Share

Pakar Kaligrafi Arab Sebut Label Halal Kemenag Terbaca "Haram", Ini Penjelasannya

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 14 Maret 2022 17:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 14 614 2561431 pakar-kaligrafi-arab-sebut-label-halal-kemenag-terbaca-haram-ini-penjelasannya-nj5WnKNRyd.jpeg Label Halal Indonesia buatan Kemenag. (Foto: Kemenag)

BADAN Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama (Kemenag) baru saja menetapkan Label Halal Indonesia menggantikan logo buatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebelumnya. Ini berdasarkan Keputusan Kepala BPJPH Nomor 40 Tahun 2022 tentang Penetapan Label Halal sebagai pelaksanaan amanat Pasal 37 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014.

Namun ternyata logo atau Label Halal Indonesia buatan Kemenag ini menuai kontroversi di dunia maya. Salah satunya dari pakar kaligrafi Arab yakni Khudori Bagus. Ia menilai logo halal Kemenag itu bisa terbaca "haram".

Baca juga: Masih Bolehkah Pakai Label Halal yang Lama? Ini Kata Kemenag 

Label Halal Indonesia. (Foto: Kemenag)

"Mengkritisi logo halal Kemenag yang sedang viral. Jenis Khat yang dikenal ada 7 macam, di antaranya: Naskhi, Riq'ah atau Riq'iy, Diwani, Diwany Jaly, Tsulutsi, KUFI, dan al Farisy," ungkap Khudori Bagus dalam unggahan di akun Facebook-nya.

Ia menjelaskan, logo ini Basic Khat-nya Khat Kufi. Tapi pada huruf Ha (ح)-nya ada tambahan garis lurus menjulang ke bawah yang tidak relevan dengan gaya Khat Kufi.

Baca juga: Soal Label Halal Kemenag, Anwar Abbas: Terlalu Mengedepankan Seni dan Nuansa Lokal 

"Jika ini jenis Kufi, maka di bagian tengah ada huruf Lam (ل) yang gaya penulisannya bisa terbaca huruf Ra (ر). Di bagian akhir ada huruf Lam (ل) yang dibentuk mirip bulatan, ini tidak sesuai dengan kaidah Khat Kufi. Malah akan disangka sebagai huruf MIM (م)," paparnya.

Khudori menerangkan, maka jika di bagian depan dibaca Ha (ح), di bagian tengah terbaca Ra (ر), dan di bagian akhir terbaca MIM (م). "Maka logo itu tidak akan terbaca sebagai tulisan HALAL, malah akan dibaca HARAM (حرام)," tegasnya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Dalam dunia kaligrafi, lanjut dia, jika sebuah karya terdiri dari jenis Khat Campuran, maka para ahli kaligrafi Arab lazim menyebutnya dengan Khat SYAKA (شكى). Yang mana Syaka ini pelesetan dari SYAKA-Bisa (Sebisanya) (Bahasa Sunda).

"Jadi desain logo di atas untuk selevel nasional kesannya dibuat terburu-buru yang seharusnya diciptakan melalui inspirasi selama tiga purnama," katanya.

Baca juga: Berkat Konsep "Innalillahi wa Innailaihi Rojiun", Pria Ini Sukses Punya Banyak Bisnis dan Properti 

Baca juga: Viral Nikah Beda Agama di Semarang, Buya Yahya: Tidak Sah dan Hukumnya Zina 

Khudori mengungkapkan, kemudian logo itu mirip dengan Pintu Lakon wayang Jawa, yang mana hanya mencerminkan satu budaya saja yaitu Jawa, tidak mewakili semua budaya nusantara. Jadi, kesannya asal bukan Arab.

"SARAN: Sebaiknya pemilihan Font (Bentuk Huruf) pada logo ini menggunakan Font Standar dan tidak neko-neko, sebagaimana Font yang digunakan oleh negara-negara lain," pungkasnya.

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini