Maulid Nabi, Mimpi Cahaya sebagai Tanda Bakal Lahirnya Rasulullah SAW

Novie Fauziah, Jurnalis · Sabtu 02 November 2019 01:28 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 01 614 2124741 maulid-nabi-mimpi-cahaya-sebagai-tanda-bakal-lahirnya-rasulullah-saw-c2L5FBSy21.jpg Ilustrasi mimpi cahaya (Foto: Shuttestock)

Muslim di Indonesia memperingati kelahiran Rasulullah SAW lewat Maulid Nabi, yaitu acara yang diisi dengan pengajian, membaca Alquran, bersalawat, serta melantunkan puji-pujian.

Kegiatan Maulid Nabi ini tidak berlebihan. Sebab sejarah kelahiran Nabi Muhammad sudah dimulai sebelum ia lahir, yakni ketika ibunda Rasulullah yang bernama Aminah binti Wahb bermimpi tentang cahaya dari dirinya. Cahaya itu merupakan tanda bakal lahirnya Nabi besar Muhammad SAW.

 Nabi Muhammad pembawa peringatan

Aminah binti Wahb merupakan wanita Quraisy yang terbaik, baik nasab maupun kedudukannya. Ia adalah ibu yang selalu diberkahi, ibu Muhammad al-Mushtafa penutup para nabi dan rasul, pembawa risalah yang diturunkan dari langit. Ibu yang dikelilingi oleh kabar gembira karena namanya abadi selama-lamanya. Ia juga merupakan ibu yang suci nan mulia.

Seperti dikutip dari Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, Aminah adalah putri pembesar Bani Zahrah. Ibunya adalah Labirah binti Abdil "Uzza ibn Utsman ibn Abd ad-Dâr ibn Qushai ibn Kilab ibn Murrah ibn Ka b ibn Lu'ay ibn Ghâlib ibn Fihr.

Ia lahir pada pertengahan abad ke-6 M, dari keluarga yang dianggap sebagai kabilah yang paling terhormat dan memiliki keturunan termulia. Kemuliaan inilah yang dibanggakan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

"Allah terus-menerus memindahkanku dari rusuk yang baik ke rahim yang suci, terpilih, dan terdidik. Tiada jalan yang bercabang menjadi dua, kecuali aku berada di jalan yang terbaik."

Suatu ketika, dalam suasana kebahagiaan selama tiga hari, Abdullah ibn Abdul Muththalib menikahi Aminah binti Wahb, ibu sang penutup para nabi.

Pada malam pertama, Aminah terbangun di tengah malam dengan gemetar karena mimpi yang menghampirinya. Ia bercerita kepada Abdullah bahwa ia bermimpi seolah ada seberkas cahaya merekah dari dirinya yang lembut kemudian menerangi dunia di sekelilingnya.

Bahkan, ia seakan melihat istana-istana di negeri Syam. Dalam kondisi tersebut, Aminah mendengar ada suara yang berbicara kepadanya, "Sesungguhnya, engkau telah mengandung junjungan umat ini."

Aminah teringat bahwa sebelumnya seorang juru ramal dari Quraisy, Sauda' binti Zahrah al-Kilâbiyyah, pernah mengatakan kepada Bani Zahrah,

"Sungguh di antara kalian akan ada seorang pembawa peringatan," atau "Orang yang melahirkan seorang pembawa peringatan." Ketika mereka (Bani Zahrah) memperlihatkan anak-anak gadis mereka, Sauda' menunjuk kepada Aminah.

Artinya, Aminah memang akan melahirkan seorang pembawa peringatan, Nabi Muhammad SAW.

Ayah Nabi Muhammad, Abdullah melewatkan sepuluh hari bersama Aminah. Selanjutnya, ia bergabung dengan suatu kafilah yang berjalan ke utara, menuju negeri Syam.

Aminah merasa takut dan khawatir ditinggal sendirian. Namun Abdullah berusaha menenangkan istrinya sambil melepaskan diri dari kedua tangan Aminah.

Namun kegelisahan dan kekhawatiran masih mencekam dalam diri Aminah. Satu bulan setelah kepergian sang suami, Aminah merasakan dirinya sedang hamil dan mulai diliputi kerinduan kepada Abdullah.

Ia seolah ingin terbang membawa kabar gembira itu kepada Abdullah. Hari-hari terasa berjalan begitu lambat hingga saat kepulangan Abdullah pun tiba.

Aminah berdiri di dalam rumah menanti masuknya Abdullah dan menanti budak wanitanya, Ummu Aiman untuk menyampaikan kabar gembira itu.

Namun yang datang bukan kabar gembira. Justru ayah Aminah ditemani oleh Abdul Muththalib. Mereka berdua menasihati agar Aminah bersabar dan banyak berdoa karena Abdullah tertinggal bersama beberapa pamannya di Yatsrib disebabkan sakit yang ia derita.

Beberapa hari kemudian, terdengarlah kabar bahwa Abdullah telah meninggal dan dimakamkan di Yatsrib. Saat itu Abdullah masih menjadi seorang pengantin yang belum sempat melihat istrinya untuk kedua kalinya.

Umurnya ketika itu belum lebih dari delapan belas tahun. Berita duka itu pun begitu mengejutkan Aminah. Hatinya merasa sangat sedih dan berduka yang tak tertahankan atas kepergian Abdullah untuk selamanya.

Saat melahirkan pun tiba pada malam Senin bulan Rabiul Awal tahun Gajah. Saat itu Aminah hanya seorang diri yang dihimpit oleh rasa takut. Namun, Aminah merasakan ada cahaya yang menyelimuti dunianya.

Ia melihat seakan semua wanita mengelilingi tempat tidurnya. Mereka adalah putri-putri Hasyim dan beberapa di antaranya adalah Maryam binti Imran, Asiyah istri Firaun, dan Hajar ibu Ismail. Namun, kemudian ia sadar pun bahwa semuanya hanyalah bayang-bayang belaka.

Ketika fajar merekah, Aminah telah melahirkan seorang bayi suci yang diselimuti oleh cahaya dari segala arah.

Tidak lama setelah itu, Aminah mengirim bayinya yang baru lahir itu ke pedalaman perkampungan Arab untuk disusui dan selama lebih dari dua tahun, Aminah pun harus rela tidak dapat melihat sang bayi.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Ketika sang anak kembali, Aminah mulai mendidiknya dengan baik, mencurahkan segenap kasih sayang dan perhatian bagi sang anak. Sang anak tumbuh dengan cepat hingga menampakkan tanda-tanda sebagai seorang laki-laki agung, padahal baru berusia enam tahun.

Tepat di sebuah tempat antara Makkah dan Madinah, antara rumah Aminah dan makam suaminya, di tengah padang pasir serta panas yang menyengat, bertiuplah badai yang panas membakar. Aminah berjuang melawan gelombang badai pasir dan kerasnya perjalanan hingga ia mengalami kelelahan yang sangat berat.

 Padang pasir

Ia pun berhenti di tempatnya dan menyadari bahwa ajalnya telah dekat di depan mata. Aminah mendekap erat putra semata wayangnya.

Ia rangkul sang anak dengan penuh kasih sayang dan perasaan seorang ibu yang mencintai dunia di wajah anaknya yang bersih bersinar.

Air matanya bercucuran dengan deras sementara sang anak memanggil dan memberi semangat. Tiba-tiba, kedua tangan Aminah melemah dan cahaya matanya meredup.

Dengan suara terengah, Aminah berkata, "Setiap yang hidup akan mati. Setiap yang baru akan lusuh. Setiap yang besar akan fana. Aku akan mati, tetapi kenangan akan abadi karena aku telah meninggalkan sebuah kebaikan dan melahirkan kesucian."

Dalam sekejap, ibu sang pembawa risalah ini berada di antara ada dan tiada. Badai yang menerjang itu telah mereda. Datanglah maut, sepi dan tenang tanpa dikeruhkan oleh tangisan anak yang malang. Muhammad menunduk dan menghambur kepada jasad ibunya sambil memanggil-manggil. Namun, tidak ada yang ia dapat dengar selain kesunyian yang mencekam.

Hari demi hari dan tahun demi tahun berjalan begitu cepat. Sepanjang perjalanannya dalam kurun waktu 34 tahun kemudian, Aminah binti Wahb tercatat dalam daftar tokoh-tokoh abadi sepanjang masa sebagai ibu Nabi Muhammad SAW yang agung.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya