Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Saudah, Istri Rasulullah yang Bermimpi Bulan Jatuh dari Langit

Suherni , Jurnalis-Jum'at, 22 November 2019 |13:43 WIB
Mengenal Saudah, Istri Rasulullah yang Bermimpi Bulan Jatuh dari Langit
Bermimpi bulan jatuh (Foto: Dawood Bohras)
A
A
A

Kebahagiaan menyelimuti hati Saudah saat ia merasakan air mata kebahagian membasahi jiwanya. Saudah bermimpi seolah melihat bulan jatuh dari langit menimpa dirinya saat ia sedang tidur. Ia tidak mengerti apa takwil mimpi itu dan ia tidak pula berharap untuk menjadi istri Rasulullah SAW setelah dirinya lapuk dimakan usia.

Sungguh merupakan kehormatan yang tiada tara jika ia menjadi Ummul Mukminin, menjadi istri Baginda Rasulullah SAW yang mulia.

 Hijrah

Namun itulah takdirnya, Saudah menjadi istri yang baik dan suci, yang ikut hijrah dan rela berkorban demi mendapat ridha suaminya yang mulia, Rasulullah SAW.

Saudah yang bernama lengkap Saudah binti Zum’ah ibn Qais ibn Abdi Syams ibn Abdud ibn Nashr ibn Malik al-Quraisyiyah al-`Amiriyah merupakan seorang perempuan yang agung dan pandai.

Sebelum menikah dengan Rasulullah, ia pernah menikah dengan saudara sepupunya, as-Sakran ibn Amar, saudara dari Suhail ibn `Amar al-Amiri.

Saudah adalah salah seorang dari delapan orang keturunan Bani `Amir yang lari meninggalkan negeri dan harta benda mereka lalu menyebrangi ganasnya lautan hingga rela merasakan sesuatu yang lebih kejam daripada maut demi menyelamatkan agama Islam.

Mereka mendapat siksaan dan tekanan yang begitu kejam agar mau kembali ke dalam kesesatan dan kemusyrikan. Begitu penderitaan di pengasingan saat berada di bumi Habasyah berakhir, Saudah kehilangan sang suami yang hijrah bersamanya.

Ia pun merasakan pahitnya sebagai janda sesudah mengalami penderitaan hidup dalam keterasingan.

Semua sahabat Rasulullah SAW mengetahui sejauh mana kebutuhan beliau kepada seorang istri. Namun, tidak seorang pun dari mereka berani mengawali pembicaraan dengan Rasulullah yang sedang berduka karena kehilangan Khadijah tentang siapa yang akan menggantikan posisi istri pertama nan suci itu.

Lalu pada suatu malam ketika Rasulullah berada di kediaman dan mengenang hari-harinya yang damai bersama Ummul Mukminin, Sayyidah Khadijah, datanglah Khaulah binti Hakim, istri Utsman ibn Mazhnun, menemui beliau.

Rasulullah segera menyambut kedatangan Khaulah karena ia adalah salah seorang perempuan mukmin sejati yang pernah ikut dalam hijrah pertama ke tanah Habasyah bersama Utsman, suaminya.

Namun, tidak lama kemudian, Khaulah kembali ke Makkah bersama suami untuk kembali berdampingan dengan saudara-saudara sesama muslim dan menahan kesabaran bersama mereka dalam menghadapi berbagai siksaan hingga datanglah pertolongan Allah.

Khaulah melangkah mendekat sambil mengumpulkan keberanian sebelum mulai berbicara dengan santun kepada Rasulullah. Ia berkata, “Apakah engkau tidak hendak menikah wahai Rasulullah?”

Dengan nada yang masih memendam kesedihan dalam hati, beliau menjawab, “Siapakah sesudah Khadijah wahai Khaulah?”

Khaulah menyahut, “Engkau bisa memilih gadis ataukah janda.”

Rasulullah bertanya, “Siapakah yang gadis?”

Khaulah menjawab, “Ia adalah putri dari makhluk Allah yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar.”

Setelah sejenak diam, Rasulullah kembali bertanya, “Siapakah yang janda?”

Khaulah menjawab, “Ia adalah Saudah binti Zum’ah yang telah beriman kepadamu dan mengikuti agamamu.”

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement