Kiai Siradj yang akrab disapa Mbah Siradj (baca: Siroj) merupakan seorang ulama dari Kota Solo. Ia dikenal sebagai seorang waliyullah yang memiliki berbagai kisah penuh karomah.
Salah satu karomah yang Kiai Siradj miliki adalah mampu membuat stok makanan terus penuh alias tak pernah kehabisan beras. Simak kisahnya berikut ini!

Meski seorang kiai, penampilan Mbah Siradj berbeda dengan ulama-ulama lainnya. Ronggojati Sugiyatno, yang sejak kecil bersama ayahnya menjadi pembantu utama Mbah Siradj, mengenang ulama kharismatik itu selalu mengenakan pakaian adat baik di rumah maupun saat bepergian. Saat berdakwah atau melaksanakan salat berjamaah beliau selalu mengenakan jarik.
“Beliau tidak pernah pakai sarung, tapi pakai jarik. Pakaiannya putih polos dan pakai ikat kepala khas Jawa, kadang bawa keris,” kata Sugiyatno.
Namun Sugiyatno mengaku tidak tahu alasan Mbah Siradj mengenakan pakaian tersebut. Namun selama sekitar 10 tahun mengikuti Mbah Siradj, dia melihat cara dakwah yang dekat dengan umat serta sesuai budaya setempat.
“Beliau dakwahnya itu dakwah ala Jawa, dekat dengan umat di sekitarnya. Bahkan kalau jadi imam salat surat yang dibaca selalu Al-Kafirun di rakaat pertama dan Al-Ikhlas di rakaat kedua. Tujuannya untuk memudahkan umat mamaknai dan menghayati bacaan,” ujar dia.
“Yang selalu saya ingat, beliau mengajarkan agar saya punya teman sebanyak-banyaknya, tanpa membeda-bedakan,” lanjut Sugiyatno.
Mbah Siradj bahkan dekat dengan lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Dengan ilmunya yang tinggi, Mbah Siradj pernah menjadi penasihat spiritual Raja Pakubuwono (PB) X. Namun Mbah Siradj tidak sombong dan tetap bersahaja.
“Kalau Mbah Siradj sudah datang ke keraton, tamunya PB X yang lain disuruh pulang semua,” kata dia.
Seperti dilansir wesite Jatman, kedekatan Mbah Siradj dengan warga kampung ditunjukkan dalam kebiasaannya berkeliling kampung.
Saat melintasi rumah warga, dia selalu menanyakan tentang stok makanan.
Apabila warga tersebut tidak bisa makan, maka Mbah Siradj selalu berusaha membantu agar dapur warga sekitarnya tetap mengepul.
“Pernah nenek saya tidak bisa menanak nasi karena berasnya habis. Setelah Mbah Siradj datang melihat dan memegangi wadah beras, beliau lalu berdoa. Berkat usaha keluarga dan dibantu karomah yang dimiliki Mbah Siradj, selanjutnya keluarga kami tidak pernah kehabisan beras,” kata Sugiyatno.
Itulah karomah Mbah Siradj, membuat sebuah keluarga tak pernah kehabisan stok beras yang sangat berharga.
(Dyah Ratna Meta Novia)