Share

Kisah Ali dan Fatimah Puasa Nazar demi Kesembuhan Anaknya

Novie Fauziah, Jurnalis · Kamis 01 Desember 2022 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 01 614 2718294 kisah-ali-dan-fatimah-puasa-nazar-demi-kesembuhan-anaknya-fMSteohmlA.jpg Ilustrasi kisah Ali dan Fatimah puasa nazar demi kesembuhan anaknya. (Foto: Freepik)

SIAPA yang tidak mengenal Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Ia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam sekaligus menantunya. Ali juga termasuk salah satu tokoh yang sangat besar pengaruhnya dalam kekhalifahan Islam.

Dikutip dari buku "Mulut yang Terkunci, 50 Kisah Haru Para Sahabat Nabi" karya Siti Nurlaela. Suatu ketika salah seorang anak Ali bin Abi Thalib sakit. Berbagai usaha disertai doa ia lakukan demi kesembuhan anaknya. Kemudian Ali pun bernazar, apabila anaknya sembuh, ia akan puasa selama tiga hari berturut-turut.

BACA JUGA:Kisah Ali bin Abi Thalib Tidak Terasa Sakit Anak Panah Dicabut dari Tubuhnya Berkat Sholat Khusyuk 

Setelah berjalannya waktu, akhirnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabulkan doanya, yaitu kesehatan anak Ali pulih kembali. la pun melaksanakan nazarnya. Bersama istrinya, Fatimah Az-Zahra, Ali menjalankan puasa nazar selama tiga hari berturut-turut.

Menjelang senja, mereka bersiap untuk buka puasa. Di meja telah terhidang beberapa potong roti kering dan air putih. Saat itu kehidupan dan perekonomian keluarga Ali sedang sulit; hanya itulah makanan yang mereka miliki saat itu. 

Info grafis keutamaan membaca Surat Al Kahfi. (Foto: Okezone)

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan seseorang mengucap salam. Ali bergegas membuka pintu. Di depan pintu tampak seseorang berpakaian lusuh. Dengan wajah yang memelas, orang itu berkata, "Aku orang miskin. Seharian ini aku belum makan. Perutku sangat lapar. Tolonglah aku; berilah aku sedikit makanan."

Ali terdiam sejenak. Kemudian ia mengambil roti bagiannya dan menyerahkan kepada orang itu. Ternyata Fathimah juga melakukan hal yang sama. Hari itu mereka berbuka hanya dengan air putih.

BACA JUGA:10 Malam Terakhir Ramadhan, Nabi Muhammad SAW Bangunkan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib 

Hari itu adalah hari kedua Ali dan Fathimah berpuasa. Ketika mereka hendak berbuka, datanglah seorang anak. Tubuhnya tampak lemah dan wajahnya pucat. "Apa yang terjadi denganmu, Nak?" tanya Ali.

Kemudian anak itu menjawab, "Aku anak yatim. Ayahku sudah lama meninggal. Beberapa hari ini ibuku pergi bekerja. Selama itu perutku kosong. Tidak ada makanan yang bisa kumakan." 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Melihat keadaan anak itu, Ali sangat sedih. Tanpa banyak pikir, ia memberi roti bagiannya kepada anak yatim itu. Apa yang dilakukan Ali lagi-lagi ditiru oleh Fathimah. la menyerahkan roti bagiannya kepada si anak yatim.

Lalu di hari berikutnya, kejadian yang sama pun berulang lagi. Kali ini menjelang berbuka, datanglah seseorang mengetuk pintu. Orang itu adalah seorang tawanan perang.

"Aku orang Muslim yang baru dibebaskan oleh orang kafir," katanya kepada Ali, "Aku kelaparan sampai tubuhku terasa sangat lemah. Aku mohon, berilah aku makanan."

Ali dan Fathimah saling berpandangan. Sejak mereka berpuasa nazar, tidak sebutir kurma atau sepotong roti pun masuk ke perut mereka. Selama itu, mereka berbuka hanya dengan minum air putih.

Sungguh mulia hati pasangan suami istri ini. Ali dan Fathimah ternyata memberikan roti, makanan berbuka mereka, kepada si tawanan perang tersebut. Mereka rela menahan lapar selama berhari-hari demi menolong orang lain. Mereka lakukan itu dengan mengharap ridho Allah Subhanahu wa Ta'ala semata.

Menurut Ibnu Abbas, Allah Subhanahu wa Ta'ala berkenan menurunkan ayat Alquran atas kedermawanan Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra tersebut. Dalam Surat Al Insan Ayat 7–10, Allah Ta'ala berfirman:

"Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan (sambil berkata), Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan."

Dari kisah Ali dan Fathimah dapat diambil hikmah bahwa beramal infak dan sedekah amatlah penting. Sesedikit apa pun akan sangat berarti bagi kaum miskin. Selain meringankan beban orang yang diberi amalan, itu juga bisa sebagai pembersih harta.

Wallahu a'lam bisshawab. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini