Share

Mengenal Hasan Al Bashri: Ulama Besar Ahli Banyak Ilmu, Murid Sahabat-Sahabat Nabi

Hantoro, Jurnalis · Senin 12 September 2022 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 12 614 2665492 mengenal-hasan-al-basri-ulama-besar-ahli-banyak-ilmu-murid-sahabat-sahabat-nabi-nUTiPmHIwC.jpg Ilustrasi sosok ulama besar Hasan Al Bashri. (Foto: Istimewa/Islamweb/Okezone)

KAUM Muslimin perlu mengenal sosok ulama besar Hasan Al Bashri. Perannya dalam dakwah Islam sangatlah penting. Karya-karyanya bahkan terus digunakan sampai sekarang.

Dikutip dari nu.or.id, Ustadz Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al Azhar Mesir, alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, mengungkapkan bahwa Hasan Al Bashri adalah salah satu tokoh penting dalam dunia Islam. Ia merupakan ulama sufi yang petuah-petuah bijaknya banyak dikutip.

BACA JUGA: Mengenal Imam Al Ghazali, Ulama Ahli Fikih hingga Filsafat Panutan Umat Dunia 

Bila dirunut dari latar belakang keluarganya, Hasan Al Bashri bukanlah anak seorang raja ataupun kalangan tokoh terpandang, melainkan hanya seorang anak dari hamba sahaya milik Zaid bin Tsabit.

Ayah Hasan al-Bashri bernama Yasar yang berasal dari daerah Maisan, pinggiran Kota Bashrah di Irak. Dahulu daerah Maisan ditaklukkan umat Islam pada tahun 12 Hijriah di bawah kepemimpinan panglima Khalid bin Walid. Sedangkan ibunya adalah hamba sahaya milik Ummu Salamah, istri Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam.

Sejak kecil Hasan Al Bashri telah mendapat berkah doa dan kasih sayang dari para kekasih Allah Subhanahu wa ta'ala. Pernah suatu hari ketika masa balita, ia ditinggal bekerja oleh ibunya. Iba melihat Hasan Al Bashri kecil menangis, maka Ummu Salamah menimangnya serta menyusuinya. 

Ilustrasi sosok ulama besar Hasan Al Bashri. (Foto: Istimewa/Baztab)

Begitu juga saat ia masih kecil, Umar bin Khattab mendoakannya, "Ya Allah, ajarkanlah ilmu agama kepada anak kecil ini dan buatlah umat mencintainya." (Syamsuddin Adz-Dzahabi, Siyar A'lam an-Nubala', [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah], 2007, volume IV: 565)

Jika dirunut dari sejarah, Hasan Al Bashri lahir di daerah Rabadzah, sebuah dataran berjarak 170 kilometer dari Kota Madinah pada tahun 21 Hijriah. Kemudian ia dibawa keluarganya ke Kota Madinah dan menetap di rumah Ummu Salamah.

Secara fisik, Hasan Al Bashri memiliki wajah yang sangat tampan. Diceritakan suatu ketika Asy-Sya'bi berpesan kepada 'Ashim al Ahwal, "Sampaikan salamku kepada Hasan Al Bashri di Kota Bashrah."

BACA JUGA: HUT Ke-77 RI, Ini 5 Ulama Pejuang Kemerdekaan Indonesia, Pantang Takut Mengusir Penjajah 

'Ashim Al Ahwal kebingungan dan menjawab, "Aku tidak pernah mengenalnya." Maka Asy-Sya'bi menjawab, "Nanti ketika engkau masuk Kota Bashrah masuklah ke masjid Kota Bashrah, kemudian carilah orang yang paling tampan yang belum pernah engkau temui di sana."

"Sungguh aku telah melakukan perintah Asy-Sya'bi maka aku melihat Hasan Al Bashri adalah seorang yang sangat tampan yang dikelilingi oleh murid-muridnya di masjid Kota Bashrah," ucap 'Ashim Al Ahwal. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Ulama Ahli Banyak Ilmu 

Hasan Al Bashri memiliki kecerdasan dan daya ingat yang sangat kuat serta nalar yang luar biasa tajam. Abu Qatadah Al Adawi mengatakan, "Wajib bagi kalian belajar kepada syekh ini (Hasan Al Bashri). Demi Allah, aku melihat Hasan Al Bashri sangat mirip pendapatnya dengan Sayyidina Umar bin Khattab."

Sahabat Anas bin Malik berwasiat, "Wajib bagi kalian belajar kepada Maulana Hasan Al Bashri, maka bertanyalah kepadanya." Kemudian ada yang bertanya, "Wahai Abu Hamzah (julukan sahabat Anas bin Malik), mengapa engkau menganjurkan kami bertanya kepada Hasan Al Bashri?" Anas bin Malik menjawab, "Dia menimba ilmu kepada kami, akan tetapi sekarang kami telah banyak lupa sedangkan ia masih mengingat ilmu yang kami ajarkan." (Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa Ta’dil, [Beirut: Dar Fikr], 1999, volume III: 41)

Selain itu, Hasan Al Bashri juga seorang ahli fikih yang sangat hebat. Syekh Yunus bin Ubaid Al 'Abidi mengatakan, "Kami telah bertemu dengan banyak ulama, dan tidak ada yang lebih unggul dan sempurna ilmunya melebihi Hasan Al Bashri."

Pernah suatu ketika Imran Al Qashir menanyakan suatu permasalahan dalam ilmu fikih kepada Hasan Al Bashri. Maka, Hasan Al Bashri menjawab, "Sebagian ulama fikih menjawab seperti ini dan sebagian yang lain berpendapat seperti ini. Ketahuilah bahwa seorang ahli fikih sejati adalah seorang yang zuhud di dunia, yang waspada dalam menjaga agamanya, dan senantiasa beribadah kepada Allah." (Lihat kitab Hilyatul Auliya' karya Syekh Abu Nu'aim Al Ashbihani, halaman 137, volume 2, cetakan Maktabah At-Taufiqiyyah Kairo 2007)

Dalam ilmu hadis, Hasan Al Bashri dinilai perawi yang tsiqqah (terpercaya) khususnya dalam hadis yang ia riwayatkan dari Samurah bin Jundub. Akan tetapi, ada banyak hadis yang ia riwayatkan lemah karena cacat berupa tadlis (tidak menyebutkan beberapa perawi di atasnya) ataupun mursal (tidak menyebutkan perawi dari kalangan sahabat), khususnya yang ia riwayatkan dari Abu Hurairah. (Syekh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Mizal Al 'Itidal fi Naqd Ar-Rijal, [Kairo: Muassasah ar-Risalah], 2017: 383) 

Berguru kepada Sahabat-Sahabat Nabi

Di antara guru-guru Hasan Al Bashri dari golongan sahabat Nabi adalah Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Abdullah bin Mughaffal, 'Amr bin Taghlib, Abu Burzah Al Aslami, dan masih banyak lagi. Menurut Ibnu Hibban, Hasan Al Bashri telah menimba ilmu kepada 120 tokoh dari golongan sahabat. (Ibnu Hibban, ats-Tsiqqat [Beirut: Dar Fikr], 1996, volume IV: 123)

Di antara petuahnya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah, "Ingatlah bahwa berpikir sebelum mengambil keputusan akan mendatangkan kebaikan dan menyesali perbuatan dosa akan menjauhkan dari keburukan. Waspadalah dengan kenikmatan dunia karena ketenteraman di dalamnya hanyalah semu, angan-angan meraihnya adalah racun, puncaknya adalah keburukan. Ada kalanya nikmat dunia menggelincirkan dari ketaatan kepada Allah. Ada kalanya nikmat dunia adalah musibah yang merusak agamamu. Waspadalah, sungguh Allah akan membalas hambanya yang taat dan menyiksa hamba-Nya yang durhaka."

"Ingatlah! Allah telah menjadikan kenikmatan dunia sebagai ujian bagi para nabi dan rasul serta pelajaran bagi umatnya. Sungguh orang yang lalai lagi durhaka kepada Allah menyangka bahwa mereka sedang dimuliakan Allah dengan kenikmatan dunia padahal ketika itu mereka sedang dijauhkan dari mengingat Allah."

"Ingatlah! Waktu adalah seorang tamu yang datang kepadamu dan ia akan berlalu meninggalkanmu. Seandainya engkau memuliakan waktu dengan beribadah dan berbuat baik niscaya waktu akan menjadi saksi kebaikanmu di hari kiamat. Dan seandainya engkau menghinakan waktu dengan bermaksiat dan berbuat buruk niscaya ia akan menjadi saksi keburukanmu di hari kiamat."

"Ingatlah! Sisa umur yang tersisa bagimu di dunia tak ternilai harganya dan tidak dapat tergantikan dengan yang lain. Dunia dan seisinya tak akan mampu menyamai nilai satu hari yang tersisa dari usiamu. Maka, jangan engkau tukar sisa usiamu yang sangat bernilai dengan kenikmatan dunia yang hina. Koreksilah dirimu setiap harinya, waspadalah atas kenikmatan dunia, jangan sampai engkau menyesal ketika telah datang ajal kematianmu. Semoga nasihat ini bermanfaat bagi kita dan Allah berikan kita akhir hidup yang baik." (Syekh Abu Nu'aim Al Ashbihani, Hilyatul Auliya' [Kairo: Maktabah at-Taufiqiyyah], 2007, volume II: 128)

Hasan Al Bashri mewasiatkan, "Seandainya engkau tidak mampu berpuasa di siang hari dan engkau tak mampu menjalankan sholat malam. Ingatlah! Engkau sedang terbelenggu oleh dosa dan maksiat."

Ulama besar satu ini wafat pada tahun 110 Hijriah di Kota Basrah. Diceritakan, suatu ketika Malik bin Dinar pernah bercerita tentang mimpinya bertemu Hasan Al Bashri. Dalam mimpi itu Hasan Al Bashri memakai pakaian yang sangat indah dan bersinar wajahnya.

"Bukankah engkau telah wafat? Lantas apakah yang membuatmu diberikan Allah derajat yang tinggi ini?" tanya Malik bin Dinar.

Hasan Al Bashri menjawab, "Aku diberikan Allah derajat orang-orang yang bertakwa karena rasa sedihku atas dosa-dosa yang aku lakukan. Katahuilah bahwa orang yang banyak bersedih atas dosa-dosa yang dia perbuat akan mendapatkan banyak kebahagiaan di akhirat." (Syekh Jamaluddin Ibnu Jauzi, Hasan Al Bashri, Zuhduhu wa Mawa'idzuhu [Beirut: Dar An-Nawadir], 2007: 32)

Wallahu a'lam bisshawab

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini