“Di kala datang hari itu, tidak ada seorangpun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia (105) …dan orang-orang yang berbahagia ada di dalam surga… (108).
Kedua ayat tersebut konteksnya adalah kebahagiaan di surga yang tidak dapat dilepaskan dari amal perbuatan manusia di dunia.
Ibnu Miskawaih dengan bukunya Maratib al-Sa’adah (Tingkatan-tingkatan kebahagiaan), membagi kebahagiaan ke dalam lima tingkatan.
Tingkatan yang pertama adalah kesenangan fisik, seperti kita dapat merasakan nikmatnya beragam makanan semacam soto atau coto Makasar; merasakan segarnya minum es dawet pada siang hari, di malam hari kita dapat tidur tenang hingga kenikmatan berhubungan suami-istri.
Tingkatan kedua adalah kebahagiaan mental, seperti kita dapat merasakan manisnya mengingat dan menghafal sesuatu, berimajinasi, hingga memperkirakan dan merencanakan sesuatu di masa depan. Bisa dibayangkan kalau kita tidak dapat mengingat masa lampau dan memperkirakan masa depan.