Suara Khas Nourin Mohamed Siddiq Membaca Al-Qur'an Bergaya Afrika Banyak Dirindukan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Rabu 10 Februari 2021 14:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 10 330 2359825 suara-khas-nourin-mohamed-siddiq-membaca-al-qur-an-banyak-dirindukan-4Ks3JTpan1.jpg Nourin Mohamed Siddiq. (Foto: Naqa Studio/BBC Indonesia)

JAKARTA- Saat Nourin Mohamed Siddiq membacakan ayat suci Al-Qur'an orang-orang di berbagai negara di penjuru dunia menggambarkan suaranya bernada sedih, penuh penghayatan.

Suara tilawah bergaya Afrika yang unik, yang selama ini didominasi oleh tradisi Timur Tengah. Nah, media sosial pun berperan menyebarluaskan untuk membangkitkan pembacaan Quran atau tilawah bergaya Afrika itu.

Suaranya yang unik itu membuatnya jadi salah satu pembaca Alquran (qari) terpopuler di dunia.

Ketika ia meninggal dunia pada usia 38 tahun akibat kecelakaan mobil di Sudan pada November 2020, kepergiannya itu mengundang duka dari Pakistan hingga Amerika Serikat.

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Puasa Ramadhan 13 April, Lebaran 13 Mei

"Dunia telah kehilangan salah satu (suara) yang terindah di zaman kita," cuit dai kenamaan Imam Omar Suleiman dari Texas di Twitter.

Hind Makki, seorang pendidik antaragama Sudan-Amerika, mengaku kualitas lantunan suara almarhum itu sulit digambarkan dalam kata-kata.

Baca Juga: Qadha Puasa, Ini Beberapa Catatan Penting Sebelum Melaksanakan

"Orang-orang bilang ada kekhasan Afrika walau mereka tidak dapat menggambarkannya secara tepat lewat kata-kata, namun mereka menyukainya," ujar dia.

Bukanlah suatu kebetulan bila lantunan suaranya dibandingkan dengan musik Blues. Menurut sejarawan Sylviane Diouf, lantunan, doa, dan pembacaan dari umat Muslim Afrika Barat yang dulu jadi korban perbudakan, yang suaranya mirip dengan umat Muslim di kawasan Sahel hingga Sudan dan Somalia, bisa jadi telah berkontribusi pada terciptanya "musik orang Afrika-Amerika di kawasan Selatan yang khas sehingga berevolusi menjadi lengkingan dan akhirnya menjadi musik Blues".

Menurut tradisi, Quran dibacakan dengan cara melantun, seperti yang dianjurkan Nabi Muhammad, yang menyatakan bahwa umat harus "menghiasi Quran dengan suaramu".

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Beda Tempat, Beda Pendekatan

Ada kompetisi pembacaan Quran dalam tingkat nasional ataupun internasional. Namun, ada banyak pendekatan dalam membaca Quran.

Pendekatan-pendekatan itu mungkin berbeda dalam nada dan artikulasi sesuai dengan kondisi geografis, kultural, dan historis dalam dunia Muslim, melampaui pusatnya di Timur Tengah.

Tilawah oleh Siddiq dan kepergiannya yang begitu cepat menyebabkan banyak yang memberikan perhatian lebih besar pada gaya Afrika tradisional.

Siddiq belajar tilawah di suatu sekolah pengajian di tempat tinggalnya, desa Al-Farajab, di sebelah barat ibu kota Sudan, Khartoum, pada pertengahan 1990-an.

Baca Juga: Menutup Aurat untuk Perempuan Saat Sholat, Apa Batasannya?

Saat pindah ke Khartoum, dia memimpin salat di sejumlah masjid utama Ibu Kota dan menarik perhatian banyak orang. Ketenarannya menyebar begitu video-videonya diunggah ke YouTube.

Meski pelafalan berskala heptatonik atau tujuh nada populer di Timur Tengah, lantunan dari Siddiq yang berbasis skala pentatonik atau lima nada lazim dipakai di kawasan-kawasan yang mayoritasnya umat Muslim seperti Sahel dan Tanduk Afrika.

"Ini adalah nada dari lingkungan saya dibesarkan, gurun pasir. Kedengarannya seperti [genre musik rakyat Sudan] dobeit," kata Al-Zain Muhammad Ahmad, sesama qari kondang asal Sudan.

"Para qari di wilayah Syam membacakan menurut melodi yang mereka kenal, seperti yang di Mesir, Hijaz, Afrika Utara, dan tempat-tempat lain."

Pandangan ini didukung kalangan ahli musik seperti Michael Frishkoph, profesor musik di University of Alberta di Kanada.

Walau berhati-hati menyangkut penggabungan Afrika sub-Sahara menjadi satu tradisi sonik, dia memastikan bahwa skala pentatonik banyak dipakai di kawasan itu.

"Secara umum, Anda tidak akan menemukan pelafalan pentatonik atau hexatonik [enam nada] di Mesir, sedangkan Anda malah menemukannya di Niger, Sudan, Ghana dan Gambia."

Imam Omar Jabbie dari Olympia, negara bagian Washington, AS, merupakan lulusan Universitas Islam terkemuka di Madinah, Arab Saudi. Dia lahir di Sierra Leone dan pertama kali mengaji Alquran dengan para guru di Senegal dan Ghambia."Itulah di mana saya belajar banyak nada mengaji," jelasnya.

Dalam beberapa dekade terakhir, gaya mengaji ala Timur Tengah mulai mendominasi banyak wilayah di Afrika dan seluruh dunia, terutama di perkotaan.

Para pendengar memiliki akses rekamannya lewat piringan hitam, siaran radio gelombang pendek, tape kaset audio, dan lempengan CD, yang diproduksi dan didistribusikan atau dijual oleh organisasi yang sebagian besar dari Mesir dan Arab Saudi.

Para pelajar yang kembali dari Universitas Al-Azhar Mesir dan Universitas Islam di Madinah, dan berkat lembaga-lembaga amal yang didanai negara-negara Teluk, juga berperan menyebarkan dan mempopulerkan gaya Timur Tengah ini di antara kalangan pembaca Quran dunia, termasuk mereka yang dari Afrika sub-Sahara, bahkan ada beberapa yang unggul dengan pendekatan ini.

Ada beberapa yang melihat lalu menyebarkannya, sebagai sesuatu yang lebih otentik, yang terkadang mengorbankan tradisi lokal.

Namun internet dan, terutama, media sosial telah membawa perhatian baru, terutama dari generasi muda, terhadap suara-suara tradisional.

"Kekuatan-kekuatan demokratisasi media sosial dan teknologi modern telah membawa efek yang bagus bagi kekuatan-kekuatan bersejarah itu," kata Profesor Mbaye Lo, yang meneliti ilmu sosiologi Islam.

Pandangan ini ditegaskan oleh Elebead Elshaifa, Naqa Studio, perusahaan produksi media berbasis di Khartoum yang berdiri pada 2016.

"Media sosial tidak perlu persyararatan seperti stasiun televisi satelit," ujarnya, merujuk pada biaya yang lebih rendah dan pembatasan hukum yang lebih sedikit.

Daya Tarik Global

Ahmad Abdelgader merupakan seorang videografer amatir yang telah merekam pengajian Imam Jabbi untuk dimuat ke akunnya di YouTube sejak 2017.

"Rekaman video terpopuler adalah doa gaya Afrika yang sudah disaksikan dua juta lebih," katanya. "Sebagian besar orang menyaksikannya dari Prancis, di mana banyak umat Muslim Afrika Barat tinggal, diikuti oeh Amerika Serikat."

Rekaman-rekaman video daring itu juga telah membawa perhatian bagi mazhab-mazhab lain pelafalan Alquran, qira'at.

Alquran, bagi umat Muslim, diyakini telah diturunkan menurut tujuh mazhab pelafalan yang sedikit berbeda dalam cara pelantunannya.

Baca Juga: Doa Bercermin Bukan hanya Memohon Kesempurnaan Fisik tapi Juga Akhlak

Di antara mazhab-mazhab itu yang paling dikenal saat ini adalah Hafs, yang diamanatkan oleh Kerajaan Turki Ottoman di wilayah-wilayah yang mereka taklukan dan selanjutnya diajarkan secara luas di institusi-institusi pengajaran dan disebarkan melalui cetakan Alquran yang dibuat di Kairo dan Mekah.

Namun di sejumlah tempat di dunia Muslim, terutama di wilayah pedesaan Afrika, mazhab pelafalan lainnya terus digunakan, seperti al-Duri di Sudan, yang sering dilantunkan Siddiq dalam pengajiannya.

Gaya pengajiannya mengingatkan akan universal dan beragamnya tradisi di kalangan umat Muslim dan bagi banyak pengikut dan pemerhati ada pelajaran yang bisa dipetik.

Saat isi dan huruf Quran sebagian besar telah disetujui, gaya pengajian yang berbeda memberikan sebuah pesan universal melalui "kombinasi yang indah antara suara lokal dan semantik global," jelas Profesor Frishkoph."Itulah nilai kuncinya," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini