Zainab menoleh ke kiri dan kanan, ternyata di Makkah ia sudah tidak lagi menemukan ayahnya beserta para saudarinya, seluruh keluarga, dan orang-orang tercinta.
Dalam hati ia berkata, "Di manakah ayah dan ibuku? Di manakah Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah? Di manakah Qasim dan Abdullah? Di manakah keluargaku? Mereka semua telah pergi dan meninggalkan diriku seorang diri di tanah yang gersang dan panas ini, di tengah orang-orang kafir dan durhaka."
Zainab pergi menziarahi makam mendiang ibunya nan suci dan mulia, Khadijah r.a., untuk menyirami tanah kuburan itu dengan air matanya dan membacakan apa yang telah ia pelajari dari madrasah nubuwah sang ayah.
Ibunya yang telah beristirahat dengan tenang di dalam kubur itu kini menjadi orang yang paling dekat dengan dirinya. Sementara itu, orang-orang yang ada di dekatnya kini semuanya menjadi jauh.
Satu pukulan berat bagi Zainab adalah karena sang suami mau masuk agama Islam sehingga suasana rumahnya dipenuhi dengan kegelisahan dan duka nestapa. Nikmat yang mereka rasakan bersama berubah menjadi neraka.
Zainab tetap menjalani kondisi seperti ini di rumah suaminya, di Makkah. Tidak ada lagi orang yang sanggup meringankan bebannya karena terpisan dari kedua orangtuanya. Sang ayah, para sahabat, dan para putri beliau telah hijrah ke Madinah al-Munawwarah, sedangkan sang ibu yang suci telah berpulang ke rahmatullah.
Adapun sang suami tetap kukuh menjadi penyembah berhala-berhala dan batu-batu. Dengan demikian, tidak ada lagi yang ia miliki selain Allah yang kepada-Nya ia merendahkan diri dan berdoa agar diberi kesabaran.
Pecahlah Perang Badar yang terjadi antara kaum muslimin dan kaum kafir. Kaum musyrikin meminta Abu al-Ash ibn Rabi', suami Zainab, untuk pergi bersama mereka memerangi kaum Muslimin dan Rasulullah.
Abu al-'Ash segera memenuhi panggilan itu. la pergi untuk berperang, tetapi dalam perang ini, ia jatuh menjadi tawanan kaum muslimin. Ketika mendengar suaminya tertawan oleh kaum Muslimin, kesedihan Zainab semakin dalam.
la menyesalkan karena sang suami memusuhi ayahnya sendiri, Rasulullah yang tidak pernah memberikan kepadanya selain kebaikan dan kebenaran.
Abu al-Ash adalah seorang jutawan Makkah. Keluarganya tentu rela menebus dirinya meski dengan harga yang mahal.
Namun, sang istri, Zainab menginginkan untuk menebus sang suami dengan sesuatu yang lebih mahal daripada harta benda.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Aisyah r.a, ia menceritakan, "Ketika penduduk Makkah mengirimkan tebusan keluarga mereka yang menjadi tawanan, Zainab binti Rasulullah mengirim sejumlah harta untuk menebus Abu al-Ash ibn Rabi', sang suami. Dari sekian harta benda yang dikirimkan itu, ia kirimkan sebuah kalung miliknya. Sebuah kalung yang diberikan oleh Khadijah saat Zainab diboyong ke rumah Abu al-Ash.
Aisyah mengatakan, "Ketika Rasulullah melihat kalung tersebut, beliau merasa sangat tersentuh. Beliau bersabda: Jika kalian berpikir untuk melepaskan tawanan dan mengembalikan harta benda (Zainab), lakukanlah!"
Mereka menjawab: Baik, wahai Rasulullah. Mereka melepaskan Abu al-Ash dan mengembalikan harta milik Zainab.
Sementara itu, Rasulullah meminta Abu al-Ash untuk berjanji agar melepaskan Zainab sehingga ia dapat menyusul beliau. Janji ini adalah janji yang harus ia tepati sebagaimana la dikenal sebagai orang yang tidak pernah mengingkarı janji.
Rasulullah mengutus Zaid ibn Haritsah dan seorang laki-laki Anshar. Beliau memerintahkan, "Berhentilah kalian dai Ya'jaj (sebuah tempat sejauh 8 mil dari Makkah) hingga kalian bertemu dengan Zainab lalu temanilah ia sampai menemuiku."
Abu al-Ash telah kembali ke Makkah. Orang-orang di sana bergembira karena kepulangan Abu al-Ash yang merupakan salah seorang terkaya, paling amanah, dan pedagang paling sukses di Makkah. la segera menunaikan thawaf tujuh kali mengelilingi Baitullah.
Setelah itu, bergegas pulang menemui Zainab, sang istri yang telah menebus dirinya dengan harta paling berharga yang dimiliki.
Sepanjang perjalanan, ia selalu terbayang wajah Rasulullah dan merasa sangat kasihan kepada Zainab. la tahu betapa besar cinta Rasulullah kepada bibinya, Khadijah, tetapi ia tidak pernah membayangkan bahwa cinta itu mampu meluluhkan hati beliau dengan hanya melihat kalung milik Khadijah.
Abu al-Ash ibn Rabi' melangkah lebih cepat untuk segera bertememu dengan sang istri sementara kerinduan begitu menggebu dalam dada. Hatinya penuh dengan cinta dan harapan.
la hendak melantunkan sebuah syair untuk mengungkapkan betapa berat emosi dan perasaannya itu, tetapi ia segera sadar dan teringat akan janji yang telah ia ucapkan kepada Rasulullah.
Abu al-'Ash mengernyitkan dahi sementara dirinya penuh dengan kesedihan. Abu al-Ash tidak mampu mengingkari janji karena itu akan mengotori sifat amanah yang membuatnya terkenal di tengah kaumnya.
Janji itu merupakan sesuatu yang menyakitkan dan memedihkan hati. Janji yang akan merusak rumah tangganya yang damai, rumah tangga yang sebelumnya tidak pernah terguncang meskipun oleh badai sekalipun.
Setibanya Abu al-Ash di rumah dan begitu melihat kedatangannya, Zainab menyambutnya dengan air mata kebahagiaan yang membasahi wajahnya. Dalam waktu sekejap saja, wajah itu berubah menjadi cermin hati yang memancarkan berbagai perasaan dan emosi. Tidak ada yang mereka rasakan selain napas dan perasaan mereka yang bergelora hingga tertumpah ruah karena haru.
Namun, tiba-tiba gema suara Rasulullah terngiang di dalam hati Abu al-'Ash. la pun melepaskan sang istri dari dekapannya sambil berkata, "Wahai Zainab, bersiap-siaplah untuk menyusul ayahmu!"
Dengan keheranan, Zainab memandang ke arah suaminya. la belum mengerti apa arti kata-kata Abu al-'Ash itu. Sebelum Zainab mengerti, Abu al-'Ash berbicara dengan wajah menunduk ke tanah, "Islam telah memisahkan aku dengan dirimu."
Abu al-'Ash telah berjanji kepada Rasulullah untuk mengembalikan Zainab kepada beliau, ke Madinah. la pun tahu betapa janji itu begitu berat bagi hatinya. Namun, ia segera menceritakan kepada Zainab tentang syarat yang diberikan oleh Rasulullah.
la merasa bahwa hatinya tercabik-cabik dan berkeping-keping tatkala melihat rombongan yang akan membawa pergi Zainab binti Rasulullah.
Zainab berusaha berperang melawan perasaannya sendiri. la berkemas untuk pergi. Dengan kejujuran lidah dan hatinya, Zainab menyatakan untuk siap melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun, perasaan membuatnya tidak berdaya hingga tidak mampu ia kendalikan.
Air matanya tidak pernah berhenti mengalir sementara hatinya selalu berdebar merindukan sang kekasih yang merupakan suami terbaiknya sepanjang masa.
Saat berkemas untuk menyusul sang ayah, Zainab bertemu dengan Hindun binti 'Utbah. la adalah wanita yang kehilangan ayah, paman, dan saudara yang tewas dalam Perang Badar.
Hindun berkata, "Wahai putri Muhammad, benarkan bahwa engkau hendak menyusul ayahmu?" Dengan hati-hati, Zainab menjawab, "Aku tidak menginginkan itu."
Hindun kembali berkata, "Wahai saudariku, janganlah engkau lakukan itu. Jika engkau membutuhkan kesenangan atau sesuatu yang bisa menemanimu dalam perjalanan, atau uang untuk bekalmu hingga di tempat ayahmu, aku bisa memenuhinya. Janganlah engkau malu karena tidak akan terjadi di antara wanita apa yang terjadi antara sesama laki-laki."
Zainab merasa bahwa Hindun berkata. Namun, ia takut dan tidak mau mengatakan bahwa dirinya memerlukan semua itu.
Zainab terus berkemas hingga selesai. la segera dibawa oleh saudara iparnya, Kinanah ibn Rabi', yang telah mempersiapkan seekor unta untuknya.
Kinanah membawa busur panah beserta tempat anak panahnya. Ia pergi membawa pergi Zainab pada siang hari. la berjalan menuntun unta sementara Zainab berada di dalam sekedup yang ada di atas punggung unta tersebut.
Para laki-laki dan wanita Quraisy ramai membicarakan kepergian Zainab. Mereka saling mencela dan keberatan jika putri Muhammad pergi dalam keadaan demikian.
