Masjid Krenceng Blitar. Didirikan Laskar Diponegoro Sekaligus Tempat Sembunyi Soeprijadi

Solichan Arif, Jurnalis · Senin 19 April 2021 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 614 2396807 masjid-krenceng-blitar-didirikan-laskar-diponegoro-sekaligus-tempat-sembunyi-soeprijadi-Hl75KfLsVx.jpg Masjid Baitul Yaqin di Kabupaten Blitar. (Foto: Solichan Arif)

BLITAR - Masjid Baitul Yaqin di Desa Krenceng, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, didirikan oleh Kiai Hasan Mustaqim. Kiai Hasan atau Mbah Kasan Mustaqim merupakan anggota Laskar Diponegoro asal Begelenan, Jawa Tengah yang paska perang Jawa (1825-1830), lari dikejar Belanda hingga ke Blitar.

Moh Nuh (53), ahli waris sekaligus takmir masjid menyebut, Mbah Kasan mendirikan masjid pada tahun 1861. "Dulu awalnya tidak disini (masjid). Tapi di tanah ledokan (tanah dataran rendah). Karena niatnya diperluas, termasuk karena bencana Gunung Kelud, kemudian dipindah kesini," tutur Nuh kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (18/4/2021).

Dari pernikahan di Desa Krenceng Mbah Kasan Mustaqim dikaruniai 12 putra putri. Salah satunya Saminah. Putri Mbah Kasan tersebut dinikahi Kiai Abdul Yaqin yang juga berasal dari Bagelenan, Jawa Tengah. Abdul Yaqin merupakan putra Yudho Besari, yang kata Nuh juga anggota laskar Diponegoro.

"Selanjutnya yang mengurus masjid adalah Mbah Abdul Yaqin, menantu Mbah Kasan Mustqim. Karenanya, namanya Baitul Yaqin," terang Nuh. Seperti halnya sebagian besar masjid tua di pulau Jawa. Baitul Yaqin juga tidak memperlihatkan wajah timur tengah. Gaya arsitektur yang dipilih condong pada konsep rumah priyayi Jawa.

Baca Juga: Ramadhan 1945 Menu Sahur Bung Karno-Bung Hatta hanya Ada Sarden, Telur dan Roti

Mbah Kasan dan Mbah Abdul Yaqin memadukan antara gaya joglo dan linmas dengan bagian atas berbentuk meru. Yakni bersap sap atau bertingkat yang sekaligus melancip di puncak. Sementara antara ruang utama dan serambi masjid terpasang tiga pintu yang berfungsi sebagai penyekat.

"Seluruh tiyang penyangganya terbuat dari kayu jati lawas," kata Nuh yang juga Mursyid Tarekat Naqsabandiyah. Tiyang penyangga atau soko guru di ruang utama ada delapan buah. Ada juga blandar dengan ukiran beragam simbol, yang Nuh mengaku tidak tahu apa maknanya.

Sementara di serambi masjid soko guru yang ada berjumlah lebih banyak. Yakni 12 buah. "Seluruh soko guru ini masih asli," papar Nuh menjelaskan. Selain sebagai tempat ibadah, di masa Mbah Kasan dan Abdul Yaqin, masjid Baitul Yaqin yang konon usianya setara dengan masjid Jami' Blitar, juga menjadi tempat para santri belajar ilmu agama.

Baca Juga: Waspadai Setan Khinzib, Tugasnya Bikin Orang Sholat Gagal Fokus

Tradisi itu berlanjut hingga ke Mbah Abdullah Siraj, putra Mbah Abdul Yaqin. Mbah Siraj menikah dengan Siti Fatimah dan dikarunia lima anak, yakni salah satunya ayah dari Moh Nuh. "Mbah Siraj adalah kakek saya," papar Nuh. Mbah Siraj termasyur sebagai kiai yang pandai ilmu kanuragan atau kesaktian.

Di era pra kemerdekaan, tidak sedikit pejuang yang berguru kepadanya. Termasuk Syodanco Soeprijadi pemimpin pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar. Sehari usai memberontak, Soeprijadi bersama sejumlah anak buahnya, bahkan sempat beristirahat beberapa jam di rumah Mbah Siraj.

Tempat tinggal tersebut menyatu dengan masjid Baitul Yaqin. Agar tidak mudah terlacak, Soeprijadi disarankan melucuti seragam PETAnya, lalu mengganti dengan pakaian warga sipil. Nuh mengaku mendengar penuturan cerita itu, langsung dari alm Siti Fatimah, istri Mbah Siraj.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

"Soeprijadi sempat beristirahat disini, sebelum akhirnya melanjutkan pelarian ke Gandusari arah, Gunung Kelud," kata Nuh. Kedatangan Soeprijadi di komplek masjid Baitul Yaqin tercium Jepang. Mbah Siraj ditangkap. Karena bertahan menutup mulut, ia disiksa dan dijebloskan tujuh bulan di penjara Blitar.

Sempat dilepas sebentar. Namun akhirnya Jepang kembali menjebloskan Kiai Siraj ke penjara Kalisosok, Surabaya. H-1 Proklamasi Kemerdekaan, Mbah Siraj tutup usia dan dimakamkan di TPU Jarak Surabaya. Pada tahun 2004, melalui upacara militer resmi, jenazah Kiai Siraj dipindah ke Desa Trenceng.

Yakni di belakang Masjid Baitul Yaqin. Di nisannya yang dihiasi plakat bendera merah putih, tertulis pahlawan perintis kemerdekaan. Menurut Nuh, pada pandemi COVID-19 ini, ibadah tetap digelar di masjid Baitul Yaqin. Termasuk salat tarawih.

Terutama pada bulan Rajab dan Suro, para santri jamaah tarekat naqsabandiyah juga tetap melangsungkan kegiatan rutin di masjid Baitul Yaqin. "Namun semua tetap mengedepankan protokol kesehatan," pungkas Nuh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya