Jenderal Soedirman, Pejuang Kemerdekaan Hasil Didikan Organisasi Islam Muhammadiyah

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 08:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 614 2456669 jenderal-soedirman-pejuang-kemerdekaan-hasil-didikan-organisasi-islam-muhammadiyah-FltBYEhNgv.jpg Patung Panglima Besar Jenderal Soedirman. (Foto: Heru Haryono/Okezone)

PADA hari ini, Selasa 17 Agustus 2021, bertepatan dengan momen 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Banyak jasa para pahlawan hingga akhirnya Tanah Air bisa bebas merdeka seperti sekarang. Salah satunya adalah Jenderal Soedirman.

Jenderal Soedirman diangkat menjadi PanglimaTentara Nasional Indonesia (TNI) oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 27 Juni 1947 atau 74 tahun silam. Jenderal Besar Raden Soedirman adalah seorang perwira tinggi pada masa revolusi nasional Indonesia. Sebagai panglima besar TNI pertama, sosok Soedirman sangat dihormati.

Baca juga: Jenderal Soedirman Saat Pimpin Perang Gerilya dalam Kondisi Sakit Tak Pernah Menunda Sholat 

Pria yang lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916 itu merintis karier militer di salah satu bentukan Jepang dahulu yakni Pembela Tanah Air (PETA). Di situlah ia digembleng keperwiraannya hingga menjadi satu-satunya jenderal bintang lima di Indonesia.

Sebagaimana telah Okezone rangkum, Jenderal Soedirman disebut mempunyai kharisma dan wibawa tersendiri. Kepribadiannya ini setidaknya tidak saat merintis karier di PETA dimilikinya.

Panglima Besar Jenderal Sudirman. (Foto : Wikipedia)

Soedirman kecil diasuh dan diangkat anak Wedana (Camat) Rembang Raden Tjokrosoenarjo. Saat itulah sejak menjadi anak angkat Asisten Wedana, ia bisa bersekolah yang hanya bisa dinikmati anak-anak priyai Jawa yaitu Hollandsche Inlandsche School (HIS).

Sebagaimana dalam buku 'Sang Komandan' karya Petrik Matanasi, setelah lulus dari HIS, Soedirman kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Taman Siswa dan Hollandsche Indische Kweekschool (HIK) Muhammadiyah Solo. Tetapi dia tidak sampai lulus akibat terkendala biaya.

Soedirman sangat aktif dalam berbagai kegiatan sejak duduk di bangku sekolah, termasuk sebagai pengurus Kepanduan Hizbul Wathan (HW) yang dijalankan oleh Organisasi Islam Muhammadiyah.

Baca juga: Kisah Ustadz Adi Hidayat Ajarkan Pancasila ke Penjual Bendera 

Dahulu ia sempat menjadi guru di Wirotomo saat berusia 20 tahun dan pernah sebagai kepala sekolah. Soedirman juga pernah menjadi tokoh Pemuda Muhammadiyah dan memimpin Hizbul Wathan Cabang Cilacap.

Soedirman tetap mengabdi menjadi guru dan aktif di Muhammadiyah meskipun gaji yang didapatkanya hanya 12,5 golden. Alhasil dari situlah kewibawaan dan kharismanya terbentuk.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Sejak muda ia sudah aktif di Hizbul Wathan dan menjadi kader. Di situlah dirinya militansinya ditempa dan sudah mulai tertanam nilai-nulai cintah Tanah Air.

Namun demikian, situasi berubah usai Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati 1942. Saat Jepang membuka PETA, Soedirman mulai tertarik dengan militer.

Baca juga: Kisah Kiai Subchi Ulama Pejuang Memberikan Kekuatan pada Bambu Runcing 

Berlatar belakang kepala sekolah, Soedirman akhirnya bisa sekolah perwira di PETA Bogor. Berkat pendidikan keras di sekolah perwira PETA di Bogor, lahirlah "Soedirman baru" yang sudah mengerti betul sejumlah metode-metode perang ala Jepang dan menjadi komandan Daidan (Batalion) di Kroya, Cilacap.

Akan tetapi, PETA dibubarkan seiring menyerahnya Jepang pada sekutu. Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, Soedirman meleburkan diri ke Badan Keamanan Rakyat (BKR, cikal bakal TKR/TNI) di Banyumas dengan pangkat kolonel.

Panglima Besar Jenderal Soedirman. (Foto : Wikipedia)

Torehan prestasi pertamanya adalah salah satu perwira tentara republik adalah sanggup mengklaim sejumlah senjata Jepang setelah melakukan pelucutan tanpa pertumpahan darah di Banyumas. Pelucutan damai yang termasuk jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan beberapa tempat lain dengan cara kekerasan.

Kemudian nama Soedirman makin meroket pasca-Pertempuran Ambarawa pada 12–15 Desember 1945. Walaupun bekas dididik di kemiliteran PETA bentukan Jepang, dia tak serta-merta selalu menggunakan taktik Jepang.

Baca juga: 76 Tahun Kemerdekaan RI, Ini Nasionalisme Menurut Ajaran Islam 

Dalam Pertempuran Ambarawa menghajar Inggris, Soedirman mengombinasikan taktik modern dengan taktik klasik Kerajaan Majapahit. Jadilah dia menggagas taktik "Supit Urang". Taktik menekan, menjepit, dan menggempur lawan dengan serentak dari berbagai sektor.

Pada 27 Juni 1947, Jenderal Soedirman diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Panglima TNI. Sayangnya, panglima muda ini tidak berusia panjang. Penyakit TBC yang dideritanya tidak kunjung pulih. Pada akhirnya ia tutup usia pada 29 Januari 1950 atau lima hari setelah genap berusia 34 tahun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya