SALAH satu keistimewaan Ramadan adalah bulan diturunkannya Alquran (nuzulul Qur’an). Berbagai riwayat menyebutkan bahwa wahyu pertama turun pada suatu malam menjelang akhir Ramadan, yang oleh Alquran disebut sebagai lailatul qadar (QS al-Qadr/97: 1-7).
Berdasarkan hadits Nabi “carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan” (HR Bukhari-Muslim), wahyu Alquran turun pertama kali pada malam-malam terakhir Ramadan. Ini diperkuat dengan hadits Nabi: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal Ramadan, Taurat pada 7 Ramadan, Injil pada 13 Ramadan, dan Alquran pada 25 Ramadan” (HR Ahmad).
Keterangan ini tidak perlu digunakan sebagai hujjah untuk menentang tradisi masyarakat Indonesia yang memperingati nuzulul Alquran pada malam ke-17 Ramadan. Sebab, perkara ini termasuk khilafiah. Ibn Hajar al-Asqalani, dalam kitab Fath al-Bari, menyebutkan kurang lebih terdapat 40 pendapat ulama tentang kapan tepatnya nuzulul Alquran.
Alquran adalah mukjizat terbesar yang diturunkan pada konteks masyarakat Arab yang menempatkan kefasihan dan keindahan berbahasa sebagai ukuran keadaban tertinggi. Alquran turun dengan estetika bahasa yang tak tertandingi. Banyak penyair hebat Arab takluk dan kemudian beriman karena terpukau oleh bahasa wahyu yang tidak mungkin berasal dari manusia.
Wahyu yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq (QS 96: 1-5) yang dimulai dengan perintah “Bacalah” Dengan demikian, Allah melandaskan ajaran Muhammad pada ilmu dan tradisi ilmiah. Ilmu inilah yang meninggalkan derajat Adam as di atas malaikat (QS 2: 30-34).