nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

6 Wasiat Kiai Masthuro yang Bisa Dijadikan Pedoman Hidup

Novie Fauziah, Jurnalis · Jum'at 18 Oktober 2019 12:36 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 18 614 2118566 6-wasiat-kiai-masthuro-yang-bisa-dijadikan-pedoman-hidup-gDqt2LgYlF.jpg Kiai Masthuro saat masih hidup dan keluarga (Foto: Ponpes Al Masthuriyah)

Sebelum meninggal biasanya, orangtua memberikan wasiat kepada anak-anak dan cucunya. Biasanya wasiat ini merupakan petunjuk agar kehidupan keluarganya tetap tertata dengan baik sepeninggalnya.

 Ilustrasi santri

Begitu pula, Pendiri Pondok Pesantren Al Masthuriyah, Sukabumi Kiai Muhammad Masthuro sebelum wafat ia memberikan wasiat kepada anak-anak dan cucunya beserta keluarga besarnya. Apakah wasiat tersebut?

Rupanya enam wasiat tersebut merupakan kata-kata bijak yang bisa dijadikan pedoman hidup bagi anak cucunya serta muslim pada umumnya.

Seperti dilansir dari website Pondok Pesantren Al Masthuriyah, berikut enam wasiyat tersebut:

1.Kudu ngahiji dina ngamajukeun pesantren, madrasah. Ulah pagirang-girang tampian. (Harus bersatu untuk memajukan pesantren, madrasah. Jangan riya)

2. Ulah Hasud (Jangan suka menghasut)

3. Kudu nutupan kaaeban batur (Harus menutupi aib orang lain)

4. Kudu silih pikanyaah (Harus saling menyayangi)

5. Kudu boga karep sarerea hayang mere (Harus punya keinginan untuk memberi)

6. Kudu mapay thorekat anu geus dijalankeun ku Abah (Harus melanjutkan atau menelusuri yang sudah dijalankan abah {Kiai Masthuro} )

Wasiat nomor satu ini memiliki arti yang sangat penting. Yakni dalam menanamkan dan memperkuat keinginannya untuk mengembangkan lembaga pendidikan yang dibangunnya yakni pesantren dan madrasah.

Kedua, Ajengan Masthuro berpesan jangan saling menghasut. Sebab, perbuatan tersebut termasuk ke dalam akhlak tercela dan akan merusak kerukunan dalam keluarga.

“Ya, ini bagian wasiat Abah (panggilan keluarganya),” kata salah satu cucunya, Mumu Mudzakir pada Okezone, Jumat (18/10/2019).

Ketiga, Ajengan Masthuro pun berpesan supaya saling menutupi aib atau kesalahan oranglain. Khususnya keluarga sendiri, supaya tidak disebar-sebarkan kepada pihak luar. Dan nantinya ini akan menjadi fitnah.

Keempat, kudu silih pikanyaah yang artinya harus saling mengasihi satu sama lain. Serta, jangan sampai tak peduli terhadap saudaranya sendiri.

Kelima, Ajengan Masthuro pun berpesan harus saling memberi. Yaitu memeperbanyak sedekah sebagian harta yang dimiliki.

“Kiai Masthuro juga berpesan supaya saling memberi kepada sesame, khususnya keluarga. Dan jangan pelit,” kata Mumu.

Keenam, kudu mapay thorekat anu geus dijalankeun ku Abah. Artinya baik keluarga atau para santri Ajengan Masthuro harus menjalankan apa-apa yang sudah dilakukannya selama ini. Misalnya, memajukan pesantren.

Wasiat yang diamanatkan Kiai Masthuro ini bisa dijadikan sebagai pedoman hidup selain keluarganya. Umat Islam bisa memakai enam wasiat ini sebagai pedoman hidup agar hidupnya penuh berkah dan rahmat Allah SWT.

Wasiat ini juga berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari muslim.

Dua di antaranya adalah jangan hasut dan harus menutupi aib orang lain. Ini bisa jadi contoh yang sangat baik, di mana saat akhir zaman seperti sekarang ini banyak fitnah yang bermunculan.

"Wasiat ini bisa jadi contoh hidup," kata Mumu yang juga guru Fikih di Al Masthuriyah.

Sementara itu, seperti dikutip dari laman resmi Darunnajah, terdapat beberapa hadist Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang wasiat orang yang sudah meninggal dunia. Salah satunya adalah wasita berupa ajakan kepada umat Islam untuk selalu beribadah. Dari Abi Umamah RA. berkata,

“Saya mendengar Rasullullah SAW berkhotbah pada haji wada’ beliau bersabda: ”Bertaqwalah kepada Allah dirikanlah shalat berpuasalah tunaikan zakat dan taatilah para pemimpin kamu niscaya engkau akan masuk surga.” (HR. Tirmidzi).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini