Kisah Mualaf, Diplomat Jerman Masuk Islam Gara-Gara Ditugaskan di Aljazair

Annisa Ratna Setiawati, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 20 614 2155363 kisah-mualaf-diplomat-jerman-masuk-islam-gara-gara-ditugaskan-di-aljazair-J69HN6S5qO.jpg Perjalanan ke Aljazair (Foto: Global Risk)

Dalam bukunya Journey to Islam yang ditulis dalam bahasa Inggris, seorang mualaf asal Jerman Dr Murad Hofmann berkisah mengenai perjalanannya menemukan Islam.

Selain Inggris dan Jerman, buku Journey to Islam karya mualaf Jerman itu sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Arab.

 Hofmann

Dilansir dari About Islam, Kamis (16/01/2020), Dr Murad Hofmann mengatakan terdapat tiga hal faktor yang mendorongnya masuk Islam. Faktor pertama, ketika ia menjadi seorang diplomat Jerman di Aljazair pada tahun 1962 saat perang kemerdekaan Aljazair.

Prancis kala itu telah membuat perjanjian dengan warga Aljazair, jika mereka mengadakan gencatan senjata selama enam bulan, maka mereka akan diberikan kedaulatan.

Namun, rupanya orang-orang Prancis di sana sangat keras dan berusaha memprovokasi masyarakat Aljazair hingga timbullah perlawanan.

"Saat berada di Aljazair, saya sangat tertarik dengan tingkat kedisiplinan warga di sana. Saya diminta membaca Alquran untuk menyaksikan apa yang telah memberi kekuatan kepada mereka, dan mereka membaca Alquran," ujar Hofmann.

"Dalam pikiran saya, saya sudah masuk Islam namun belum secara resmi. Saat itulah saya meninggalkan semua ideologi agama saya sebelumnya," tambahnya.

Faktor kedua yang mendorongnya masuk Islam adalah seni Islam. "Sebelumnya, saya seorang kritikus balet dan melakukan hampir 50 kali setahun untuk menonton dan mengkritik pertunjukan balet. Sebagai kritikus, tentu harus mempunyai standar. Namun itu membuat saya bosan, hingga akhirnya saya melihat seni Islam."

"Seni Islam menyentuh saya dengan cara yang tidak biasa dibandingkan seni lain menyentuh saya," ungkap Hofmann.

Faktor ketiga adalah filsafat. Hofmann tidak belajar menjadi filsuf tetapi jika ada waktu ia membaca buku-buku filsafat. Diketahui, beberapa filsuf terbesar sepanjang masa adalah seorang muslim. "Saya kesal, karena tidak mengenal mereka sebelumnya," jelasnya.

Pada tahun 1980, Kantor Luar Negeri Jerman menyelenggarakan presentasi komprehensif tentang Islam untuk mengajar para diplomat yang akan ditempatkan di berbagai negara Islam.

Saat itu juga bertepatan dengan ulang tahun putra Hofmann. Ia mengatakan, ia akan memberikan sesuatu yang berharga. Ternyata ia menuliskan tentang pertemuannya dengan Islam, hingga menjadi 14 halaman.

Imam dari Dusseldorf adalah gurunya belajar Islam. Hofmann lalu ditanya apakah ia mempercayai apa yang ia tulis, jika percaya maka ia adalah seorang muslim.

Lalu Hofmann percaya dan mengakui dirinya seorang muslim. Ia segera memberitahu Kementerian Luar Negeri Jerman bahwa ia kini adalah seorang muslim sehingga hanya dikirim ke negara-negara mayoritas muslim untuk bertugas.

Hofmann juga menulis buku The Diary of German Muslim, dan hingga saat ini ia telah menulis lebih dari 13 buku dan lebih dari 250 ulasan buku tentang Islam. Beliau juga telah melakukan haji dua kali dan umrah lima kali.

Namun belum lama ini, Hofmann yang dikenal sebagai pemikir muslim meninggal dunia 13 Janurai lalu pada usia 88 tahun setelah berjuang melawan penyakit.

Hofmann mewariskan pemikirannya tentang Islam, termasuk meninggalkan buku berjudul Journey to Makkah and Islam: The Alternative.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini