nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada Hijrah Palsu, Chasing-nya Taaruf, Channel-nya Pacaran

Intan Afika, Jurnalis · Kamis 20 Juni 2019 13:51 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 20 330 2068710 waspada-hijrah-palsu-chasing-nya-taaruf-channel-nya-pacaran-T30IGt1RhO.jpg Mencari pasangan dengan taaruf Foto (Spell Wazifa)

Saat ini kata hijrah menjadi tren di semua kalangan, terutama pemuda dan pemudi.Bahkan marak kita temui kampanye gerakan hijrah di media sosial.

Itu merupakan hal yang bagus. Namun hijrah harus didalami dan didasari dengan ilmu, karena jika tidak, bisa-bisa itu hanya menjadi hijrah palsu.

"Kata anak muda, Alhamdulillah saya sudah hijrah. Tapi sebagian hijrahnya palsu. Katanya sudah hijrah, tapi kok masih ada tahajud calling?", ujar Ustadz Abdul Somad dalam video di Instagram.

 Pasangan Muslim

(Foto: Spell Wazifa)

Hijrah dalam konteks Islam berarti meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya, atau yang dikenal dengan istilah hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya." (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain, Rasulullah menegaskan, berhijrah berarti meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.

“Seorang Muslim ialah orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ustadz Abdul Somad menjelaskan, sebenarnya tak boleh membangunkan pacar untuk salat Tahajud sebab dalam Islam ini tak ada istilah pacar. Pemuda yang hijrah mengakunya sering ta'aruf bukan pacaran.

"Chasing-nya ta'aruf, chanel-nya pacaran. Pacaran apa nih? Pacaran syariah Pak. Oh, dibaginya ada konvensional. Pacaran syariah, bangunkan salat Tahajud, ngajak taraweh,la talbisul-haqqa bil-batili, jangan kau campur yang haq dengan yang bathil," terang Ustad Abdul Somad.

Pacaran tidak lepas dari tindakan menerjang larangan Allah SWT. Pacaran bermula dari memandang lawan jenis kemudian timbul rasa cinta dan berusaha ingi memilikinya.

Entah dengan cara kirim SMS, surat cinta, telepon, atau yang lainnya. Setelah itu terjadilah saling bertemu, bertatap muka, menyepi dan saling bersentuhan sambil mengungkapkan rasa cinta dan sayang.

Semua perbuatan tersebut dilarang dalam Islam karena merupakan jembatan dan sarana menuju perbuatan yang lebih keji, yaitu zina. Bahkan, boleh dikatakan, perbuatan itu seluruhnya tidak lepas dari zina.

Sesuai sabda Rasulullah SAW:

”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)

Jika kita sudah menetapkan hati untuk hijrah, berarti kita tidak boleh mendekati zina atau pacaran.

Secara garis besar, hijrah dibedakan menjadi dua macam, yaitu hijrah makaniyah, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan hijrah maknawiyah yaitu mengubah diri dari yang buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridhaan Allah SWT.

Contoh hijrah makaniyah adalah peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah serta hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa.

"Berkatalah Ibrahim, `sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku, sesungguhnya Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.'" (QS Al-Ankabut: 26).

"Maka keluarkanlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, `ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.'" (QS Al-Qashash: 21).

Hijrah maknawiyah dibedakan menjadi empat, yaitu hijrah i'tiqadiyah (hijrah keyakinan), ketika seorang Muslim mencoba meningkatkan keimanannya agar terhindar dari kemusyrikan.

Kedua, hijrah fikriyah (hijrah pemikiran), ketika seseorang memutuskan kembali mengkaji pemikiran Islam yang berdasar pada sabda Rasulullah dan firman Allah demi menghindari pemikiran yang sesat.

Ketiga, hijrah syu'uriyyah adalah berubahnya seseorang yang dapat dilihat dari penampilannya, seperti gaya berbusana dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah ini biasa dilakukan untuk menghindari budaya yang jauh dari nilai Islam, seperti cara berpakaian, hiasan wajah, rumah, dan lainnya.

Terakhir adalah hijrah sulukiyyah, hijrah tingkah laku atau kepribadian. Hijrah ini digambarkan dengan tekad untuk mengubah kebiasaan dan tingkah laku buruk menjadi lebih baik, seperti orang yang sebelumnya selalu mencuri berubah menjadi pribadi yang berakhlak. Yuk! Kita perdalam ilmu agama kita agar hijrah kita tidak menjadi hijrah palsu.

(ful)

Berita Terkait

Hijrah

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini