MENTERI Agama (Menag) Fachrul Razi mengaku merinding membaca kisah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan oleh Hadratusy Syaikh KH asyim Asy’ari. Hal itu ia sampaikan memperingati Hari Santri 2019 bersama anggota Muslimat NU Kabupaten Sukoharjo.
Setelah membacanya Fachrul Razi menilai jiwa santri yang tidak pernah memisahkan antara agama dan negara sesungguhnya terinspirasi dari apa yang dinyatakan dalam Resolusi Jihad tersebut.
"Dalam Resolusi Jihad itu dinyatakan: Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ‘ain (yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak)," ujarnya.
"Bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 Km dari tempat masuk dan kedudukan musuh, bagi orang-orang jang berada di luar jarak lingkaran tadi, kewadjiban itu jadi ifardlu kifayah (yang cukup kalau dikerjakan sebagian saja)," tambah Fachrul Razi sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemenag pada Senin (4/11/2019).
Fachrul Razi melanjutkan, di dalam resolusi jihad itu tercermin sikap kebangsaan dan keagamaan yang bersatu padu.
"Atas dasar dalil agama, mempertahankan NKRI merupakan bagian dari kewajiban agama. Agama membenarkan untuk memiliki semangat kebangsaan. Agama tidak pernah memisahkan perhatiannya terhadap negara. Akan tetapi, justru karena semangat agamanya itu, ia rela berkorban dan terus berkarya untuk membangun bangsa," ungkap Menag.
Oleh karena itu Fachrul Razi mengajak seluruh santri dan anak negeri ini untuk tetap merapatkan barisan, memperkuat identitas keislaman dan keindonesiaan.
"Jangan sampai tergiur dengan ajakan dan gerakan yang melemahkan keislaman dan keindonesiaan kita," pungkasnya.
Sementara itu, Hari Santri 2019 bersama anggota Muslimat NU Kabupaten Sukoharjo juga dihadiri oleh Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya, Sekretaris Ditjen Bimas Islam Tarmizi Tohor, Kakanwil Kemenag Jateng Farhani, Rektor IAIN Surakarta Mudofir, dan sejumlah ulama setempat..
(Dyah Ratna Meta Novia)