Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Al-Quran, Kitab Manusia Sepanjang Masa

Tim Okezone , Jurnalis-Jum'at, 28 Mei 2021 |13:22 WIB
Al-Quran, Kitab Manusia Sepanjang Masa
Kitab Suci Al-Quran. (Foto: Freepix)
A
A
A

Yang salah bukan ayatnya, tetapi yang membaca, memaknai dan mengamalkannya. Para teroris ini ibarat bayi, mereka terlambat lahir di zaman sekarang, seharusnya lahir zaman nabi, yang memang menyeru jihad perang fisabilillah, karena posisi Islam saat itu sedang terancam. Sekarang, tidak ada lagi penjajahan secara fisik, yang ada penjajahan gagasan, budaya dan lain sebagainya, makanya Nabi mengatakan jihad yang paling besar nilai pahalanya saat ini adalah melawan hawa nafsu sendiri. Disinlah alasan mengapa Allah menyejajarkan para penuntut ilmu sebagai syuhada.

Namun, tidak ada perang bukan berarti ayat tersebut tidak relevan dan harus dihapus, pendapat ini sangat zalim. Salah satu pemaknaan yang sangat tepat atas ayat-ayat jihad pernah dilakukan oleh K.H. Mohammad Hasjim Asy'arie, pendiri Nahdlatul Ulama, saat Indonesia di jajah kompeni Belanda. Beliau menyerukan jihat melawan Belanda dengan asumsi bahwa, bila Belanda menang, maka Islam di Indonesia akan punah. Kita tidak tahu, apakah akan ada perang agama ke depan, tetapi sejauh ini menurut saya yang ada baru sebatas perang atas dasar hawa nafsu politik, atau kekuasaan semata, belum betul betul panggilan Allah SWT.

Untuk itu, diperlukan mufassir yang bisa mengerti apa maksud Allah dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Bila saat ini zaman artificial intelligent, bio-teknologi, zaman cyber, maka mufassirnya juga harus memiliki kemampuan memahami keadaan, sehingga tidak ada jarak antara pemaknaan Al Quran dan kebutuhan umat. Jangan sampai mufassir keteteran dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang semakin pintar. Bekal keahlian mantiq, kepiawaian bahasa arab saja tidak cukup, meski itu adalah alat utama, sebab Quran sudah dengan sangat baik diterjemahkan dalam segala bahasa, namun masih sedikit ditemukan tafsir yang memadai sesuai zaman.

Quran harus terus ditarfsirkan, bila tidak ia akan mati. Mufassir adalah manusia-manusia pilihan Allah untuk bisa menjelaskan makna Quran, salah benar itu biasa dalam tafsir karena ia adalah olah pikiran manusia. Enak sekali pahalanya, salah dapat satu, benar dapat dua. Hanya mufassir dengan pendengaran, penglihatan dan mata batin yang telah disucikan Allah-lah yang bisa menjelaskan Quran secara terang, seterang sinar matahari. Kata kuncinya adalah, haqqul yakin, tidak ada keraguan bagi si pembaca sebagaimana dikatakan Allah dalam ayat ini.]

Catatan: Tulisan ini bukan tafsir, hanya artikel terinspirasi dari terjemahaan dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Kementerian Agama RI.

Oleh: Muhammad Ma’ruf Assyahid

Jurnalis-Santri. Alumnus Ponpes Baitul Mustaqim, Lampung Tengah, Alumni FE Unila- Lampung, Magister UIN Raden Intan Bandar Lampung, Menempuh studi MBA di University of The People, California, AS.

(Vitrianda Hilba Siregar)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement