai istrinya, istri boleh mencintai suaminya, tapi tidak boleh mencintainya melebihi cinta kepada Rasul-Nya. Misalnya waktu sholat ditahan enggak usah sholat dulu, atau sholat dinanti-nanti karena ingin berduaan. Ini tidak boleh," ungkap Ustadz Dr Khalid Basalamah, dikutip dari akun Instagram @khalidbasalamahofficial, Senin (10/8/2020).

Ia menjelaskan, Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan harus mendahului sholat. Jika sayang dengan pasangan suami atau istri, sebaiknya membangunkan.

Hal ini sebagaimana riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : (( رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى وَأيْقَظَ امْرَأَتَهُ ، فَإنْ أبَتْ نَضَحَ في وَجْهِهَا المَاءَ ، رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَصَلَّتْ وَأيْقَظَتْ زَوْجَهَا ، فَإن أبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ المَاءَ )) رواه أَبُو داود بإسناد صحيح

"Allah merahmati seorang lelaki yang bangun pada malam hari, lalu ia sholat dan membangunkan istrinya. Jika istrinya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya. Allah merahmati seorang perempuan yang bangun pada malam hari, lalu ia sholat dan membangunkan suaminya. Jika suaminya menolak, ia memercikkan air pada wajahnya." (HR Abu Daud, sanadnya sahih; Abu Daud nomor 1308, 1450; An-Nasai 3: 205; Ibnu Majah nomor 1339; Ahmad 2:250, 436. Syekh Salim bin ‘Ied Al Hilaly mengatakan hadis ini hasan)

Baca juga: Diberi Tumpukan Sampah, Ini Jawaban Bijak Nabi Muhammad 

"Kalau suami cinta kepada istrinya maka bangunkan. Kalau istrinya menolak bangun sholat bersama, maka percikkan air di wajahnya agar istrinya bangun. Romantis dalam Islam dilakukan saat beribadah berdua," papar Ustadz Khalid Basalamah.

Ia menceritakan, romantis adalah mengucapkan sayang atau cinta kepada istri atau suami di dalam kamar yang privasi. Tidak di depan umum, tidak dilihat orang lain, hanya antara suami-istri dan Allah Subhanahu wa ta'ala Yang Maha-Melihat.

"Itu keromantisan. Jika diperlihatkan kepada orang lain, itu buka keromantisan. Makanya banyak orang salah paham dengan poin ini," jelas Ustadz Khalid Basalamah.

Baca juga: Doa Mengalir atas Wafatnya Ayah Ustadz Khalid Basalamah karena Covid-19 

Ia melanjutkan, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah jalan bergandengan tangan dengan istrinya, itu bukan berarti tidak romantis. Bahkan istri Nabi sering jalan di belakang dan di sebelah.

Bukan tidak boleh bergandengan, tapi yang dianggap bergandengan di jalan ini adalah sesuatu yang tidak romantis. Ini adalah pemahaman yang salah. Kecuali bergandengan di tempat yang tidak terlihat.

Baca juga: Ini Alasan Pentingnya Mengajarkan Tauhid pada Anak Sejak Dini 

"Kita sebagai Muslim harus paham ini. Romantis dapat dilakukan oleh sepasang suami-istri yang sudah terikat pernikahan. Romantis itu bukan harus dilihat oleh banyak orang, akan tetapi dikatakan romantis jika hanya dia yang tahu (suami-istri) dan Allah Subhanahu wa ta'ala. Kita harus paham dalam membedakan mana yang halal dan haram," pungkasnya.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini