Mengenang KH Hasyim Asy'ari, Kakek Gus Dur, Sang Pendiri NU

Jum'at 26 Juli 2019 16:47 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 26 614 2084000 mengenang-kh-hasyim-asy-ari-kakek-gus-dur-sang-pendiri-nu-Ex9kSsl394.jpg Kiai Hasyim Asy'ari diberi gelar pahlawan oleh Presiden Soekarno (Foto: NU Online)

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah salah satu tokoh pahlawan nasional. Beliau adalah pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU). Beliau wafat pada 7 Ramadan 1366.

 Kiai Hasyim Asy'ari, Pendiri NU

Kiai Hasyim Asy’ari telah melalui lika-liku kehidupan dalam perjalanan dakwahnya, berikut ini biografi singkat beliau yang telah Okezone rangkum, Jumat (26/7/2019).

Beliau lahir dengan nama Mohammad Hasjim Asy’arie di Kabupaten Jombang pada tanggal 14 Februari 1871. Ia adalah putra ketiga dari sepuluh bersaudara dengan sosok ayah bernama Kiai Asy’ari, pengasuh Pesantren Keras di Jombang sebelah Selatan. Ia memiliki garis keturunan dengan Sultan Pajang (Jaka Tingkir/Adipati Adiwijaya) dan masih terkait dengan Raja Majapahit, Raja Brawijaya V.

Saat usianya 15 tahun, Hasyim Asy’ari berkelana menimba ilmu dari berbagai tokoh dan pesantren. Beberapa di antaranya adalah Pesantren Siwalan di Sidoarjo, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang, dan Pesantren Kademangan di bawah pengajaran Syaikhona Kholil (Bangkalan) bersama KH Ahmad Dahlan muda.

Setelah beliau berkelana menimba ilmu pada tiap pesantren di pulau Jawa, beliau memutuskan untuk memperdalam ilmu agama ke Makkah pada tahun 1892.

Di Makkah beliau berguru pada Syekh Ahmad Kahtib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Rahmaullah, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Sholeh Bafadlal, Syekh Said Yamani, Sayyid Husein Al-Habsyi, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Abbas Maliki.

Beliau menekuni ilmu hadits di bawah bimbingan Syaikh Mafudz, seorang ulama pertama dari Indonesia yang mengajar Sahih Bukhori di Makkah. Beliau pun mendapat ijazah dari Syaikh Mafudz.

Selain belajar hadits, beliau juga belajar tasawuf atau sufi dengan pendalaman pada tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, fiqih madzab syafi’i serta ilmu tafsir Al-manar.

Selain kepada Syaikh Mahfudz, KH Hasyim Asy’ari juga menimba ilmu dari Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang ahli di bidang ilmu falak, ilmu hisab (matematika) dan fiqih madzhab Syafi’i.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Setelah memutuskan kembali ke bumi kelahirannya, KH Hasyim Asy’ari pun mendirikan Pesantren Tebuireng dengan bantuan Mbah Zahid pada tahun 1899. Pesantren ini terkenal dengan pengajaran dalam bidang ilmu hadits. Seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat yang membutuhkan ilmu agama, pesantren Tebuireng pun menjadi salah satu pesantren terbesar di Jawa.

Setelah Pesantren Tebuireng sukses, pada tahun 1926, K.H Hasjim Asy'ari menjadi salah satu pemrakarsa berdirinya Nadhlatul Ulama (NU), yang berarti kebangkitan ulama. Meski Nahdatul Ulama artinya kebangkitan ulama, bukan berarti pengikut dari gerakan ini haruslah berasal dari kalangan ulama. Kini gerakan masa ini sudah tersebar ke seluruh penjuru nusantara dan menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia.

Pada tahun 1964 K.H Hasjim Asy'ari mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia yang diberikan oleh presiden Indonesia yang pertama yakni Ir. Soekarno. Gelar ini disematkan bukan tanpa alasan. Meski tidak turut berperang dalam melawan penjajahan dengan cara fisik, namun beliau berperan besar dalam melawan penjajahan dengan membekali ilmu serta karakter anak bangsa Indonesia melalui pendidikan agama.

Di kalangan nahdliyin dan ulama pesantren besar di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, beliau diberikan gelar Hadratus Syeikh. Julukan tersebut artinya mahaguru atau guru dari seluruh guru. Kemampuannya dalam menguasai ilmu agama serta pengalaman panjang belajar di kota suci Makkah membuat beliau memiliki pemahaman yang amat luas terkait ilmu agama.

Bukti yang menunjukkan peran KH Hasyim Asy’ari sangat krusial ialah ketika Bung Tomo dan bahkan Bung Karno meminta fatwa dari beliau tentang hukum melawan penjajah. Dari situlah lahir 'Resolusi Jihad' yang kemudian membuahkan perjuangan para pemuda pada tanggal 10 November di Surabaya melawan Belanda.

Meski KH Hasyim Asy’ari adalah ulama kharismatik yang kedalaman ilmunya tidak diragukan, beliau tetap tidak tinggi hati dan bahkan mejadi sosok pengayom masyarakat yang welas asih dan toleran.

“Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahap kedua, ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan yang ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.” ucap Sayyidina Umar Ibn Khattab yang dilansir dari situs NU Online.

Tentang sikap toleran KH Hasyim Asy’ari, terlihat dalam kisah ketika salah seorang santrinya yang baru datang dari Yogyakarta hendak melaporkan sesuatu. Santri tersebut mengatakan bahwa ia melihat sekelompok aliran yang sesat. KH Hasyim pun bertanya-tanya mengenai aliran sesat tersebut. Santri lantas menjelaskan ciri-ciri aliran yang ditemuinya itu.

Sang santri mengatakan bahwa aliran tersebut tidak melaksanakan pembacaan qunut ketika Subuh dan pimpinannya bergaul dengan organisasi Budi Utomo. Ditanyakanlah oleh KH Hasyim Asy’ari siapa pemimpin dari kelompok tersebut. Santri menjawab bahwa pemimpin tersebut adalah Ahmad Dahlan.

Sontak KH Hasyim Asy’ari pun tersenyum sambil menyahut, “Oh, Kang Darwis, toh?” Setelah mendengarkan penuturan santri tersebut, beliau lantas menceritakan bahwa KH Ahmad Dahlan adalah temannya ketika di Makkah. Beliau juga menjelaskan bahwa aliran yang dimaksud sang santri itu tidaklah sesat. Malah kemudian KH Hasyim Asy’ari berkata, “Ayo padha disokong!” (Ayo, kita dukung sepenuhnya).

Abu Musa meriwayatkan, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kaum mukmin adalah bersaudara satu sama lain. Ibarat dalam suatu bangunan, satu bagian memperkuat bagian lainnya.” Kemudian beliau menyelipkan jari-jari di satu tangan dengan jemari tangan lainnya agar kedua tangannya tergabung. (HR. Bukhori)

Hikmah yang bisa diambil dari cerita di atas adalah sikap KH Hasyim Asy’ari ketika mendengarkan penuturan santrinya terkait aliran sesat. Beliau merespon dengan bijaksana yaitu dengan menanyakannya secara detail terlebih dahulu sebelum memberikan pernyataan.

Beliau tidak langsung memberikan judgement karena memiliki pandangan luas dan pemahaman yang baik selama di Timur Tengah mengenai persoalan perbedaan furu’iyyah yang wajar terjadi.

Bahkan ketika melihat potensi gesekan antara NU dan Muhammadiyah semakin tajam, KH Hasyim Asy’ari mengatakan di hadapan para santrinya, “Kita dan Muhammadiyah itu sama. Kita taqlid qauliy (mengambil pendapat ulama salaf), mereka taqlid manhaji (mengambil metode).”

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata; "Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lainnya. Oleh sebab itu, janganlah menzalimi, meremehkan, dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya