Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Shafiyah binti Abdul Muthalib, Bibi Rasulullah yang Ikut Berjuang di Perang Uhud

Suherni , Jurnalis-Kamis, 19 Desember 2019 |16:29 WIB
Shafiyah binti Abdul Muthalib, Bibi Rasulullah yang Ikut Berjuang di Perang Uhud
Perempuan di padang pasir (Foto: Trendland)
A
A
A

Tentang dirinya sendiri, Shafiyah sang wanita pejuang berjiwa kesatria ini mengatakan, "Aku adalah wanita pertama yang membunuh laki-laki." Peristiwa itu adalah saat Rasulullah pergi menuju Khandaq (parit), beliau posisikan para wanita dan anak-anak yang bergabung dalam perang tersebut di dalam sebuah benteng tinggi yang disebut dengan Fari'. Bersama mereka, beliau posisikan penyair Rasulullah, Hassan ibn Tsabit, yang usianya sudah hampir enam puluh tahun.

Di tengah laskar para perempuan itu, menyelinaplah seorang laki-laki Yahudi yang jahat. Ia berusaha untuk melecehkan para perempuan tersebut.

Ia kelilingi benteng sementara para laki-laki muslim sedang berhadapan dengan musuh. Shafiyah bangkit dan mengatakan kepada Hassan, "Laki-laki Yahudi itu berusaha melihat aurat kami maka bangkitlah dan bunuhlah ia!"

Hassan ibn Tsabit menjawab, "Andai aku mampu melakukan itu, aku pasti bersama Rasulullah. Semoga Allah mengampunimu wahai Shafiyah. Engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang mampu untuk melakukan itu."

Begitu mendengar jawaban Hassan ibn Tsabit, Shafiyah bangkit dengan gemetar. Semangat pun bergelora dalam jiwanya. Ia berdiri dan mengambil sebuah tongkat keras lalu turun dari benteng. Shafiyah menanti kelengahan laki-laki Yahudi tersebut. Tatkala mendapatkan celah itu, ia lancarkan serangan dengan memukul kepala Yahudi itu berkali-kali sampai mati.

Shafiyah kembali ke benteng dengan kebahagiaan yang memancar dari kedua matanya karena telah mampu menghabisi musuh Allah dan berhasil melindungi aurat kaum muslimah dari kejahatan.

Dalam peristiwa Perang Khaibar, sekali lagi Shafiyah sang pejuang itu berjuang bersama para wanita mukminah untuk membantu para pahlawan Islam. Para wanita itu mengambil tempat di medan perang untuk melakukan pengobatan terhadap para prajurit yang sakit atau terluka, serta menyiapkan makanan dan senjata untuk para pejuang.

Shafiyah ash-Shafiyah sangat mencintai Islam dan sangat bersemangat untuk meluhurkan kalimat Allah. Ia juga sangat mencintai keponakannya, Muhammad SAW sejak masa kecil.

Shafiyah sangat menyayangi Rasulullah dan sangat mengagumi beliau saat menjadi remaja. Karena itu, ketika Rasulullah menyampaikan dakwah Islam, Shafiyah langsung percaya dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai nabi.

Ia selalu mendukung Rasulullah saat berperang. Oleh sebab itu, saat Rasulullah wafat, Shafiyah sangat berduka dan menangisnya dengan tangisan getir. Shafiyah meratapi beliau dalam sebuah gubahan syairnya yang indah. Ia melantunkan,

Wahai mata, limpahkan air mata dan duka

Ratapilah manusia terbaik yang wafat dan pergi

Ratapilah al-Mushtafa dengan duka mendalam

Bingungkan hati laksana yang dituju

Aku hampir kehilangan hidup ketika datang

Takdir yang ditentukan pada keagungannya

Beliau sangat penyayang kepada hamba

Kasih sayang dan petunjuk yang terbaik

Semoga Allah meridhai hidup dan matinya

Semoga membalasnya dengan surga pada hari abadi

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement