DUA pasangan mualaf asal Inggris dan Jepang ini membagikan cerita bisa melakukan perjalanan umrah sebelum terjadinya pandemi corona virus disease (covid-19). Mereka pun bersyukur bisa menjalankan undangan ke rumah Allah Subhanahu wa ta'ala ini.
Hanan Sandercock dan suaminya John Smith serta Kaiji Wada dan istrinya Yussane Pitaloka termasuk di antara sekira 100 mualaf dari seluruh dunia yang melakukan ibadah umrah pada akhir Desember 2019.
Arab Saudi kemudian pada awal Maret 2020 menutup perbatasan untuk mencegah persebaran virus corona, termasuk menghentikan sementara aktivitas ibadah umrah.
"Kami sudah sangat bersyukur menjadi bagian dari kelompok ini. Ketika ditutup, kami tambah bersyukur karena dengan lancar beribadah pada bulan Desember dan kembali dengan selamat pada bulan Januari. Alhamdulilah," kata Hanan yang tinggal di Cardiff, Wales, Inggris Raya, dikutip dari BBC News Indonesia, Rabu (3/6/2020).
"Sebagian dari kami sakit dan saat itu kami curiga apakah mereka terinfeksi covid, tapi ternyata bukan," tambah perempuan yang masuk Islam 25 tahun lalu ini.
Sementara Kaiji –yang menambahkan nama Kadir setelah masuk Islam pada 2017– mengatakan keputusan Pemerintah Arab Saudi itu membuatnya sedih.
"Karena banyak orang tidak bisa beribadah. Tapi itu sudah jalan yang paling baik yang diambil Pemerintah Saudi. Namun, kita juga bersyukur sekali masih bisa umrah dengan aman," tuturnya.
"Saya hampir menangis saat melihat Kakbah untuk pertama kalinya. Ini karena momen saat saya bisa merasakan kebesaran dan hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala," ungkapnya kepada wartawan BBC News Indonesia Endang Nurdin.
"Beberapa tahun sebelumnya saya hanyalah pria Jepang biasa yang sekuler. Kehidupan saya waktu itu sangat jauh dari ajaran Islam. Siapa yang bisa membayangkan orang seperti saya berdiri di depan rumah Allah Subhanahu wa ta'ala? Tak ada yang bisa mengaturnya kecuali Allah. Satu hal yang tak akan saya lupakan," terangnya.
Satu hal lagi yang menurut dia paling diingat adalah saat melantunkan Talbiyah (bacaan setelah berniat umrah atau haji) dalam perjalanan ke Masjidil Haram.
"Emosi saya begitu tinggi dan hampir menangis karena perasaan yang bercampur antara khawatir, senang, dan perasaan penuh harapan," beber Kaiji tentang pengalaman dua minggu menjelang akhir tahun lalu.
Hanan mengatakan hal serupa. "Sulit saya jelaskan namun tak ada bandingannya."
Ia juga menyebut momen mendengar azan Subuh ketika di Madinah menjadi pengalaman yang disebut begitu indah dan membuat hati penuh ketenangan.
"Pengalaman luar biasa yang tidak akan pernah saya alami lagi, khususnya bersama para mualaf lain di seluruh dunia," tambah Hanan.
Sabri Shiref dari European Muslim Forum, badan amal yang menyelenggarakan umrah untuk mualaf dari seluruh dunia sejak 2015, mengatakan tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengalaman ibadah di Kota Makkah dan Madinah.
"Kami membuka pendaftaran dan juga menerima rekomendasi, namun kami melakukan seleksi. Intinya yang kami ajak, mereka yang berpandangan moderat," jelasnya.