Tanda-Tanda Orang Diterima Puasanya oleh Allah SWT

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Minggu 24 Mei 2020 00:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 23 614 2218561 tanda-tanda-orang-diterima-puasanya-oleh-allah-swt-SHQpFQONzP.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SUDAH menjadi hak Allah SWT untuk memutuskan apakah amalan ibadah para hamba-Nya selama bulan Ramadhan diterima atau tidak. Semua kembali kepada-Nya yang maha berhak mengambil keputusan.

Namun sebenarnya, kita bisa merasakan sendiri perubahan yang terjadi dalam diri kita, apakah ibadah kita termasuk bagian dari ibadah yang diterima atau tidak. Sebab refleksi dari perubahan kita setelah Ramadhan adalah salah satu indikasi seperti apa ibadah kita selama Ramadhan.

Dikatakan Ustadz Ainul Yaqin, totalitas ibadah dan keikhlasan akan menjadi atsar atau bekas atau jejak tersendiri setelah Ramadhan berlalu. Syaikh Ibnu Athaillah pernah berkata:

من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول

"Siapa yang segera memetik buah dari amalnya, maka itu menunjukkan amalnya telah diterima."

Baca juga: Khutbah Sholat Id: Idul Fitri dan Kebangkitan Melawan Covid-19

"Indikator seseorang hamba yang diterima atau tidak ibadah puasanya bisa dilihat dari efek kehidupan sehari-hari dalam ibadah selanjutnya, apakah meningkat dan semakin istiqomah ibadah, atau malah semakin jauh dari Allah SWT," katanya saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Ilustrasi

Nah, berikut tanda-tanda orang yang ibadah puasa Ramadhan-nya diterima Allah SWT:

Pertama, seseorang tersebut akan semakin istiqomah ibadah, tidak pernah bergeser sedikit pun di jalan Allah SWT.

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya : "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berlanjut walaupun itu sedikit." (HR. Muslim).

Baca juga: Arab Saudi Izinkan Takbiran, Tapi Larang Sholat Id di Masjid

Kedua, bertambahnya kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari, isinya hal-hal baik saja, ibadah baik, ekonomi baik, silaturahim juga baik. Begitu juga hubungan sosialnya.

Ketiga, seseorang tersebut akan menjauhi kemaksiatan, membenci perbuatan maksiat, dan berusaha menjadi insan yang kamil.

Keempat, totalitas dalam hijrah menuju kebaikan, tidak pernah menoleh ke belakang ke kehidupan yang kelam, konsentrasi masa depan semata-mata untuk ridha Allah SWT.

Kelima, sikap dan mental lebih terkendali. Hal ini dapat tercermin dari cara bicara, akhlak, semakin mencintai sesama Muslim, hatinya selalu ada di masjid, dan apa yang ia lakukan membuat siapapun merasa tenteram.

Keenam, jika dia dulunya ahli maksiat, maka dia akan taubatan nasuha. Selain itu, akhlak dia akan semakin baik dan merindukan berkumpul dengan orang baik (shalih).

Ketujuh, kuat memegang tali Allah, mengimplementasikan Alquran dan Hadits dalam kehidupan sehari-hari.

Kedelapan, kualitas dan kuantitas ibadah semakin bertambah seperti sholatnya, puasanya, zakatnya, sedekahnya, dan ibadah lainnya. Semuanya kokoh dan kuat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini