4 Cara Mempertahankan Semangat Ibadah Usai Ramadhan

Selasa 26 Mei 2020 13:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 26 616 2219694 4-cara-mempertahankan-semangat-ibadah-usai-ramadhan-10nCD0ARa4.jpg Ilustrasi ibadah sholat. (Foto: Dok Okezone)

KAUM Muslimin baru saja melalui bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah. Kini umat Islam berada di bulan Syawal yang bisa menjadi pembuktian apakah ibadah Ramadhan berhasil atau tidak.

Mampukah umat menambah pelaksanaan ibadah puasa di bulan Syawal ini? Pasalnya jika tercapai, bisa jadi kehidupan Muslim tersebut akan menjadi lebih baik.

Selanjutnya tradisi selama Ramadhan baiknya dilanjutkan pada hari-hari berikutnya. Ada banyak faedah jika mengisi waktu yang tersedia dengan beragam ibadah dan amal salih.

Oleh karena itu, sepatutnya umat Islam tetap membiasakan diri menjalani semangat Ramadhan pasca-Hari Kemenangan. Berikut ini tips mempertahankan semangat ibadah usai bulan suci Ramadhan, seperti dikutip dari Sindonews, Selasa (26/5/2020):

1. Tetap jadi pencinta kebaikan

Ramadhan adalah bulan orang berlomba-lomba melakukan kebaikan. Banyak orang kesulitan secara ekonomi, tapi kala Ramadhan tiba, mereka tetap bisa makan, bisa tersenyum, dan bisa terbantu.

Tidak lain karena orang banyak yang berlomba mengamalkan perintah sedekah. Mereka yang berada tetap bersedekah walau jumlahnya menurun dari sisi nominal, namun semangat itu tak pernah padam.

Di sisi lain, umat Islam bisa bersama-sama menyaksikan bagaimana orang berlomba-lomba menjalankan Sholat tarawih, Sholat Tahajud sepanjang Ramadhan.

Jadi jangan sampai semangat berlomba dalam kebaikan itu berhenti atau bahkan mundur. Tetapkan berlomba-lomba dalam kebaikan.

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُونُواْ يَأْتِ بِكُمُ اللّهُ جَمِيعاً إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan." (QS Al Baqarah: 148).

2. Tetap bersama Alquran

Jika pada Ramadhan bisa khatam Alquran sekali bahkan hingga tiga atau empat kali, maka pada hari-hari biasa hal yang sama bisa dilakukan.

Bahkan, mereka yang tidak sanggup mengkhatamkan Alquran ketika Ramadhan sekalipun, bukan berarti harus rendah diri lantas berpikir tidak mau menyentuh kalamullah itu. Justru harus dibangkitkan semangat tersebut.

Sungguh Alquran itu pada hakikatnya adalah kitab yang selain harus dibaca, sejatinya ditekankan untuk bagaimana dipahami kemudian diamalkan. Sebagian ulama menegaskan mengenai hal ini.

نزل القرآن ليعمل به فاتخذوا تلاوته عملا

"Alquran itu diturunkan untuk diamalkan. Oleh karenanya, bacalah Alquran untuk diamalkan."

Kemudian Abdurrahman As-Sulami menggambarkan bagaimana sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bermesraan dengan Alquran.

حدثنا الذين كانوا يقرئوننا القرآن، كعثمان بن عفان وعبد الله بن مسعود وغيرهما أنهم كانوا إذا تعلَّموا من النبي -صلى الله عليه وسلم- عشر آيات لم يجاوزوها حتى يتعلموا ما فيها من العلم والعمل، قالوا: فتعلمنا القرآن والعلم والعمل جميعًا

"Telah menceritakan kepada kami orang-orang yang mengajarkan kepada kami Alquran, seperti Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dan selain keduanya bahwa ketika mereka belajar 10 ayat (Alquran) dari Nabi, mereka tidak menambah atau melewatinya hingga belajar ilmu dan amal di dalamnya. Mereka (para guru kami) bertutur, 'Kami (dulu) belajar Alquran beserta ilmu dan amal sekaligus."

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

3. Tetap mengejar takwa

Di luar Ramadhan, justru target takwa semakin harus dikejar, karena situasinya kian sulit. Termasuk menjaga lisan dan pandangan.

Allah Subhanahu wa ta'ala berpesan kepada kita bahwa takwa itu harus diraih dan diupayakan dengan sebenar-benarnya hingga ajal tiba. Dengan kata lain, di luar Ramadhan, takwa harus semakin ditingkatkan, dan diupayakan sebaik-baiknya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS Ali Imran: 102).

4. Memperbanyak puasa sunah

Puasa merupakan salah satu amalan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah menjanjikan keutamaan dan manfaat yang besar bagi yang mengamalkannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إلا الصِيَامَ. فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ. فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَصْخَبْ وَلا يَجْهَلْ. فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ – مَرَّتَيْنِ – وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ. لَخَلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ المِسْك. وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ. وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

"Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, puasa adalah perisai, maka apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah ia berkata-kata keji, dan janganlah berteriak-teriak, dan janganlah berperilaku dengan perilakunya orang-orang jahil, apabila seseorang mencelanya atau menzaliminya maka hendaknya ia mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa (dua kali), demi Yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat dari wangi kesturi, dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengan keduanya, yakni ketika ia berbuka ia berbahagia dengan buka puasanya dan ketika berjumpa dengan Rabbnya ia berbahagia dengan puasanya." (HR Bukhari, Muslim, dan yang lainnya)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لا يَصُوْمُ عَبْدٌ يَوْمًا فِي سَبِيْلِ الله. إلا بَاعَدَ اللهُ، بِذَلِكَ اليَوْمِ، وَجْهَهُ عَنِ النَارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً.

"Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka (dengan puasa itu) sejauh 70 tahun jarak perjalanan." (HR Bukhari Muslim dan yang lainnya)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini
Adzan Shubuh Adzan Dzuhur Adzan Ashr Adzan Maghrib Adzan Isya