NIAT sholat witir 3 rakaat berjamaah: Arab dan terjemahan Indonesia. Witir merupakan sholat sunnah yang biasa dikerjakan setelah sholat tarawih.
Sholat witir memiliki rakaat ganjil, bisa 1 atau 3 rakaat, sebagaimana umum dikerjakan di tengah masyarakat. Witir menjadi sholat penutup pada malam hari.
Sholat witir dapat dilaksanakan sebelum masuk waktu subuh. Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam mengerjakan sholat sunnah ini terutama pada bulan Ramadhan.
Sholat witir menjadi sholat sunnah yang sangat baik dilakukan secara istikamah. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا وَهِيَ الْوَتْرُ أخرجه أحمد
Artinya: "Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu sholat, maka jagalah sholat tersebut. Sholat itu ialah witir." (HR Ahmad dan dishahihkan Syekh Al Albani dalam Irwa' al-Ghalîl, 2/159)
Niat Sholat Witir
Sesungguhnya tata cara melaksanakan sholat witir tidak jauh berbeda dengan sholat lainnya. Perbedaan hanya terletak pada niatnya.
اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Arab latin: Usholli sunnatal witri tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaan ma’muuman lillahi ta'aala.
Artinya: "Aku menyengaja sholat sunnah witir 3 rakaat, dengan menghadap kiblat, sebagai makmum karena Allah Ta'ala.
Adapun niat sholat pada dasarnya cukup diungkapkan dalam hati. Niat berarti al-qashdu atau keinginan. Niat sholat berarti keinginan untuk mengerjakan sholat.
Letak niat adalah di dalam hati, tidak cukup dalam lisan, tidak disyaratkan melafadzkan niat. Berarti, niat dalam hati saja sudah teranggap sahnya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan." (HR Bukhari nomor 1 dan Muslim: 1907)
Ulama Syafi’iyah yaitu Asy-Syarbini rahimahullah mengatakan:
وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ ، وَلَا تَكْفِي بِاللِّسَانِ قَطْعًا ، وَلَا يُشْتَرَطُ التَّلَفُّظُ بِهَا قَطْعًا كَمَا قَالَهُ فِي الرَّوْضَةِ
"Niat letaknya dalam hati dan tidak perlu sama sekali dilafazhkan. Niat sama sekali tidak disyaratkan untuk dilafazhkan sebagaimana ditegaskan oleh An-Nawawi dalam Ar-Roudhoh." (Mughnil Muhtaj, 1/620)
Pendapat ulama Syafi'iyah makin kuat dengan perkataan Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan:
وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ
"Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama." (Majmu’ Al Fatawa, 18/262)
Itulah penjelasan tentang niat sholat witir 3 rakaat berjamaah. Wallahu a'lam.
(Hantoro)