Putri orang yang telah membunuh ayah dan anak-anak mereka. Karena itu, mereka pergi untuk mengejar hingga menemukan Zainab di daerah Dzu Thuwa. Orang pertama yang mengejarnya adalah Hubar ibn Aswad ibn Abdul Muththalib dan Nafi' ibn Abdul Qais al-Fahari.
Hubar meneror Zainab yang berada dalam sekedup dengan sebuah tombak. Darah pun mengalir dari tubuhnya karena pada saat itu Zainab sedang mengandung.
Kinanah ibn Rabi', yang saat itu bertugas menjaga Zainab, berdiri sambil membuka wadah anak panahnya. la ambil satu anak panah dan meletakkannya pada busurnya. la berkata, "Demi Allah, tidak seorang pun hari ini mendekati Zainab, kecuali aku tembus tubuhnya dengan anak panahku." Akhirnya, mereka pun mundur dan menjauh dari Kinanah.
Dalam kumpulan kaum Quraisy yang datang saat itu, majulah Abu Sufyan dan berteriak, "Wahai kawan, tahanlah anak panahmu! Kami ingin bicara denganmu!" Kinanah menahan anak panahnya.
Abu Sufyan mendekat dan berdiri di hadapannya. Ia berbicara, "Sunggu engkau telah melakukan kesalahan besar. Engkau pergi membawa perempuan ini secara terang-terangan dan di depan orang banyak sementara engkau tahu bagaimana musibah dan malapetaka yang telah kita alami karena Muhammad, ayah perempuan yang engkau bawa itu. Karena itu, jika engkau membawa pergi putri Muhammad ini untuk menemuinya secara terang-terangan, hal itu akan menunjukkan kerendahan yang kita alami dan kelemahan yang terjadi. Demi Allah, kita tidak perlu menahannya untuk menyusul ayahnya karena ia tidak bersalah, tetapi bawalah kembali perempuan ini sampal keadaan menjadi tenang dan orang-orang menyetujui untuk memulangkannya secara damai dan diam-diam. Setelah itu, bawalah ia untuk menyusul ayahnya."
Dengan perasaan takut, Zainab memandangi darah yang mengalir dari tubuhnya. Kinanah ibn Rabi' segera berpikir untuk membawa Zainab kembali, memenuhi saran Abu Sufyan, dan menyelamatkan nyawa istri saudaranya itu.
Saat orang-orang yang mengejar Zainab itu kembali, Hindun menyaksikan kedatangan mereka. Ia berkata kepada mereka, "Apakah dalam damai para laki-laki menjadi kasar dan kejam, sedangkan dalam perang mereka laksana wanita yang datang bulan?"
Terpaksa mereka kembali ke Makkah, tiba-tiba Zainab mengalami keguguran dan tubuhnya menjadi lemah. Setibanya di rumah suaminya, Abu al-' Ash, semua orang menghambur dan menggotong Zainab yang berlumuran darah.
Abu al-'Ash ibn Rabi' berusaha membalut derita sang istri yang telah dipisahkan darinya karena Islam.
Beberapa hari kemudian, Zainab berhasil memulihkan sedikit tenaganya. Pembicaraan tentang dirinya telah mereda. Karena itu, Kinanah ibn Rabi' segera mengajaknya untuk kembali menaiki unta sementara air mata Zainab bercucuran karena hendak berpisah dengan suaminya, Abu al-Ash.
Kali ini Kinanah membawa Zainab pada malam hari secara diam-diam. la pergi dengan sangat waspada karena takut akan dikejar kembali. Akhirnya, Kinanah ibn Rabi' berhasil membawa Zainab ke tempat yang di situ kedua utusan Rasulullah telah menanti, yaitu di daerah Dzu Thuwa.
la segera menyerahkan Zainab kepada mereka sambil berkata, "Aku heran terhadap Hubar dan kaumnya yang rendah. Mereka menginginkan agar aku berkhianat atas putri Muhammad. Namun, aku tidak peduli berapa pun banyaknya mereka selagi aku hidup, aku tidak akan menyerahkannya (Zainab) kepada mereka."
Kedua laki-laki itu pun membawa Zainab hingga menghadap Rasulullah. Ketika mereka tiba, hati Rasulullah berdebar saat menyambut kedatangan putri tercintanya itu dari negeri yang penuh dengan kesyirikan memasuki negeri lslam yang penuh dengan keimanan.
Beliau melihat bekas darah sang putri yarng telah mengering. Beliau juga mendengar kekejaman yang dilamukan oleh Hubar ibn Aswad terhadap Zainab hingga menyebabkan darah mengalir dari dirinya.
Tak terasa enam tahun telah berlalu, Zainab hidup di bawah naungan sang ayah, Muhammad SAW. Zainab tidak pernah putus asa untuk berharap agar cahaya Islam menembus ke dalam hati suaminya, Abu al-'Ash.