Perbedaan Rukyat Hilal dan Hisab dalam Menentukan Awal Ramadan.

Rahman Asmardika, Jurnalis
Sabtu 14 Februari 2026 13:33 WIB
Ilustrasi.
Share :

JAKARTA - Perbedaan metode rukyat hilal dan hisab dalam menentukan awal Ramadan sering memicu perdebatan hangat di kalangan umat Islam Indonesia, terutama menjelang Sidang Isbat 1447 H/2026 yang tinggal tiga hari lagi.

Kedua metode ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW: "Jangan berpuasa sebelum melihat hilal dan jangan berbuka sebelum melihatnya; jika mendung, hitunglah" (HR Bukhari), namun pendekatan ilmiahnya berbeda dan berpotensi memengaruhi prediksi awal Ramadan apakah 18 atau 19 Februari 2026.

Pengertian Hisab

Hisab adalah metode perhitungan astronomis untuk memprediksi posisi hilal saat matahari terbenam, tanpa pengamatan langsung. Secara etimologis dari bahasa Arab "حَسَبَ" berarti menghitung secara sistematis. Metode ini melibatkan data orbit bulan-matahari untuk menentukan apakah hilal sudah di atas ufuk.

Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal: jika bulan terbenam setelah matahari (walaupun 0,1 derajat tinggi), esok adalah 1 Ramadan—seperti prediksi mereka 18 Februari 2026.

Pengertian Rukyat Hilal

Rukyat hilal berasal dari "ar-ru'yah" (melihat), yakni pengamatan langsung bulan sabit di ufuk barat pasca-maghrib dengan mata telanjang atau teleskop. Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) menerapkan imkanur rukyat: hilal harus memenuhi kriteria ketinggian minimal (sekitar 3 derajat) agar sah; jika tidak terlihat, bulan Syaban digenapkan 30 hari. Proses ini dilakukan di 38 titik oleh Kemenag dan BMKG, hasilnya dibahas di Sidang Isbat 17 Februari 2026.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya