Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Al-Quran, Kitab Manusia Sepanjang Masa

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 28 Mei 2021 |13:22 WIB
Al-Quran, Kitab Manusia Sepanjang Masa
Kitab Suci Al-Quran. (Foto: Freepix)
A
A
A

Subhanallah, Anda bisa tiba tiba menangis, bila memahami hakikat-hakikat yang tersebunyi di dalamnya, misalnya mengapa kucing bisa memiliki keahlian yang sama saat buang hajat, meski tidak pernah belajar atau bahkan di didik oleh induknya. Mereka pasti sebisa mungkin mencari tempat yang tersembunyi, mengais-ngais, dan menutup kotorannya. Itu namanya insting yang diberikan Allah satu paket dalam ruh kucing. Insting juga diberikan kepada manusia, namanya reflek].; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, [Hanya orang yang takut akan larangan dan taat perintah Allah yang bisa menjadikan Quran sebagai petunjuk dalam kehidupan, mencari dan bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Karena itu tidak mengherankan bila sudah sangat banyak sarjana non-muslim di dunia barat yang mempelajari Quran tidak mendapat hidayah masuk Islam, karena memang tujuannya untuk pengetahuan semata. Sebaliknya ada muallaf yang masuk Islam hanya gara gara mendengar lantunan ayat suci Al Quran, itulah dahsyatnya Quran, maknanya bisa sangat personal sekaligus universal.

Untuk itu, modal utama mempelajari Quran adalah niat yang luhur, untuk mendapatkan ilmu Allah, hanya ini yang dibutuhkan—dimana ada niat disitu ada jalan. Jalan Allah itu mirip adagium demokrasi, yaitu “dari-oleh-dan untuk” Allah Azza Wa Jalla, barang siapa membuat jalan sendiri atau mengandalkan rasio semata, maka itu pasti sesat, pasti jalan setan. Sebab, di dunia ini pilihannya gampang sekali, soalnya pilihan ganda; dari Allah atau dari Iblis. Maka yang memelihara niatnya, Insya Allah dia akan mendapatkannya, karena jalan baik maupun buruk adalah milik Allah SWT, sebab Allah itu meliputi segala sesuatu yang tampak dan yang tidak tampak, yang aktual dan yang potensial. Jadi bersadarlah hanya kepada Allah semata saudaraku.

Mereka-mereka yang belajar Quran untuk tujuan pamer, ilmu hikmah, pesugihan, bahan ceramah, konten media sosial, popularitas juga bisa mendapatkan tujuannya karena memang khasiat Quran itu sangat agung, Jangan heran banyak dukun-dukun yang mengaku ustadz menjadikannya rapal rapal untuk hal-hal jahat, ilmu kebal, guna-guna dan memang terbukti bisa. Quran itu sangat sakti, isinya adalah kata-kata Allah SWT, kalamullah atau word of gods. Dalam perjanjian lama yang ditolak pihak Gereja, yaitu yang bersumber dari kumpulan naskah laut mati, disebutkan bagaimana Nabi Adam AS selalu berkomunikasi dengan Allah SWT melalui word of gods. Nabi Adam AS bahkan diajari cara membuat roti oleh Allah setelah diusir dari surga, bukan istrinya Hawa—jadi tidak heran bila master chef sampai sekarang itu laki-laki, bukan perempuan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Kandungan ilmu Quran itu bak lautan tinta yang tak akan pernah kering. Sebagai teks ia mati, namun maknanya akan terus berkembang sesuai kebutuhan zaman, sampai kiamat. Makanya jawaban ahli hadist, Imam Bukhari saat ditekan penguasa Muktazilah sangat cerdas. Diriwayatkan, salah satu jawaban yang menyelamatkannya dari tiang gantungan saat itu adalah bahwa Quran secara fisik adalah mahluk, yang artinya bisa mati, namun makna Quran itu qadhim, atau abadi sebagaimana sifat Allah SWT. Maknawinya bisa berkembang sesuai kebutuhan khazanah peradaban. Allah sudah berjanji bahwa Dia sendirilah yang akan menjaga Quran, maka disitulah dibutuhkan mufassir setiap zaman.

Bila Allah ingin mencabut Quran dari muka bumi, caranya bukan dengan tiba-tiba menghilangkan cetakan Quran di toko buku, seperti di film film fiksi, melainkan dengan mematikan para mufassir. Tanpa mereka, Quran akan dimaknai sesuai dengan nafsu masing-masing, saya menduga ajaran ISIS, teroris pengebom gereja, polisi adalah contoh bagaimana Al Quran dimaknai secara serampangan, menggunakan hawa nafsu. Bila boleh menjadikan sebuah perumpamaan atas pemaknaan salah ayat-ayat jihad tersebut, ayat-ayat seruan untuk memerangi orang kafir dalam Quran itu oleh mereka ibarat resep obat kuat sebelum menjima’ istrinya—atau dalam bayangan mereka bidadari yang akan menyambut mereka di surga—mereka ini salah baca aturan pakai, seharusnya obat—baca ayat—oles, malah diminum, maka Insya Allah matinya sangit (konyol) bukan sahid.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement