Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wapres Ma'ruf Amin Dukung Larangan Pamerkan Kemewahan, Ini Penjelasan Ustadz Soal Pamer Harta

Novie Fauziah , Jurnalis-Sabtu, 23 November 2019 |18:20 WIB
Wapres Ma'ruf Amin Dukung Larangan Pamerkan Kemewahan, Ini Penjelasan Ustadz Soal Pamer Harta
Pamer harta (Foto: Pinterest)
A
A
A

Akhir-akhir ini dilucurkan aturan tentang larangan memamerkan harta benda di lingkungan kepolisian. Bahkan Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin mengapresiasi aturan tersebut.

Wapres Ma'ruf Amin menilai, aturan larangan memamerkan kemewahan bagi anggota Polri sudah sangat tepat. Ia juga menginginkan peraturan serupa dapat dibuat oleh instansi lainnya.

 Kiai Maruf Amin

"Ya itu bagus sekali, supaya tidak menimbulkan kecemburuan kemudian juga menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Saya kira anjuran itu bagus sekali," katanya di Kantor Wapres beberapa waktu yang lalu.

Kemudian bagaimana pandangan dan hukum di dalam Islam tentang memamerkan harta benda?

Ketua Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) Jakarta Timur, Ustadz Asroni Al Paroya mengatakan, suka pamer merupakan perbuatan riya. Pamer atau riya itu dilakukan untuk mendapatkan pengakuan orang lain padahal itu hina di mata Allah SWT.

"Sebagai hamba Allah SWT kita harus mempunyai kepekaan sosial dan ketajaman rasa, janganlah karena sifat arogansi dan kesombongan kita menjerumuskan pada posisi kehinaan dimata Allah," ujarnya saat dihubungi Okezone.

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup," (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

Riya dan kesombongan atau arogansi dalam kemewahan, terang Asroni, adalah bagian dari penyakit hati yang justru banyak sekali orang tidak merasa kalau dirinya sudah masuk wilayah ini.

"Bermewah-mewah dalam hidup dengan cara menunjukan kekayaan dan kelebihan harta justru menciptakan jurang pemisah, memicu adanya sikap iri dan dengki, hasud bahkan dendam, orang yang melihat kesombongan akan berpikir bahwa dia sedang menghina dan merendahkan martabat orang lain," paparnya.

Di dalam kitab Nahw ‘Ilmiah Nafsi, membagi penyakit hati dalam sembilan bagian, yaitu pamer (riya’), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-ya’s), rakus (tama’), terperdaya (al-ghurur), sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).

Selain itu, bermewah-mewah merupakan simbol tumpulnya kepekaan dan terkooptasi trend budaya orang lain yang jauh dari karakter umat Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, baiknya diri kita bersikap rendah hati di depan orang lain dan rendah diri di hadapan Allah SWT.

"Rasa rendah diri sejatinya memompa, memicu segala daya yang dimiliki orang untuk tampil melebihi orang yang dianggapnya lebih. Paling tidak, ada kepuasan batin diri jika tampilan bisa dianggap lebih daripada yang lain," jelasnya.

Allah melarang manusia bersikap sombong, sesuai dengan firman-Nya,

Surat Al-Furqan Ayat 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement