Saat dijawab seperti itu oleh Mbah Moen, Shodiqun hanya husnudhon bahwa yang dimaksud Mbah Moen dengan 'tinggal di sini sampai tanggal lima' adalah tinggal di dalam hotel yang beliau tempati saat ini, bukan tinggal di Makkah.
Menjelang subuh, hujan mengguyur kota Makkah. Shodiqun yang berangkat ke Masjidil Haram pun basah kuyup. Baginya cuaca kali ini aneh karena terjadi pada musim panas. “Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini?” tuturnya.
Tak beberapa saat kemudian hati Shodiqun tersentak oleh kabar wafatnya Mbah Moen. Di kepalanya kembali terngiang dawuh Mbah Moen terakhir saat di hotel, dan Shodiqun baru sadar bahwa pemahamannya meleset.
Pada tanggal 5 Dzulhijah 1440 H atau 6 Agustus 2019, Mbah Moen memang bukan hanya meninggalkan hotel, tapi juga Makkah, bahkan dunia dengan segenap hiruk pikuknya ini.
Ulama kelahiran 28 Oktober 1928 itu mengembuskan napas terakhir dengan tenang pada pukul 04.17 di Kota Makkah, Arab Saudi. Allâhummaghfir lahu warhamhu wa ‘âfihi wa‘fu ‘anhu.
(Dyah Ratna Meta Novia)