Tingkatan ketiga adalah kebahagiaan intelektual, seperti kita dapat menemukan suatu konsep, teori, dan atau penemuan yang baru, kita berpikir, membuat refleksi dan menghasilkan penelitian yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Menulis sesuatu, namun dilandasi dengan kemampuan si penulis membedakan mana kebiasaan dan corak intelektual yang baik dan yang buruk.
Tingkatan keempat, yaitu kebahagiaan moral, di mana ditandai dengan kita merasa senang ketika berbuat baik, bertawakal kepada Tuhan, beribadah kepada Allah, positive thingking (husnuzhan), sabar, bersyukur, rendah hati dan perbuatan baik lainnya.
Tingkatan kelima adalah kebahagiaan spiritual, yaitu ketika kita merasa dekat dengan Allah, cinta dan rindu kepada Nabi dan para sahabatnya, merasa zikir dengan nikmat, merasakan nikmatnya shalat malam, dan ketika lalai berbuat dosa muncul kesadaran segera bertaubat.
Kelima tingkatan ini bagi Ibnu Miskawaih kadang datang silih berganti dalam kehidupan manusia. Pun tidak bisa manusia mencapai semua tingkatan karena manusia banyak diliputi dan memiliki kekurangan-kekurangan di sana-sini, misalnya, banyak sekali apa yang tidak kita ketahui di dunia ini.