Seni Hidup Kurang Lebih

Minggu 24 Mei 2020 06:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 23 330 2218646 seni-hidup-kurang-lebih-7oH71EMDsr.jpg

Ada seorang kawan. Dulunya ia bekerja di perusahaan swasta dan duduk di posisi yang lumayan. Meski begitu, ia sering membayangkan betapa enaknya hidup seorang PNS. Bayangan di kepalanya itu mungkin tercipta dari kesan yang selama ini terbangun dalam masyarakat kita: Hidup PNS itu tenang, gajinya cukup, masa depannya terjamin, dan tidak ada ancaman PHK.

Ketika ada tes CPNS beberapa tahun lalu, kawan itu ikut tes. Ia lulus dan setahun kemudian diangkat jadi PNS. Seiring berjalannya waktu, kawan saya itu mulai menyadari bahwa antara bayangan dan kenyataan yang ia rasakan rupanya jauh berbeda.

Benar barangkali kalau masa depan PNS terjamin dengan uang pensiun dan tak pernah ada ancaman PHK, tapi dalam hal gaji, ia merasa kurang. Kurang sekali. Berbeda jauh penghasilan bulanannya dengan saat ia dulu bekerja di perusahaan swasta.

Ia pernah bertanya pada saya, “Bagaimana caranya agar kita bisa menerima gaji PNS yang begitu kecil ini tanpa mengeluh?” Saya pun menjawab, “Ya diterima sajalah.” Kawan saya itu nampak tak puas dengan jawaban semacam itu. Saya tak punya jawaban lain. Sebab, saya sendiri tak pernah menjadi karyawan di perusahaan swasta. Otomatis saya tak punya pengalaman untuk membanding-bandingkan gaji.

Selain itu, saya juga generasi ke-3 PNS di keluarga. Kakek saya PNS, Ayah saya PNS, dan saya kini pun bekerja sebagai PNS. Sejak dulu saya mafhum saja bahwa hidup PNS itu ya gajinya kecil, tapi dalam kasus saya, masuk PNS itu memang tidak ditujukan untuk mencari gaji besar atau hidup tenang, tapi untuk mengabdi.

Akan tetapi pertanyaan kawan itu terngiang-ngiang juga di telinga saya. Sebab, ternyata banyak juga kawan lain bertanya perihal yang sama. Bahkan tidak hanya kawan-kawan PNS, banyak pula rekan karyawan swasta yang bertanya soal itu saat berjumpa dengan saya. Saya pun jadi penasaran apa jawaban yang kira-kira bisa melegakan hati kawan-kawan saya itu.

Oleh karenanya, setiap saya bertemu dengan PNS senior maupun pensiunan yang sudah banyak makan asam garam pengalaman hidup, saya selalu menyampaikan pertanyaan itu. Berharap ada jawaban yang bisa jadi semacam obat penenang bagi mereka yang terus gelisah soal pendapatan.

Dari sekian banyak orang yang saya tanya, ada satu yang jawabannya membekas dan kiranya cukup melegakan. “Kalau mau bahagia jadi PNS, maka harus paham seni hidup kurang lebih,” ujar seorang PNS senior pada saya suatu hari.

Ia lalu menjelaskan bahwa seringkali kita tidak adil dalam berpikir. Kita manusia ini lebih sering memikirkan bagaimana sikap kita dalam menyikapi kekurangan saja. Jarang sekali ada dari kita ini yang mengajukan tanya pada diri sendiri: Apa yang akan kita lakukan saat kita dapat rezeki berlebih?

“Di situ letaknya, Mas. Seni hidup kurang lebih itu maksudnya bisa menerima ketika dalam kekurangan, dan dapat memberi ketika ada kelebihan,” pungkas PNS senior itu. Jawaban itu sederhana namun mengena. Singkat tapi melekat.

Jawaban itu membuat saya teringat firman Allah SWT, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." (QS. Al-Ma’arij: 19). Disadari maupun tidak, mengeluh dalam kesulitan dan kikir saat punya kelebihan harta adalah sifat dasar manusia. Dalam bulan Ramadhan ini kita berlatih keras untuk keluar dari dua sifat dasar itu.

Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, di bulan ini kita sejatinya sedang berlatih menahan diri sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Keluh kesah perlahan kita coba ganti dengan syukur. Di bulan ini kita juga mengeluarkan zakat fitrah dan dianjurkan untuk lebih banyak bersedekah. Zakat dan sedekah insya Allah akan melatih kita untuk pelan-pelan melupakan sifat kikir.

Selain dua sifat dasar itu, seringkali sebab kita merasa kekurangan adalah karena kita ini suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain dalam urusan dunia. Padahal Rasulullah SAW pernah bersabda, “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam urusan dunia sebaiknya memang kita belajar untuk lebih sering melihat ke bawah, dan untuk urusan akhirat kita sebaiknya lebih banyak memandang ke atas. Dengan kata lain: Bersyukur atas nikmat dunia, dan berlomba-lomba mencapai nikmat akhirat.

Sekarang ini, jika ada kawan yang bertanya pada saya, “Bagaimana caranya agar kita bisa menerima gaji PNS yang begitu kecil ini tanpa mengeluh?” Maka saya sudah punya jawaban yang lumayan singkat dan mudah-mudahan melegakan, “Belajarlah soal seni hidup kurang lebih. Maksudnya, ketika dalam kekurangan bisa menerima, dan saat sedang ada kelebihan dapat memberi.”

Kalau itu juga dirasa belum terlalu singkat, maka paling singkatnya begini: Kalau kurang, terima. Kalau lebih, kasih. Kurang lebih begitu. Terima kasih.

Oleh: Ustadz H Azwar Aswin

Pengelola Penelitian LAN RI; anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini