Menara Asmaul Husna Masjid Al Ijtihad Jadi Ikon Kampung Lamakera Flores

Yaomi Suhayatmi, Jurnalis · Jum'at 01 Januari 2021 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 31 614 2336897 menara-asmaul-husna-masjid-al-ijtihad-jadi-ikon-kampung-lamakera-flores-VNisWV3bqL.jpg Kampung Lamakera, Flores, Nusa Tenggara Timur. (Foto: Youmi Suhayatmi)

LAMAKERA – Tidak sulit untuk membedakan perkampungan Lamakera diantara perkampungan lainnya yang ada di sekitar gugusan pulau di Kabupaten Flores Timur.

Dari speed boat atau perahu kayu yang menjadi alat transportasi utama antar pulau di kawasan itu, kita dapat melihat dengan jelas Menara Asmaul Husna yang merupakan bagian dari bangunan Masjid Al Ijtihad di perkampungan ini.

Baca Juga: Kini Zamannya Santri Berwirausaha Lewat Pesantrenpreneur

Kemegahan masjid kebanggaan warga Kampung Lamakera ini semakin terlihat jelas di saat senja mulai berganti malam dengan semarak lampu-lampu yang menghiasinya. Suara adzan terdengar sayup-sayup dari pengera suara, kian menambah suasana syahdu.

Di hari Jumat, bukan hanya kaum pria yang menunaikan ibadah sholat Jumat, tetapi juga kaum perempuan berduyun-duyun berjamaah di masjid, sebuah pemandangan menarik layaknya bisa kita jumpai di kota-kota santri.

Di sekitar masjid, menjumpai rumah-rumah berjejer rapi dengan para pemiliknya yang ramah dan hangat. Para perempuan di kampung ini rata-rata mengenakan hijab hingga menutup dada, bahkan termasuk anak-anak

Baca Juga: Tahun Baru 2020-2021, Lima Cara Bermuhasabah

Kita juga bisa melihat para perempuan membuat jagung titi, makanan khas di daerah ini yang dimasak di atas tungku dengan kayu bakar sebagai bahan bakarnya, sebagian lainnya mencari kayu bakar di kebun atau di atas bukit. Di Lamakera, kita juga bisa menemui dengan mudah beragam jajanan seperti makan dan minuman segar ala kampung.

Sementara, anak-anak bermain di tepi pantai, ada yang bermain perahu dengan menggunakan streo foam seukuran matras tempat tidur, dan anak-anak lainnya bermain bola dengan kaki telanjang ada juga yang lebih memilih berenang sambil menangkap ikan. Terik matahari yang membakar kulit tidak mengganggu keasyikan mereka yang sedang menikmati masa liburan sekolah.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Lamakera adalah nama sebuah perkampungan muslim yang terletak di ujung timur Pulau Solor, perkampungan ini terdiri dari tiga desa yakni Desa Tanah Werang, Watobuku dan Motonwutun yang berada di Kecamatan Solor Timur. Pulau Solor sendiri adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur Pulau Flores. Pulau ini dibatasi oleh Selat Lowotobi di barat, Selat Solor di utara, Selat Lamakera di timur, dan Laut Sawu di bagian selatan.

Nama Lamakera merupakan gabungan dari dua kata yakni Lamak yang berarti piring yang berisi makanan dan Kera wadah atau piring makan yang terbuat dari daun lontar. Ada tujuh suku yang menempati perkampungan ini, yaitu Suku Lawerang, Suku Kukun Onang, Suku Ema Onang, Suku Kiko Onang, Suku Hari Onang, Suku Kampung Lamakera dan yang terakhir Suku Lewokolodo atau Suku Songge. Suku terakhir ini yang datang pertama kali dan membuat perjanjian dengan penduduk asli Tanah Werang terkait pemberian nama Kampung Lamakera dan batas wilayahnya.

Desa Tanah Werang merupakan kampung tua yang memiliki semua wilayah Lamakera. Setelah tibanya orang orang Songge dari daratan tanah Shikka Flores, maka terjadilah perjanjian atau naju bajah, sehingga terbentuklah Kampung Lamakera dan terus berkembang sampai hari ini.

Nilai-nilai tradisi kesukuan seperti eratnya kekerabatan, terutama cara menghormati orang tua atau yang dituakan hingga kini masih melekat di masyarakatnya. Selain dikenal teguh memegang tradisi, masyarakat Lamakera, khususnya para pria juga dikenal sebagai nelayan tangguh yang gagah berani di lautan, mereka dikenal sebagai pemburu beragam jenis ikan dari pari manta hingga ikan paus dengan menggunakan alat tradisional.

Lonely Planet pernah menobatkan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi terbaik di dunia. Tidak heran karena NTT menyimpan banyak keindahan alam yang menawan, namun belum terekspos dengan baik, Lamakera ini misalnya yang begitu memesona. Kampung Lamakera diapiti oleh dua buah tanjung yaitu Tanjung Moton Wutun dan Tanjung Watobuku.

Lamakera bisa dijangkau melalui perahu kayu dari Larantuka, Ibu Kota Kabupaten Flores Timur dengan waktu tempuh sekitar satu jam, atau dari arah Lewoleba, ibu Kabupaten Lembata melalui Wei Werang selama 1 jam dengan perahu kayu kemudian melanjutkan perjalanan dengan perahu kecil sekitar 15 menit menuju dermaga Lamakera. Langit biru dan air laut yang jernih akan memanjakan mata dan telingat sepanjang perjalanan.

Menikmati Lamakera tak lengkap rasanya jika kita tidak menaiki bukit, ada tiga bukit yang mengapit perkampungan nelayan muslim Lamakera yaitu bukit Wai Paa, bukit Kabir dan bukit Nuba. Sementara ini, bukit Kabir telah berubah nama menjadi bukit peradaban Ibrahim Tuan Dasy dengan dibangunnya Komplek Pendidikan Islam, Pusat Pendidikan Peradaban Islam Abd. Syukur Ibrahim Dasy, Tokoh utama penggerak Pendidikan Islam Lamakera sejak 1941.

Dari atas bukit yang berada di belakang perkampungan, kita akan disuguhkan pemandangan cantik sekitar Lamakera, lautan berbatasan dengan langit biru, deretan pulau-pulau yang berdekatan seperti Adonara, Lembata, Alor, dan pulau-pulau kecil di Flores Timur.

Puluhan perahu yang bersandar di sekitar berpadu dengan bukit nan hijau membuat kita merasa betah di tempat ini. Dari atas bukit kita juga akan melihat lebih jelas keindahan Masjid Al Ijtihad yang merupakan ikon Lamakera.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini