Setiap musibah yang diberikan Allah SWT baik peristiwa seperti bencana alam, banjir, kecelakaan merupakan salah satu peringatan bagi manusia. Khususnya umat Islam, bagi yang bertakwa hal tersebut adalah ujian supaya keimanannya semakin diperkuat.
"Sesuai skenario Allah, bagian sunatullah-Nya yang sudah didesain di lauhul mahfudz, bagi yang tertimpa musibah, maka hal tersebut bisa jadi teguran Allah, ujian Allah atas keimanan dan ketakwaan (musibah bisa baik bisa buruk)," kata Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani), Ustadz Ainul Yaqin saat dihubungi Okezone, Kamis (27/2/2020).
Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya ketika tertimpa musibah menyerahkan atau pasrah kepada Allah. Lebih mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara memperbanyak ibadah, seperti salat, zikir, puasa, sedekah, dan amal saleh lainnya.
"Sebagai seorang muslim yang saleh, kita harus khusnudzon (berprasangka baik) kepada-Nya, dengan menerima musibah yang menimpa kita adalah ujian keimanan dan ketakwaan. Mungkin saja selama ini kita lalai, lupa diri, terlalu asyik dengan duniawi, terlalu jauh langkah kita sehingga membuat jarak dengan Allah.
Allah SWT menyentuhnya dengan musibah," ujarnya.
Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang singgah di suatu tempat kemudian ia berdoa,
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
Artinya: "(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan-Nya) niscaya tidak akan ada yang memudharatkannya"(HR. Tirmidzi: 3437, dan An Nasai: 5433)
Lebih lanjut, kata dia, sebagai muslim yang bertakwa harus menerima semua ketentuan yang telah Allah berikan.