Share

Kisah Rohani Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai yang Memutus Silaturahmi

Minggu 24 Mei 2020 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 22 330 2218117 kisah-rohani-kiai-hasyim-asy-ari-dan-kiai-yang-memutus-silaturahmi-JH6G9VysCA.jpg KH Hasyim Asy'ari (Foto: NU Online)

Hadratussyeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disebut Kiai Hasyim) pernah bercerita tentang pengalamannya yang cukup menarik di salah satu kitabnya yang berjudul al-Tibyānfī al-Nahy ‘an Muqātha’ah al-Arhāmwa al-Aqāribwa al-Ikhwān.

Suatu ketika, Kiai Hasyim melihat seorang kiai yang hidup semasanya amat rajin beribadah. Saat malam kiai itu senantiasa melaksanakan sholat tahajud dan saat pagi menjalankan puasa.

Ia tidak berbicara kecuali sekadarnya saja. Ia juga telah melaksanakan haji berkali-kali. Ia pun sampai menjadi guru tarekat yang dihormati.

Di suatu harinya, ia menjauhi manusia, hanya tinggal di dalam rumah—padahal keadaan normal tidak ada wabah atau pandemi. Ia tidak keluar rumah kecuali sholat jamaah, mengajarkan tata cara zikir kepada masyarakat.

Suatu hari, ia keluar untuk melaksanakan sholat Jumat. Ketika sampai ke masjid, ia marah kepada para jamaah serta berkata dengan kata-kata yang tak pantas. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumah.

Di hari lain, pernah seorang menteri mendatanginya di rumahnya untuk minta doa agar hidupnya tenang. Lalu sang menteri memberinya uang. Ia menerima pemberiannya itu. Ia pun mendoakannya, sang menteri diterima dengan lembut dan lapang dada.

Setelah sekian hari, Kiai Hasyim mendatanginya di rumahnya. Kiai Hasyim berdiri lama menunggu di depan pintu. Dipanggil berkali-kali tidak ada sahutan. Lalu datanglah istinya dari balik pintu.

Sang istri berkata, “Sesungguhnya, saudaramu tidak ingin keluar dari tempat duduknya untuk menemui seorang pun”.

Kiai Hasyim berpesan kepada sang istri kiai, “Kabarkan kepadanya, bahwa saudaramu, Muhammad Hasyim Asy’ari ingin menghadapnya, keluarlah. Jika tidak keluar maka aku akan masuk sendiri, dan mengajaknya keluar dengan paksa”.

Kemudian sang istri mengabarkannya. Tiba-tiba kiai itu keluar dan menerima kedatangan Kiai Hasyim. Kiai Hasyim berkata, “Wahai saudaraku, telah sampai berita kepadaku bahwa engkau begini dan begitu. Apa yang terjadi padamu?”

Sang kiai menjawab, “Sesungguhnya aku melihat manusia tidak dengan fisik aslinya, aku melihat mereka seperti kera!” 

Mendengar itu, Kiai Hasyim menasihati, “Tampaknya setan telah menyihir kedua matamu, dan mengganggu hatimu. Setan berkata, ‘Tinggallah di dalam rumahmu, dan jangan keluar dari rumah agar masyarakat meyakini bahwa kamu adalah kekasih (wali) Allah. Mereka supaya bermaksud mengunjungimu, mencari berkah, dan meminta petunjuk darimu’. Renungkanlah wahai saudaraku, dan insaflah. ”

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Kemudian Kiai Hasyim melafadzkan sebuah hadits, “Sungguh telah bersabda Rasulullah SAW kepada Sayidina Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash RA, Dan sesungguhnya bagi tamumu adalah hak atasmu. Rasulullah SAW juga bersabda, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tamunya.”

Setelah beberapa hari berlalu, kiai itu datang menemui Kiai Hasyim di Tebuireng. Ia pun berkata, “Benar kamu, wahai saudaraku. Kini aku sudah meninggalkan untuk mengasingkan diri dari manusia, aku berbuat sebagaimana umumnya manusia.”Kiai itu insaf dan bersosialisasi sedia kala hingga ajal menjemputnya. Semoga Allah merahmatinya.

Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kisah nyata yang dialami Pendiri NU ini. Minimal kita senantiasa menjaga tali silaturahmi antar-sesama. Dengan demikian kita masih menganggap orang lain penting, dan tidak sombong dengan diri sendiri.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, silaturahmi bisa diartikan dengan banyak hal. Seperti menegur sapa teman dan keluarga melalui media sosial, merespons mereka, dan membalas pesan-pesan yang masuk, juga mengirim kartu ucapan atau apa saja jika memungkinkan.

Silaturahmi yang baik akan mendatangkan banyak kebaikan. Selamat Idul Fitri, semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita kepada hidayah-Nya dan kita semua dalam keadaan sehat nun suci lahir batin. Amin

Oleh: Fathurrochman Karyadi

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, bergiat di Lingkar Filologi Ciputat (LFC), dan Anggota Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini