Mengenal Maftuh Basthul Birri, Ulama Kharismatik Pesantren Lirboyo yang Berpulang ke Rahmatullah

Abu Sahma Pane, Jurnalis · Jum'at 06 Desember 2019 13:54 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 06 614 2138719 mengenal-maftuh-basthul-birri-ulama-kharismatik-pesantren-lirboyo-yang-berpulang-ke-rahmatullah-O5IO6ZetyG.png KH Maftuh Basthul Birri. Foto: Istimewa/Pesantren Lirboyo

KELUARGA besar Pondok Pesantren Lirboyo sedang berduka. Mereka kehilangan panutannya, ulama kharismatik KH Maftuh Basthul Birri yang berpulang ke Rahmatullah pada Rabu 4 Desember 2019.

Lalu seperti apa sebenarnya sosok ulama yang dikagumi ini? KH. Maftuh Basthul Birri lahir pada 1948 M di Desa Karangwuluh, Kecamatan. Kutoarjo, Kabupaten Purworejo , Jawa Tengah. Tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan kelahirannya.

Purworejo, wilayah kediaman Maftuh Bahtsul Birri dan sekitarnya adalah daerah yang minus secara ekonomi. Masyarakatnya hanya mengandalkan hidup dari bertani padi di sawah, kecuali hanya sedikit yang menekuni pekerjaan lainnya. Dengan keadaan seperti itu, maka orangnya banyak yang merantau ke Pulau Sumatra dan Jakarta.

Kisaran mulai 1961, Maftuh Basthul Birri mondok di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Ia ikut Kiai Nawawi tujuh tahun lamanya, mulai belajar di rumah Kutoarjo sampai mondok di Pesantren Krapyak, selesai.

Kiai Nawawi-lah yang jadi permulaan permulaan ngaji Maftuh Basthul Birri sehingga ia mendapat ilmu hafal Alquran, ilmu-ilmu agama, ilmu khoth (tulis Arab indah), dan lain sebagainya termasuk yang terakhir mengaji Qiro-at Sab’ sampai khatam.

Tahun 1966-1971, lima tahun lamanya Maftuh Basthul Birri mondok di Pesantren Lirboyo Kediri. Ia menamatkan tingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadiien (MHM) Lirboyo. Dulu belum ada tingkat Aliyah dan Ma’had Aly.

Tahun 1971-1974, Tiga tahun lamanya Maftuh Basthul Birri mondok di Sarang, Lasem, Rembang, dengan mengaji kitab-kitab kuning dan memperdalam ilmu nahwu, sharaf, dan fiqih.

Tahun 1974-1975, Maftuh Basthul Birri melaksanakan ibadah haji yang pertama pada tahun tersebut. Ibundanya belum menunaikan ibadah haji, sedangkan ayahanda sudah mengerjakan, dan sebagai anak pertama, maka Maftuh Basthul Birri bisa pergi haji ini karena mengantarkan dan menjadi mahram ibu beliau.

Setelah berhaji mengantarkan ibu, Maftuh Basthul Birri tinggal di rumah beberapa bulan sambil mencari pasangan hidup. Ini terjadi pada 1975 ketika menginjak usia sekitar 27 tahun.

Pernikahan Maftuh Basthul Birri bermula dari keinginan untuk sowan selepas menunaikan ibadah haji, kepada kiainya di Pesantren Lirboyo, yaitu Kiai Marzuqi Dahlan.

Pada umumnya orang atau santri sowan itu hanya sebentar, bertemu, dibacakan doa, lalu selesai, pulang. Namun sowan Maftuh Basthul Birri kali ini tidak seperti biasanya.

Di sela sowan, Marzuqi Dahlan mengungkapkan keinginannya menjodohkan putrinya yang nomor lima yang bernama Khotimatul Khoir untuk Maftuh Basthul Birri.

Marzuqi berkata, “Tidak usah dijawab sekarang, besok saja kapan-kapan saya mau menemui orangtuamu di Kutoarjo”.

Dan ternyata beberapa bulan kemudian, Kiai Marzuqi sungguh-sungguh datang ke Kutoarjo (bersama KH. Abdul Aziz Manshur menantunya, Bahrul Ulum Marzuqi, dan Gus Akhlis), untuk bertemu dengan orang tua  Maftuh Basthul Birri. Akhirnya diputuskan pada 29 syawal akad nikah dilangsungkan di Lirboyo.

Demikian dikutip dari laman resmi Lirboyo, sebagaimana disarikan dari Buku Sepercik Air Laut Perjalanku (Otobiografi KH. Maftuh Basthul Birri).

Redaksi Okezone menerima foto atau tulisan pembaca berupa artikel tausyiah, kajian Islam, kisah Islam, cerita hijrah, kisah mualaf, event Islam, pengalaman pribadi seputar Islam, dan lain-lain yang berkaitan dengan Muslim. Dengan catatan foto atau artikel tersebut tidak pernah dimuat media lain. Jika berminat, kirim ke redaksi.okezone@mncgroup.com, cc okezone.lifestyle2017@gmail.com.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini