MENJALANI Ramadhan di Indonesia sangat menyenangkan. Mengingat negeri ini memiliki banyak umat Muslim, suasana Ramadhan begitu kental terasa.
Sudan juga termasuk negara dengan mayoritas penduduk beragama Muslim. Namun yang berbeda dari Ramadhan di negeri dua nil itu adalah kondisi perekonomian, sosial, dan politik negara yang cukup memprihatinkan.
BACA JUGA:
Hal ini yang dirasakan oleh mahasiswi Indonesia, Lutfi Retno Wulan. Beberapa tahun belakangan, Bulan Ramadhan jatuh tepat ketika musim panas sedang berada di puncaknya. Meski begitu seluruh umat muslim di Sudan tetap semangat menjalani puasa mereka.
"Pada siang hari bolong pun para pedagang sayur di pasar masih tetap menggelar dagangan mereka," kisah Lutfi Retno kepada Okezone dalam sebuah kesempatan.
Hal yang paling berkesan baginya saat menjalankan ibadah Ramadhan di Sudan adalah saat dirinya menjadi salah satu volunteer lembaga zakat asal Indonesia. Ia membantu program kemanusiaan di bulan Ramadan seperti berbagi takjil, berbagi sembako, daurah tahfidz, buka bersama internasional, juga i'tikaf.
BACA JUGA:
Dalam kesempatan itu, Lutfi Retno juga berkisah, bertemu dengan para penghafal Al Quran di Sudan. Di Sudan, terdapat banyak pondok tahfidz yang di sebut Khalwah. Para santri khalwah berumur dari mulai 10 tahun hingga 45 tahun kebanyakan adalah anak yatim yang dititipkan untuk menghafal Al-Quran disitu.
Banyak dari mereka yang telah menyelesaikan hafalannya, bahkan Lutfi Retno mengaku sempat berbincang dengan salah satu santri berumur 12 tahun yang telah menyelesaikan hafalan Al-Quran.
Yang menjadi perhatian Lutfi Retno dalam kegiatannya itu adalah kondisi sebuah khalwah yang bernama Anwar Al Muhammadiyah Umbadda. Kondisinya sangat memprihatinkan, dengan total 300 santri, hanya ada satu gedung kamar dengan total 4 kamar.