Saat krisis itu, tinggal ketentuan Allah, berada di mulut bisa dimuntahkan atau ditelan terserah keputusan Allah. Nabi Yunus malu untuk meminta selamat, karena merasa bahwa dirinya berdosa, pergi dari medan dakwah. Beliau hanya bertasbih,
لَااِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ
Malu meminta diselamatkan dan hanya membaca tasbih kebesaran Allah. Allah Yang Maha Mendengar itu disentuh, dihubungi, inconnecting dengan tasbih terus-menerus, dan Allah Maha Mendengar. Allah itu mengerti, tidak perlu dimintai dengan bahasa yang tegas, “Ya Allah selamatkanlah.” Tidak perlu diminta Allah sudah tahu keinginan hati manusia yang terdalam.