Wajah sang perempuan suci Ummul Mukminin Khadijah r.a. memancarkan kegembiraan dan penuh kebahagiaan. Tubuhnya berguncang karena bahagia saat membisikkan rahasia kehamilannya. Ia mengandung putri Rasulullah SAW.
Siapa yang tak bahagia mengandung seorang anak dari junjungan semesta alam yang membawa kabar gembira bagi seluruh umat dengan agama Islam, Rasulullah SAW.
Beberapa bulan kemudian, Khadijah melahirkan jabang bayinya. Dalam relung hatinya yang paling dalam, Khadijah merasa bahwa kehamilan dan kelahiran keturunan Rasulullah SAW merupakan sesuatu yang berbeda dari kehamilannya yang sebelumnya.
Sesuatu yang indah dan menyejukkan hati, menyinari jiwa dengan berbagai harapan hesar dan agung. Rasulullah juga merasakan kegembiraan luar biasa atas kabar yang menyenangkan dan agung itu.
Bayi yang dilahirkan itu adalah Zainab al-Kubra. Ia merupakan Ummul Mukminin yang jujur dan tepercaya, putri dari Rasulullah al-Amin.
Bayi cantik itu berambut ikal. Ia memancarkan cahaya cemerlang dari wajahnya yang suci.
Rasulullah SAW menggendong sang bayi dan mendekapnya di dada dengan lembut dan penuh kasih. Beliau lepaskan ciuman lembut dan hangat di kedua pipi sang bayi sesudah didahului dengan ucapan syukur kepada Allah SWT atas anugerah yang diberikan, yaitu keselamatan istrinya dan kelahiran sang wanita suci yang beliau beri nama Zainab.
Zainab binti Muhammad al-Amin ibn Abdullah ibn Abdul Muththalib ibn Hasyim al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyah. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid ibn Asad ibn Abdil 'Uzza ibn Qushayyi al-Qurasyiyah al-Asdiyyah.
Semerbak embusan iman di tengah sahara kekufuran dan kesesatan. Cahaya yang terang di tengah kegelapan. Di sana, terdapat sebuah rumah kenabian yang dihuni oleh junjungan seluruh manusia bersama Sayyidah Khadijah, istri beliau, beserta sang perawan, bayi tercinta, Zainab.
Sebuah rumah yang di dalamnya disebut asma Allah, baik sepanjang siang maupun malam dengan zikir yang memancar dari dua hati beriman dan memahami hakekat melalui agama Islam. Mereka adalah dua hati yang mendapat pancaran cahaya Allah karena zikir yang mereka pancarkan melebihi segala zikir yang dipanjatkan oleh orang-orang saleh, kaum Shabi'un, dan Ahlil Kitab.
Andai iman mereka berdua ditimbang dengan iman seluruh makhluk, niscaya iman keduanya pasti lebih berat.
Rasulullah mendekap Zainab di dadanya dengan penuh cinta dan kasih sayang karena Zainab adalah bayi dari ibu yang tercinta. Wajah beliau memancarkan kebahagiaan dan jantungnya berdetak lebih cepat karena cinta dan kasih sayang hingga sang istri nan suci itu bisa turut merasakan cinta Rasulullah kepada sang buah hati tercinta yang menyatukan dirinya dan Rasulullah. Hati Khadijah pun berdebar, mengalirkan khazanah perasaan yang halus dan lembut.
Ketika memasuki masa kanak-kanak yang suci, Zainab adalah anak yang sangat mirip dengan sang ibu. Namun, hal itu tidak membuat lalai hati sang ayah, Rasulullah dari berzikir akan kebesaran Allah.
Bahkan, beliau selalu merenungkan tentang kedua pelupuk mata sang anak, bagaimana kedua pelupuk itu bisa terbuka dan tertutup. Beliau juga merenungkan kedua mata, lidah, dan kedua bibir, bagaimana indra penglihatan, peraba, dan perasa mampu berfungsi dengan begitu luar biasa.
Rasulullah merenung begitu mendalam hingga terbayang akan kadahsyatan Allah yang telah menciptakan daya ingat, daya pikir, hati, dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Hal itu membuat beliau sangat kagum dan hormat.
Beliau tidak pernah berhenti merenungkan ciptaan Allah SWT sebagai ungkapan syukur dan keyakinan akan kekuasaan Allah.
Hari demi hari dan tahun demi tahun terus berjalan. Zainab semakin tumbuh menjadi dewasa. Begitu ia telah menjadi gadis dewasa, datanglah Abu al-Ash ibn Rabi', saudara sepupunya, untuk melamar.
Abu al-Ash adalah salah seorang tokoh Makkah yang tiada tertandingi kekayaan dan kehormatannya. Ia adalah laki-laki keturunan Quraisy tulen yang nasabnya dari pihak ayah bertemu dengan Nabi pada Abdu Manaf ibn Qushay dan dari pihak ibu, nasabnya juga bertemu dengan Zainab binti Rasulullah pada kakek terdekatnya, Khuwailid. Hal itu karena ibunya, Halah binti Khuwailid, adalah saudara dari Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah.
Abu al-'Ash ibn Rabi' di samping merupakan keturunan orang-orang terhormat sebagaimana telah disebutkan di atas, ia juga adalah seorang yang mulia dan berkepribadian baik hingga mendapat julukan dari kaumnya dengan al-Amin, sebagaimana julukan yang mereka berikan kepada Muhammad ibn Abdullah SAW. Sifat amanah yang ia miliki telah mendatangkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat terhadap dirinya.
Hal itu membuatnya menempati urutan terdepan dalam jajaran para pedagang yang pada saat itu merupakan para konglomerat dan jutawan Makkah.
Ummul Mukminin nan suci, Khadijah, memiliki keinginan besar untuk menikahkan putrinya Zainab dengan Abu al-'Ash ibn Rabi'. Oleh karena itu, Khadijah memberi kesempatan dan membantu Ibnu Rabi' untuk meminang sang putri.
Di samping itu, Abu al-'Ash ibn Rabi' merupakan kerabat dekat Khadijah, orang yang memiliki kehormatan dan kemuliaan secara keturunan maupun dari pribadinya sendiri. Semua itu menjadi jalan untuk membersihkan diri di hadapan kedua orang tua yang mulia itu dan mereka pun menyetujui pernikahan Abu al-'Ash ibn Rabi' dengan sang putri.
Ditemani beberapa keluarga akhirnya, Abu al-'Ash ibn Rabi' mendatangi rumah Rasulullah untuk melamar Zainab, putri Rasulullah.
Rasulullah SAW bersabda, "Itu sungguh merupakan besan yang terbaik dan sekufu."
Rasulullah tidak memberikan jawaban atas lamaran Abu al-'Ash sebelum menemui putrinya dan menawarkan lamaran tersebut: "Wahai putriku, sesungguhnya sepupumu Abu al-Ash ibn Rabi' datang untuk melamar dirimu."
Zainab tidak memberi jawaban selain dengan menganggukkan kepala karena malu sementara kebahagiaan tampak bersinar di wajahnya. Kedua matanya berbinar sebelum tertutup oleh kedua pelupuknya.
Rasulullah beralih kepada istrinya, Khadijah, dan memberitahukan akan persetujuan Zainab. Pasalnya, diamnya Zainab menunjukkan persetujuannya untuk menikah.
Kabar menggembirakan itu segera tersebar di seantero Mekah. Binatang-binatang disembelih, hidangan disebarkan, dan para budak wanita berdiri untuk menari. Suara mereka menggemakan senandung pujian hingga kegembiraan menyelimuti seluruh Makkah karena pernikahan penuh berkah itu.
Malam telah tiba. Abu al-'Ash ibn Rabi' memboyong istrinya, Zainab binti Rasulullah ke rumahnya. Rasulullah mengawasi sementara sang ibu memandanginya dengan kedua mata yang terbalut oleh air mata. Dalam hati bersemayam kebahagiaan sementara nuraninya memanjatkan berbagai doa. Dengan segenap doa, Khadijah mengharapkan taufik dan kebahagiaan untuk sang putri.
Di rumah barunya, sang pengantin perawan, Zainab, hidup dengan terhormat, mulia, dan bahagia. la jalani hidup di bawah naungan suami tercinta yang mulia, Abu al-'Ash. Ia merasakan kedamaian dalam hidup baru itu setelah semua yang diimpikan telah terwujud sebagaimana layaknya semua gadis tulen yang menjalani kehidupan di dunia ini.
Zainab menjadi istri yang mulia dan baik. Istri yang mengurus rumah dan patuh serta setia kepada suami. Ia selalu menaati sunnah Allah dan Rasul-Nya bagi makhluk dalam membangun keluarga yang baik dan bahagia.
Abu al-'Ash tidaklah salah ketika memiliki istri yang salehah, putri junjungan seluruh umat ini. Ia berhasil menggapai kebahagiaan keluarga yang bisa ia temukan pada Zainab. Setiap kali tiba saat untuk pergi, ia merasa berat untuk berpisah dengan sang istri.
Kepada suami istri yang mulia itu, Allah menganugerahkan dua orang putra, putra pertama bernama Ali ibn Abi al-'Ash dan yang kedua bernama Umamah binti Abu al-'Ash.
Hari-hari terus berjalan. Sang suami, Abu al-Ash, hampir selalu bepergian ke negeri-negeri Syam dan negeri lainnya, meninggalkan sang istri tercinta, Zainab. Hal itu biasa ia lakukan setiap kali ia pergi untuk mencari rezeki dengan berdagang.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di Gua Hira, saat Rasulullah tenggelam dalam beribadah dan bersyukur kepada Allah, tiba-tiba muncul cahaya Ilahiyah menyelimuti tempat itu.