Menikah Itu Ibadah, kalau Menunda-nunda Begini Efeknya

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Rabu 23 Desember 2020 18:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 23 330 2332797 menikah-itu-ibadah-kalau-menunda-nunda-begini-efeknya-W2Eq5SjcKI.jpg Pernikahan bernilai ibadah membentuk keluarga bahagia. (Foto: Freepix)

JAKARTA - Jika Anda mampu, tetapi belum menikah maka akan luput dari banyak ibadah. Ya, menikah itu adalah ibadah.

Dalam menikah itu terdapat banyak ibadah. Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal dalam pesannya dikutip Kamis (23/12/2020) mengingatkan mengapa menikah itu ibadah.

Baca Juga: Malam Tahun Baru, MUI Ingatkan Muhasabah dan Tobat Nasuha

Maka siapa yang menunda-nunda untuk menikah padahal sudah cukup syarat maka dia sama saja melepas beberapa amalan ibadah.

1. Menahan diri dan pasangan dari terjurumus dalam yang haram.

Dalam hadits, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda:

Dalam hubungan intim salah seorang di antara kalian adalah sedekah.

Baca Juga: Dewan Masjid Indonesia Terus Merajut Misi Perdamaian untuk Afganistan

Para sahabat bertanya, kenapa sampai mendatangi istri saja sudah dinyatakan bersedekah.

Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah akan mendapatkan dosa? Demikianlah halnya jiak hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim, no. 1006)

Sedekah dalam hal ini bisa jadi hukumnya wajib, bisa jadi hukumnya sunah. Apabila seseorang khawatir dirinya berbuat zina, jika ia tidak segera mendatangi istrinya, maka seperti ini dikatakan sedekah wajib. Jika tidak seperti itu, maka masuk sedekah sunah.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

2. Suami mencari nafkah adalah ibadah

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).

Imam Al Bukhari memasukkan hadits ini pada masalah ‘setiap amalan tergantung pada niat’. Ini menunjukkan bahwa mencari nafkah bisa menuai pahala jika diniatkan dengan ikhlas untuk meraih wajah Allah. Namun, jika itu hanya aktivitas harian semata, atau yakin itu hanya sekedar kewajiban suami, belum tentu berbuah pahala.

Besaran nafkah adalah:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”(QS. An-Nisaa’: 19).

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah berkata, “Yang tepat dan lebih benar sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama (baca: jumhur) bahwa nafkah suami pada istri kembali pada kebiasaan masyarakat (kembali pada ‘urf) dan tidak ada besaran tertentu yang ditetapkan oleh syari’at. Nafkah itu berbeda sesuai dengan perbedaan tempat, zaman, keadaan suami istri dan adat yang ada.” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 83)

3. Memiliki keturunan juga jadi jalan ibadah

Anak menjadi jadi aset berharga untuk amal jariyah orang tua.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

4. Menjalankan kewajiban sebagai suami dan istri adalah ibadah

Tugas suami paling utama adalah tanggung jawab pada agama dan nafkah. Tugas istri paling utama adalah patuh pada suami.

Para ulama katakan:

“Siapa yang mengharamkan dirinya dari menikah, maka ia telah menghalangi dirinya dari melakukan banyak ibadah.”

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini