HANYA keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama. Itulah ungkapan untuk seseorang yang mengulang-ulang kesalahannya. Jika kesalahan tersebut berimbas dosa, tentu kita harus memohon ampun. Untuk diketahui, sebenarnya ada doa mohon ampun karena mengulangi kesalahan yang sama.
Dilansir dari laman tebuireng pada Sabtu (14/9/2019), Alumni Unhasy dan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Silmi Adawiya mengatakan doa mohon ampun karena mengulangi kesalahan yang sama tersebut berasal dari Mutharrif bin Abdillah yang tertulis dalam kitab Aqwalu Salaf. Bacaan doanya yaitu:
اللهم اني أستغفرك مما تبت اليك منه ثم عدت فيه وأستغفرك مما جعلته على نفسي ثم لا أف به لك وأستغفرك مما زعمت عني أردت به وجهك فخالط قلبي منه ما قد عملت
Allahumma inni astaghfiruka mimma tubtu ilaika minhu summa udtu fih wa astaghfiruka mimma ja’altahu ala nafsi summa la uffi bihi laka wa astaghfiruka mima za’amta anni aradtu bihi wajhaka fakhalata qalbi minhu ma qad amiltu
Artinya; “Ya Tuhan, Aku memohon maaf kepadamu dari apa-apa yang telah aku sesali kemudian aku mengulanginya, dan aku memohon maaf atas apa yang telah engkau tetapkan namun ku tak melakukannnya, dan aku memohon ampun atas dugaanku terhadap-Mu yang membuat hatiku resah.”
Menurut Silmi, membaca doa mohon ampun karena mengulangi kesalahan yang sama lebih baik daripada menyesali berlarut-larut hingga putus asa.
Menurut Silmi, Allah selalu memberi ampunan kepada setiap hamba yang datang kepada-Nya, sebab Allah Maha Pengampun. Bahkan untuk seseorang yang melampaui batas pun, Allah masih memanggilnya untuk tidak berputus asa dan memohon ampunan kepada-Nya.
Dalam QS Az Zumar ayat 54 disebutkan:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Abu Sahma Pane)