JAKARTA - Jamaah yang berangkat haji memiliki perjuangannya masing-masing untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Ini seperti yang dialami Taruno Tanoyo (85).
Pria kelahiran 8 Desember 1941 asal Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta itu akhirnya bersama sang istri, Sumarni, tiba di Al Asalah Al Bakkiyah Hotel, Makkah, setelah menempuh perjalanan panjang dari Madinah pada Kamis (30/4/2026). Tidak tampak sedikit pun gurat kelelahan di wajahnya meski ia tergabung dalam kelompok terbang (kloter) perdana YIA 1.
Jalan panjang kakek ini menuju Tanah Suci Makkah diukir lewat kesabaran finansial. Mengabdikan diri sebagai abdi dalem Pura Pakualaman sejak usia 24 tahun, penghasilannya yang terbatas tidak pernah menyurutkan niatnya untuk berhaji.
"Nabung buat haji, tiga bulan sekali, kadang sehari Rp10 ribu, pernah Rp5 ribu," ujar Taruno mengungkapkan strategi mengatur keuangannya selama sepuluh tahun.
Demi menggenapi sisa biaya pelunasan, keluarga sederhana ini harus mengorbankan aset paling berharga di kampung halaman mereka. Belasan ekor kambing yang selama ini menjadi sumber kehidupan sehari-hari akhirnya dilepas demi menebus rindu kepada Tanah Suci.
"Kemarin kambingnya banyak, dijual 14 ekor buat haji dan tambahan jaga-jaga," kata sang istri mengamini perjuangan suaminya.