Imam Syafii Hormati Nuzulul Quran dengan 60 Kali Mengkhatamkan Al-Quran Saat Ramadhan

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Rabu 28 April 2021 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 28 330 2402183 imam-syafii-hormati-nuzulul-quran-dengan-60-kali-mengkhatamkan-al-quran-saat-ramadhan-0nyszgj6vf.jpg Imam Syafii khatamkan 60 kali Al-Quran saat Ramadhan. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Para ulama terdahulu termasuk Imam Syafii memberi contoh keteladanan  saat memperingati Nuzulul Quran pada 17 Ramadhan.

Bayangkan, Imam Syafii mengkhatamkan Al-Quran hingga 60 kali pada Bulan Ramadhan. Begitulah Imam Syafi'i menghormati bulan Ramadhan sekaligus memperingati Nuzulul Quran. Lantas bagaimana dengan umat saat ini.

Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri mengatakan Imdonesia yang sebagian besar pengikut Imam  Syafi’i, maka inilah keteladanan yang patut dicontoh.  "Beliau, tidak ada pentas seni, pesta makan, akan tetapi seluruh waktu beliau diisi dengan membaca dan mentadaburi Al- Quran," ujar pria lulusan Universitas Islam Madinah ini.

Baca Juga: Cara Nabi Muhammad SAW Peringati Nuzulul Quran

Comtoh lainya yakni  Al Aswab An Nakha’i setiap dua malam menghatamkan Al- Quran. Qatadah As Sadusi, memiliki kebiasaan setiap tujuh hari menghatamkan Al Quran sekali. Akan tetapi bila bulan Ramadhan telah tiba, beliau menghatamkannya setiap tiga malam sekali. "Dan bila telah masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau senantiasa menghatamkannya setiap malam sekali," ujarnya sebagaimana dikutip Muslim or id pada Rabu (28/4/2021)

Demikianlah teladan ulama’ terdahulu dalam memperingati sejarah turunnya Al Qur’an. Tidak ada pesta ria, makan-makan, apa lagi na’uzubillah pentas seni, tari-menari, nyanyi-menyanyi.

Orang-orang seperti merekalah yang dimaksudkan oleh firman Allah Ta’ala: 

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ . الزمر23

Baca Juga: Peristiwa Tanggal 17 Ramadhan, Nuzulul Quran hingga Perang Badar

 “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (Qs. Az Zumar: 23)

Dan oleh firman Allah Ta’ala: 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ. الأنفال 2-4

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rejeki yang Kami berikan kepada mereka, Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rejeki (nikmat) yang mulia.” (Qs. Al Anfaal: 2-4)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Adapun kita, maka hanya kerahmatan Allah-lah yang kita nantikan. Betapa sering kita membaca, mendengar ayat-ayat Al Qur’an, akan tetapi semua itu seakan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Hati terasa kaku, dan keras, sekeras bebatuan. Iman tak kunjung bertambah, bahkan senantiasa terkikis oleh kemaksiatan. Dan kehidupan kita begitu jauh dari dzikir kepada Allah.

Saudaraku! Akankan kita terus menerus mengabadikan keadaan kita yang demikian ini? Mungkinkah kita akan senantiasa puas dengan sikap mendustai diri sendiri? Kita mengaku mencintai dan beriman kepada Al Qur’an, dan selanjutnya kecintaan dan keimanan itu diwujudkan dalam bentuk tarian, nyayian, pesta makan-makan?

"Kapankah kita dapat membuktikan kecintaan dan keimanan kepada Al-Quran dalam bentuk tadarus, mengkaji kandungan, dan mengamalkan nilai-nilainya," katanya dikutip laman pengusahamuslim.

Tidakkah saatnya telah tiba bagi kita untuk mengubah peringatan Al- Quran dari pentas seni menjadi bacaan dan penerapan kandungannya dalam kehidupan nyata?

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya