nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Doa Senjata Orang Beriman

Jum'at 17 Mei 2019 18:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 17 330 2057100 doa-senjata-orang-beriman-NRJwZNAIfA.jpg Ilustrasi doa seorang hamba kepada sang khaliq

PADA dasarnya Allah maha mengetahui keinginan manusia tanpa perlu diungkapkan. Tetapi Allah mencintai seorang hamba yang bermunajat. Di balik mengangkat kedua tangan ada keangkuhan yang runtuh di dalam hati, dan menumbuhkan segenap kesadaran akan kelemahan diri, untuk senantiasa menggantungkan segala sesuatu hanya kepada-Nya. Sebab itulah doa merupakan senjata orang yang beriman.

Terlepas dari sebab-musabab doa tertolak, selain itu Allah akan mengabulkan setiap doa hamba-Nya. Seperti yang terkandung dalam Qs. Ghafir ayat 60: “Ud’uni astajib lakum,” yang artinya, berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

Namun ada beberapa cara Allah dalam mengabulkan doa seorang hamba, yaitu melalui tiga hal; pertama doa yang langsung terkabul, kedua terkabul dengan waktu yang tertunda, dan ketiga diganti dengan yang lebih baik. Seperti yang terkandung dalam Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah.

“Terlambat datangnya pemberian (Allah), mesti sudah dimohonkan berulang-ulang, janganlah membuat patah harapan. Karena Dia telah menjamin untuk mengabulkan permintaan sesuai dengan apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan menurut keinginan engkau sendiri. Juga dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.” (Kitab Al-Hikam, nomor 6).

Meskipun Allah telah menetapkan ketentuan mengenai doa, namun tidak sedikit orang mengeluhkan perihal tertundanya pengabulan doa. Keimanannya ternoda karena ketidaksabaran (tergesa-gesa) dan kekerdilan pikiran. Sementara Suri Tauladan—Nabi Muhammad—telah memperingatkan untuk tidak terburu-buru dalam berdoa.

“Rasulullah SAW, bersabda: “Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda: “Doa para hamba akan senantiasa dikabulkan, selama tidak berdoa yang isinya dosa atau memutus silaturrahim, selama dia tidak terburu-buru.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdoa?” Beliau bersabda, “Orang yang berdoa ini berkata: “Saya telah berdoa, saya telah berdoa, dan belum pernah dikabulkan.” Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan doa.” (HR. Muslim dan Abu Daud)

Sifat tergesa-gesa tercipta karena merasa waktu begitu lama berjalan sampai pada doa itu sendiri didatangkan. Ini disebabkan manusia sedang di dalam lingkaran keinginannya. Membuat ia tersiksa dengan keadaannya sendiri. Padahal bagi Allah, itu amatlah sebentar.

QS. Al-Ma’arij ayat 6: “Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh.” QS. Al-Ma’arij ayat 7: “Sungguh Kami memandangnya dekat.”

Seseorang yang memiliki persepsi bahwa keinginan yang dimunajatkan dalam doanya merupakan hal terbaik bagi dirinya untuk Allah wujudkan, bisa jadi itu keliru. Terkadang persepsi manusia terhalang atau ada pembatas. Karena asumsi manusia terlahir dari apa yang masuk melalui panca indera lalu menjadi pengetahuan yang mengendap dalam pemikiran, sehingga setiap asumsi-asumsi terbaiknya berlandaskan persepsi semata. Sedangkan Allah maha mengetahui meliputi segalanya.

Maka sudah sepantasnya menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Biarkan Allah menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya. Dengan demikian doa adalah bentuk penghambaan seutuhnya seorang hamba atas ketidakberdayaan pada suatu perkara, dan meruntuhkan keangkuhan di dalam hati, untuk menggantungkan segala sesuatu hanya kepada Allah. –Wallahu alam.

Penulis: Rachmat Tullah

(Corps Dai Dompet Dhuafa)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini