Inginkan Khotbah Sebagai Sarana Perubahan, Wasathi Tawarkan Kurikulumisasi

Vitrianda Hilba Siregar, Jurnalis · Minggu 01 Agustus 2021 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 614 2449027 inginkan-khotbah-sebagai-sarana-perubahan-wasathi-tawarkan-kurikulumisasi-vVytogurrC.jpg Khotbah sebagai sarana perubahan sosial. (Foto: Ist)

JAKARTA - Apakah khotbah yang selama ini sudah berlangsung di masyarakat setiap pekan sudah mampu mendorong perubahan sosial. Pertanyaan ini diajukan Ketua Pembina Wadah Silaturahmi Khatib Indonesia (WASATHI), KH Arif Fahruddin dalam Sarasehan Khatib Moderat secara virtual dari Aula Masjid Al Ijtihad, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (31/07).

Untuk mengukur apakah ada perubahan atau tidak, dia menyampaikan, perlu ada kurkulumisasi khotbah. Kurikulum ini mengukur apakah khutbah sudah menghasilkan perubahan seperti yang direncanakan atau sekadar rutinitas mingguan untuk ibadah. Padahal, kata dia, posisi khotbah sangat strategis karena diadakan setiap jum’at, dihadiri banyak umat, dan selama berlangsung materinya tidak boleh didebat.

“Sejauh mana pengaruh khotbah Jumat terhadap perubahan perilaku masyarakat? Sejauh pengamatan WASATHI ini belum ada datanya. Kita perlu bersinergi dengan para peneliti untuk melihat bagaimana impact dan dampak khutbah yang selama ini sudah kita lakukan. Karena itu fokus WASATHI khusus di khatib saja, khusus pada khutbah jum’at saja, ” ujarnya.

Baca Juga: Mohammad Ahsan Hidupkan Sunah Nabi di Lapangan Bulu Tangkis Olimpiade Tokyo 2020

Dia menyampaikan, kurikulumisasi ini tidak berarti penyeragaman. Ini tidak lantas khutbah seperti yang di Timur Tengah yang materinya sama dan sudah terjadwal. Kurikulum ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Tujuannya adalah menyamakan langkah gerak demi perubahan besar untuk kemajuan umat.

“Kurikulum itu tidak berarti seragam. Usulan dari WASATHI, negara dan ulama bisa membuat silabus tema besarnya saja. Mengenai kurikulum, itu berbasis budaya dan adat masing-masing daerah. Misalnya, kebutuhan umat di NTB tentu akan berbeda dengan di Aceh maupun NTT, ” ungkapnya.

Baca Juga: Ingat Pesan Rasulullah SAW, Jangan Memaksakan Diri Bekerja di Luar Kemampuan

Dia menambahkan, di masa pandemi seperti ini, fungsi Masjid dan khutbah sangat penting untuk menjadi sarana perubahan perubahan sosial dan keselamatan bangsa. Beredarnya opini-opini antimainstream yang meresahkan umat belakangan ini berbahaya di dalam kondisi seperti sekarang ini. Kehadiran kurikulum khutbah ini akan menjadi titik pertemuan ideal antara ulama dan umara.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, KH Syaeful Bahri menyampaikan, kurikulum khutbah ini bisa memberikan pemahaman kepada khatib secara lebih menyeluruh. Nantinya khutbah bisa menjadi corong untuk mengatasi pandemi.

“Khatib harus memberikan pemahaman dalam Dakwah nya untuk mengimplementasikan nilai kebangsaan. Termasuk mensosialisasikan program-program keagamaan unggulan terutama untuk Menanggulangi pandemi Covid-19 yang saat ini sedang melanda dunia, ” ujarnya. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(Vitri)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya