Share

Biografi Imam Bukhari: Perawi Hadis Sahih yang Sembuh dari Buta Berkat Doa Ibunya

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 26 Januari 2022 09:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 26 614 2537888 biografi-imam-bukhari-perawi-hadis-sahih-yang-sembuh-dari-buta-berkat-doa-ibunya-ZRDUdNQPaY.jpg Ilustrasi biografi Imam Bukhari. (Foto: Istimewa/Muslim.or.id)

BIOGRAFI Imam Bukhari hendaknya diketahui setiap Muslim. Ia merupakan salah satu ulama besar serta perawi hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. Hadis yang beliau riwayatkan dikenal sebagai hadis yang paling sahih dibanding kitab-kitab lainnya. Lebih dari 600.000 hadis sahih mampu Imam Bukhari hafal.

Dikutip dari laman Muslim.or.id, Rabu (26/1/2022), Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyu S.Si menerangkan bahwa Imam Bukhari memiliki nama asli Muhammad, putra dari Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Imam Bukhari dilahirkan pada hari Jumat setelah Sholat Jumat tanggal 13 Syawwal 194 Hijriah di Bukhara (Bukarest).

Ketika masih kecil, sang ayah yaitu Isma'il sudah meninggal sehingga Imam Bukhari pun diasuh oleh ibunya. Ghinjar dan Al-Lalika'i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Imam Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Nabi Ibrahim Alaihissallam berkata kepadanya, "Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya." Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (lihat Hadyu Sari, halaman 640)

Baca juga: Biografi Imam Ahmad bin Hanbal: Ahli Ilmu yang Zuhud dan Dermawan 

Baca juga: Ada Maling Kabur ke Barat, Abu Nawas Kok Malah Cegatnya di Timur? 

Kekuatan Hafalan Imam Bukhari dan Kecerdasannya

Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, "Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadis ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab)." Aku berkata kepadanya, "Berapakah umurmu ketika itu?" Dia menjawab, "Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditnya Ad-Dakhili dan ulama hadis lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadis di hadapan orang-orang, dia (Ad-Dakhili) mengatakan, 'Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.' Maka aku katakan kepadanya, 'Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.' Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, 'Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.' Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, 'Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?' Aku menjawab, 'Dia adalah Az-Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadis dari Ibrahim.' Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, 'Kamu benar.' Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini warraq berkata, "Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?" Bukhari menjawab, "Sebelas tahun." (Hadyu Sari, halaman 640)

Hasyid bin Isma'il menceritakan: Dahulu Bukhari biasa ikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah, pada saat itu dia masih kecil. Dia tidak pernah mencatat, sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah enam hari berlalu, kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia mengatakan, "Kalian merasa memiliki lebih banyak hadis daripada aku. Cobalah kalian tunjukkan kepadaku hadis-hadis yang telah kalian tulis." Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadis tersebut. Lalu ternyata dia menambahkan hadis yang lain lagi sebanyak 15.000 hadis. Dia membacakan hadis-hadis itu semua dengan ingatan (di luar kepala), sampai-sampai kami pun akhirnya harus membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman kepada hafalannya (Hadyu Sari, halaman 641)

Muhammad bin Al Azhar As Sijistani rahimahullah menceritakan: Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari juga ikut bersama kami. Dia hanya mendengarkan dan tidak mencatat. Ada orang yang bertanya kepada sebagian orang yang hadir ketika itu, "Mengapa dia tidak mencatat?" Maka orang itu pun menjawab, "Dia akan kembali ke Bukhara dan menulisnya berdasarkan hafalannya." (Hadyu Sari, halaman 641)

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Suatu ketika Imam Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadis yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan 100 hadis yang telah dibolak-balikkan isi hadis dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian 100 hadis ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadis yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadis yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, "Aku tidak mengetahuinya." Setelah 10 orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu per satu, "Adapun hadis yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadis yang benar adalah demikian." Hal itu beliau lakukan kepada 10 orang tersebut. Semua sanad dan matan hadis beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadis yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, halaman 652)

Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari mengatakan, "Aku hafal 100.000 hadis sahih." (Hadyu Sari, halaman 654)

Baca juga: Rasulullah Makan Sebelum Lapar dan Berhenti Sebelum Kenyang, Ternyata Ini Manfaatnya 

Baca juga: Terungkap! Ini Zikir yang Ampuh Atasi Komplikasi Jiwa, Yuk Banyak-Banyak Dibaca 

Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, "Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari, pen) ini dari 600.000 hadis yang telah aku dapatkan dalam waktu 16 tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah." (Hadyu Sari, halaman 656)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menuturkan bahwa apabila Imam Bukhari membaca Alquran maka hati, pandangan, dan pendengarannya sibuk menikmati bacaannya, dia memikirkan perumpamaan-perumpamaan yang terdapat di dalamnya, dan mengetahui hukum halal dan haramnya (lihat Hadyu Sari, halaman 650)

Itulah sedikit biografi Imam Bukhari. Semoga bisa bermanfaat untuk semua Muslim. Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini