Share

Cukup Pakai Satu Pertanyaan, Abu Nawas Kalahkan Tuan Tanah Curang di Pengadilan

Fini Nola Rachmawati, Jurnalis · Sabtu 03 Desember 2022 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 614 2719457 cukup-pakai-satu-pertanyaan-abu-nawas-kalahkan-tuan-tanah-curang-di-pengadilan-99WhAvtBEF.jpg Ilustrasi kisah Abu Nawas kalahkan tuan tanah curang di pengadilan. (Foto: Istimewa/Okezone)

ALIKSAH Abu Nawas sedang melihat-lihat kebunnya yang sudah lama tidak terurus. Di saat dirinya asyik di dalam kebun, tiba-tiba ada seseorang yang masuk.

"Hei, ngapain kau masuk ke kebunku?" ujar seorang lelaki yang dijuluki tuan tanah kepada Abu Nawas, seperti dikutip dari kanal YouTube Humor Sufi Official, Sabtu (2/12/2022).

Abu Nawas pun kaget dan langsung membantahnya. "Apa? Ini kebun milikku tahu. Kau jangan mengaku-ngaku," ucapnya.

Tapi si tuan tanah sangat kekeuh. Dia mengatakan kebun tersebut miliknya. Begitu juga dengan Abu Nawas. Keributan pun tidak bisa dihindari. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah.

BACA JUGA:Gara-Gara Kapas di Telinga, Abu Nawas Pergoki Abu Jahal Mau Mencuri Lonceng Rumahnya 

Dikarenakan pada zaman itu tidak ada yang namanya sertifikat tanah, jadi Abu Nawas tak mempunyai bukti yang kuat atas kepemilikan kebun tersebut.

Tidak ada jalan lain bagi Abu Nawas, kecuali melapor kepada Baginda Raja. "Ayo kita adukan masalah ini kepada Baginda Raja," ucap Abu Nawas.

Tantangan tersebut tidak membuat si tuan tanah mundur. Ia tetap meladeni permintaan Abu Nawas. Keduanya pun pergi ke istana untuk menghadap Baginda Raja. 

 

Abu Nawas pun mengadu. "Wahai Paduka yang mulia, hamba mempunyai kebun di suatu daerah, tapi tiba-tiba dia mengaku-ngaku kalau kebun tersebut miliknya," kata Abu Nawas.

"Ini masalah rumit Abu Nawas. Supaya masalahnya bisa diputus secara adil, maka mesti ditangani hakim yang bijaksana," ujar Baginda Raja angkat tangan.

"Saya setuju Baginda Raja," balas Abu Nawas.

BACA JUGA:Abu Nawas Dituduh Mencuri Keledai, tapi Kok Malah Abu Jahal yang Dipenjara? 

Tapi yang menjadi persoalannya adalah siapa yang bisa menjadi hakimnya, sebab ini bukan perkara mudah. Biasanya kalau ada urusan ruwet seperti ini, Abu Nawas-lah solusinya, tapi kini justru dia sendiri yang mempunyai perkara. Jadi harus dicari hakim yang selevel dengan Abu Nawas untuk menangani kasus ini.

Baginda Raja akhirnya mendapat hakim yang paling baik reputasinya di Kota Baghdad. Hakim ini terkenal cerdas dan berwibawa. Orang-orang yang perkaranya ditangani olehnya selalu puas dengan hasil keputusannya.

Baginda Raja yakin hakim ini pasti akan memutuskan perkara dengan seadil-adilnya. Maka pada hari yang sudah ditentukan, sidang pun dilakukan di salah satu ruang istana.

Dalam sidang itu selain pihak yang bersengketa, hadir juga Baginda Raja rupanya ingin tahu siapa sesungguhnya yang mengaku-ngaku dan menjadi biang kerok masalah ini. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Follow Berita Okezone di Google News

Baginda Raja yakin kalau klaim Abu Nawas atas kebunnya tidak mengada-ada, tapi sangat sulit bagi dirinya untuk begitu saja memenangkan Abu Nawas sebelum sidang dimulai.

"Bila di antara kalian berdua ada yang terbukti bersalah dengan mengaku-ngaku kebun tersebut miliknya, maka hukuman penjara siap menanti," ancam Baginda Raja.

"Oleh karena itu, sebelum sidang dimulai aku kasih satu kesempatan lagi kalau mau jujur sekarang. Aku tidak akan menghukumnya," ucap Baginda Raja mengancam.

Tapi si tuan tanah tetap pada pendiriannya dan sidang langsung dimulai. Untuk menguji kebenaran atas pengakuan kebun itu, maka sang hakim bertanya kepada kedua belah pihak yang bersengketa.

"Berapa jumlah pohon di dalam kebunmu?" tanya hakim kepada tuan tanah.

Si tuan tanah tampak kebingungan, bahkan cenderung panik. Sedangkan Abu Nawas terlihat lebih tenang, padahal dia sendiri tidak tahu jumlah pohon yang ada di kebunnya, karena tak pernah menghitungnya. Lagipula siapa yang sudi menghitung pohon di kebun?

Setelah terdiam agak lama, hakim kembali berkata kepada si tuan tanah, "Bagaimana mungkin Anda mengaku kebun tersebut milik Anda sementara tidak mengetahui jumlah pohonnya."

Si tuan tanah hanya menunduk dalam-dalam. Ia tampaknya grogi berat. Melihat tuan tanah ini, hakim dan Baginda Raja makin yakin kalau si tuan tanahlah yang berbohong.

Kemudian pertanyaan tadi juga diajukan oleh hakim kepada Abu Nawas. "Sekarang giliranmu Abu Nawas, berapa jumlah pohon yang ada di kebunmu?" tanya sang hakim. 

"Sebelum hamba menjawabnya, bolehkah hamba bertanya kepada tuan hakim?" ucap Abu Nawas.

"Silakan Abu Nawas," jawab hakim.

"Berapa lama Anda menempati rumah Anda?" tanya Abu Nawas.

"Kira-kira sejak beberapa tahun yang lalu. Memangnya kenapa Abu Nawas?" tanya balik tuan hakim keheranan.

"Tidak, hamba cuma mau bertanya berapa jumlah genting yang ada di rumah Anda?" tanya Abu Nawas lagi.

Hakim tersebut langsung gelagapan dengan pertanyaan Abu Nawas. Ia tidak bisa menjawabnya, lalu sang hakim mengumumkan keputusan persidangan kali ini.

"Kebenaran ada di pihak Abu Nawas, dan kau tuan tanah karena telah berbohong maka akan dihukum penjara," ujar sang hakim lalu mengetok palu dan persidangan selesai.

Bisa ditebak wajah pucat tuan tanah itu saat dirinya diseret ke penjara. Hakim yang terkenal adil dan bijaksana ini mengakui terkadang kecerdasan dan kegeniusan bisa patah oleh argumen.

"Saya belum pernah kalah, kecuali dengan kau Abu Nawas," ujar sang hakim mengakui kehebatan Abu Nawas.

Wallahu a'lam bisshawab

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini