Mudik yang Sejati

Kamis 30 April 2020 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 29 330 2206669 mudik-yang-sejati-IpV6qaX3Ww.jpg

Ramadan adalah bulan pengampunan. Allah mengampuni segala dosa selain syirik (QS. An-Nisa/4: 48). Dosa menjauhkan manusia dari Allah. Taubat mendekatkan kembali manusia kepada-Nya. Sebesar apapun dosa manusia, dia tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya (Az-Zumar/39: 53).

Allah terjaga dan tidak pernah tidur. Dia menunggu manusia tersungkur, merintih memohon ampunan-Nya. Setiap saat didurhakai manusia, Allah tidak berhenti bersifat Rahmân-Rahîm. Kasih sayang-Nya lebih besar dan mendahului murka-Nya (QS. al-An’âm/6: 54; QS. al-A’râf/7: 156).

Jika manusia mendekati Allah sejangkal, Dia akan mendekatinya sehasta. Jika manusia mendekati Allah sehasta, Dia akan mendekatinya sedepa. Jika manusia mendekati Allah berjalan, Dia akan menyongsongnya berlari (HR. Bukhârî-Muslim).

Setiap saat Allah membentangkan pintu ampunan. Dari satu salat ke salat lain melebur dosa. Dari satu Jum’at ke Jum’at lain melebur dosa. Dari satu Ramadan ke Ramadan lain melebur dosa, jika menjauhi dosa besar (HR. Muslim). Ramadan istimewa karena pengampunan Allah lebih intensif. Dia membuka lebar-lebar pintu taubat. Maka celakalah orang yang masuk dan melewati Ramadan, tetapi tidak diampuni dosanya (HR. Tirmidzî).

(Baca Juga: Hidayah di Bulan Ramadhan, Aktris Cantik Ini Resmi Jadi Mualaf)

Ramadan tahun ini istimewa karena tidak biasa: tanpa syiar, tanpa bazar, tanpa ritual mudik kolosal. Kita jalani Ramadan tahun ini di bilik-bilik kesunyian. Inilah pelajaran terbesar dari Ramadan tahun ini di tengah wabah Covid-19.

Pada akhirnya hanya kita dan Allah. Kita tersungkur di hadapan kuasa-Nya, tidak berdaya. Inilah kesempatan emas untuk merunduk melepas congkak. Pada akhirnya kita adalah butiran debu. Kita mulia karena dimuliakan Allah. Kita berdaya karena diberi daya oleh Allah. Keangkuhan manusia leleh sekejap oleh makhluk Allah tak kasat mata, oleh virus yang belum ditemukan obatnya.

Ramadan tahun ini adalah kesempatan terbaik untuk kembali kepada-Nya. Allah tidak kita sapa melalui pintu-pintu masjid, toa pengeras suara bilal, dan mimbar-mimbar penceramah agama. Allah kita sapa dalam keheningan, dalam kelemahan dan rintihan ketidakberdayaan. Rumah-Nya bukan hanya masjid. Hati kita adalah rumah-Nya. Dia bersemayam di kesunyian hati manusia. Dia lebih dekat daripada urat leher manusia (QS. Qâf/50: 16).

Covid-19 adalah cara Allah mengajari kita untuk puasa hakikat. Bukan hanya kerongkongan, perut, dan kelamin kita yang puasa. Mulut kita juga, seperti puasanya Maryam (QS. Maryam/19: 26). Kaki dan tangan kita juga. Telinga kita juga. Seluruh jasad kita dirohanikan untuk kembali kepada-Nya dengan menjauhi maksiat. Di bilik rumah kita yang sunyi, kita punya kesempatan untuk memunggungi dunia dan segala pesonanya.

Jika kita menutup jasad kita dari dunia, Allah akan menyingkap kalbu kita dengan cahaya-Nya. Jika kita istirahatkan mata, telinga, mulut, perut, kaki, dan tangan kita dari dunia, Allah akan menyibukkan hati kita bersama-Nya.

Jika kita kunci mulut dengan membatasi bicara dengan makhluk, Allah akan membimbing percakapan agung dengan Kalam-Nya. Kita akan dijamu oleh Allah sebagai tamu-Nya di keheningan malam. Kita akan dibimbing untuk ridha atas semua ketetapan-Nya. Kita akan ditolong untuk bergembira atas takdir-Nya.

(Baca Juga : Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Bakal Segera Dibuka)

Sebesar apa pun kesulitan hidup yang sedang kita alami, Allah menjanjikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa. Dia akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak terduga-duga. Siapa yang berserah diri kepada Allah, Dia akan mencukupi kebutuhannya dan membereskan urusannya (QS. At-Thalâq/65: 2-3).

Ramadan tahun ini istimewa. Kita punya cukup waktu di rumah untuk taubat: berdzikir, tafakkur, dan bercakap-cakap dengan Kalam-Nya. Kita lebih banyak bekal untuk menyiapkan mudik akbar.

Kita ini penduduk surga yang terlempar ke bumi, berkalang tanah, bergelut lumpur. Setiap malam Tuhan turun ke langit dunia, merentangkan tangan-Nya, memanggil manusia lari ke haribaan-Nya untuk menghapus noda. Tidak ada dosa kecil di hadapan keadilan-Nya, tidak ada dosa besar di hadapan kasih sayang-Nya. Tuhan tidak pernah bosan menunggu makhluk-Nya kembali, mendaki surga tempat asal-usulnya berasal.

Ramadan sunyi, saat istimewa untuk kembali. Selamat menikmati perjamuan suci, untuk menyongsong mudik yang sejati.

Mudik Sejati

Oleh : M. Kholid Syeirazi, Sekretaris Umum PP ISNU

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya