Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan, puasa saleh (shaumul khusus) jaga mata dari haram, lisan dari keji, telinga dari maksiat. Rasulullah waspadai: النَّظَرَ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ – "Pandangan haram anak panah beracun iblis. Meninggalkannya karena takut Allah, diberi iman yang manis di hati" (HR Ahmad).
Di era media sosial saat ini, menjaga pandangan lebih sulit. Bukan hanya jalanan, algoritma scroll tawarkan konten syahwat. Ini butuh puasa digital—tahan jari klik konten haram, jihad besar saat berbuka!
Syaikh Muhammad Mahfudh At-Tarmasi kutip al-Mutawalli: "Puasa mata dari haram, telinga dari maksiat, lisan dari dusta-ghibah." Era digital, tantangan berat tapi pahala besar.
Saudaraku, Ramadan momentum latih mata lihat kebaikan saja. Jangan hanya lapar haus, tapi jiwa suci taat. Rasulullah janjikan cahaya iman bagi yang tundukkan pandang. Jadikan puasa latihan total: perut, mata, hati untuk Allah. Semoga kita bukan puasa kosong, tapi juga mendapatkan ampunan dan takwa.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa ash-sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma'in. Amma ba'du.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Ramadan bulan penuh berkah diisi rangkaian ibadah istimewa. Salah satu amalan utama adalah sholat Tarawih dan Witir setiap malam setelah sholat Isya, dengan Witir lebih utama di akhir malam sebagai penutup ibadah sunnah. Bukan sekadar rutinitas, keduanya menghidupkan malam-malam Ramadan dengan ketaatan kepada Allah.
Sholat Tarawih sunnah muakkad sangat dianjurkan berjamaah di masjid, meski boleh sendiri. Keutamaannya luar biasa: Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa melaksanakan sholat (Tarawih) di Ramadan dengan iman dan ikhlas karena Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lalu." (HR Muslim).