Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Shafiyah binti Abdul Muthalib, Bibi Rasulullah yang Ikut Berjuang di Perang Uhud

Suherni , Jurnalis-Kamis, 19 Desember 2019 |16:29 WIB
Shafiyah binti Abdul Muthalib, Bibi Rasulullah yang Ikut Berjuang di Perang Uhud
Perempuan di padang pasir (Foto: Trendland)
A
A
A

Perempuan yang suci, jujur, penuh perjuangan, mulia. Ia adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib ibn Hasyim al-Qurasyiyyah al-Hasyimiyyah. Ia merupakan bibi Rasulullah SAW, dan saudari kandung Asadullah wa Asadu Rasulilihi (Singa Allah dan Rasul-Nya), Hamzah ibn Abdul Muththalib.

Shafiyah binti Abdul Muthalib merupakan ibu dari sang sahabat besar, Zubair ibn 'Awwam. Ia tumbuh di rumah seorang pembesar Quraisy, pemilik kekuasaan, kehormatan, dan keagungan, Abdul Muthalib, yang mampu membentuk kepribadian yang kokoh pada dirinya dan memberi kedudukan mulia di tengah kaumnya. Oleh karena itu tak mengherankan jika bibi Rasulullah SAW tersebut tumbuh menjadi perempuan yang berlidah fasih, baligh, ahli qira'ah, alim, pemberani, dan kesatria.

 Ilustrasi Perang Uhud

Allah SWT menyinari hati Shafiyah dengan cahaya iman dan hidayah. Shafiyah adalah salah seorang perempuan yang paling awal masuk Islam dan mengakui kenabian Rasulullah pada masa awal dakwah Islam.

Ia pun beriman kepada Allah serta membenarkan dakwah keponakannya yang jujur dan tepercaya. la juga mendukung Rasulullah dan turut mendakwahkan agama Islam. Shafiyah memeluk Islam dengan baik hingga mendapat derajat dan kedudukan yang agung di tengah seluruh umat Islam.

Sebelum masuk Islam, Shafiyah adalah istri dari Hârits ibn Harb ibn Umayyah saudara Abu Sufyan. Al-Hârits kemudian meninggal dunia meninggalkan Shafiyah.

Setelah itu, Shafiyah dinikahi oleh al-'Awwam ibn Khuwailid. Dari pernikahannya ini, ia memiliki anak bernama Zubair, Abdul Ka'bah, dan as-Sa'ib.

Sang putra, as-Sa'ib, ikut terlibat dalam perang Badar dan Perang Khandaq bersama Rasulullah kemudian gugur menjadi syuhada dalam Perang Yamamah.

Shafiyah, bibi Rasulullah, juga termasuk salah satu di antara umat yang beriman, yang ikut melakukan perjalanan hijrah. Ketika Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah, setiap orang pun melakukan hijrah bersama keluarganya yang telah masuk Islam. Tidak ketinggalan, Shafiyah, bibi Rasulullah, juga turut hijrah bersama putranya, Zubair ibn 'Awwâm r.a.

Shafiyah dan putranya merasakan banyak gangguan disertai siksaan karena keislamannya. Dengan begitu, hijrah yang dilakukan hakekatnya merupakan rahmat dari Allah SWT untuk menyelamatkan diri dan agama dari hal-hal yang mengancam keselamatan jiwa. Di samping itu, hijrah juga merupakan sebagian dari sunah para nabi.

Shafiyah menyaksikan putranya yang disiksa dengan kejam, tetapi ia tidak mampu membela sang anak. Ketika itu Zubair digantung oleh pamannya sendiri di atas pohon untuk mengasapinya agar kembali menjadi kafir.

Namun, Zubair berkata, "Selamanya aku tidak akan pernah menjadi kafir." Sang ibu yang tulus dan penyabar ini begitu pedih melihat anaknya dalam keadaan demikian.

Shafiyah memandangi sang anak dengan penuh kasih dan simpati. Ia seakan mengatakan, "Wahai anakku, teguhkanlah dirimu dalam kebenaran dan jangan pernah kembali kepada agama nenek moyangmu!"

Melihat keteguhan dan ketabahan sang ibu yang melihat anaknya sedang disiksa itu, Zubair yang masih belia itu semakin teguh untuk memegang keyakinannya pada Islam.

Shafiyah nan suci melakukan hijrah bersama Zubair, anaknya, menuju Madinah al-Munawwarah. Setibanya di sana, mereka disambut oleh Mundzir ibn Muhammad ibn 'Uqbah, di Desa Bani Jahjaba. Ketika Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin, beliau persaudarakan Zubair ibn 'Awwam dengan Salamah ibn Salamah ibn Waqsy.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement